Ramadhan segera datang……Bersukacitalah……Menyambut
puasa, bulan penuh kurnia….…Puasa ayo puasa…..Allah sayangi kita…….Suci lahir
serta batin……Terbukalah pintu surga…..Demikian syair lagu Ramadhan yang
diciptakan oleh AT Mahmud, pengarang lagu anak-anak yang terkenal dengan
syair-syairnya yang mendidik…
Syair lagu di atas memang sesuai dengan
perasaan dalam hati kita. Ramadhan adalah tamu agung yang dinantikan oleh
setiap orang. Tak peduli tua muda, laki-laki perempuan, semuanya bersuka cita
sambut Ramadhan. Walau rasa itu sama, terkadang gaya menyambutnya berbeda-beda. Ada
yang sekedar gembira karena melihat momen Romadhon dari sisi manfaat belaka.
Namun ada juga menyambut Ramadhan dengan harap-harap cemas. Berharap agar Ramadhan
dan keutamaannya segera datang disertai berbagai persiapan matang dalam
menyambutnya. Bercampur aduk juga dengan perasaan khawatir, kalau-kalau usia
tak sampai untuk menggapainya. Betapa banyak orang yang telah mendahului kita,
tak sempat menikmati Romadhan karena ajal telah lebih dahulu sampai mendahului
datangnya Ramadhan. Oleh karena itu, banyak-banyaklah berdoa dengan doa yang
diajarkan Rosulullah : “Allaahumma baariklanaa fii Rojaba wa Sya’bana, wa
ballighna Romadhoona…aamiin.(“Wahai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan
Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan..aamiin”). Doa ini tidak lain
adalah sebagai bentuk kepasrahan luar biar seorang hamba di hadapan al Kholiq
akan takdirnya dan secercah harapan agar Dia mempertemukan dengan Ramadhan. Bahkan
setelah bertemu dengan Ramadhan pun,
seorang hamba yang mengetahui hakekat Ramadhan berharap agar Ramadhan
dapat berlangsung terus sepanjang tahun.
Rasulullah sedemikian indah menggambarkan ini dalam hadistnya,
“Sekiranya manusia mengetahui kebaikan-kebaikan yang dikandung bulan Ramadhan,
tentulah mereka mengharapkan agar Ramadhan berlangsung terus sepanjang tahun..”(HR
Ibnu Abdi adDunya).
Rasulullah tentu tidak akan
menyampaikan doa tersebut kepada kita, seandainya tidak ada keutamaan-keutamaan
bulan Ramadhan, diantaranya :
1. Bulan
Ramadhan adalah bulan terjadinya perang Badar al Kubro. Perang ini terjadi pada
tahun kedua Hijriyah. Saat itu pasukan
Rasulullah SAW hanya berkisar 305 orang.
Sementara pasukan Quraisy berjumlah 3 kali lipat dari pasukan kaum
Muslimin. Walaupun dalam keadaan lapar
dan dahaga, pasukan umat Islam berhasil memenangkan peperangan dengan
pertolongan dari Allah dengan pasukan Malaikat yang datang
berbondong-bondong…Maa syaa Allah. Pada
bulan Ramadhan pula, kaum Muslimin berhasil menaklukkan kota Makkah. Ka’bah dan
sekitarnya dibersihkan dari berbagai kemusyrikan. Kaum Muslimin melepas kerinduan mereka dengan
keluarga yang ditinggalkan selepas hijrah ke Madinah. Setelah Futuh Makkah, kekuasaan Rasulullah
dengan berkah Ramadhan semakin bertambah luas hingga mencapai batas-batas
Jazirah Arab. Dengan berkah Ramadhan, kekuatan dan kewibawaan kaum Muslimin
semakin tak tertandingi. Selain itu
beberapa peristiwa peperangan juga terjadi pada bulan Ramadhan seperti perang
untuk menaklukkan Baitul Maqdis yang saat itu dilakukan oleh Sholahuddin al
Ayyubi.
2. Bulan
Ramadhan terdapat sebuah malam yang penuh dengan kemuliaan yaitu malam Qodar.
Jika kita diberikan kesempatan beribadah di malam itu maka nilainya adalah
seperti melaksanakan ibadah selama 1000 bulan. Muslim mana yang mampu beribadah
selama itu tanpa diselingi oleh aktivitas lain. Disisi lain jika dibandingkan
dengan usia kita, tentu amat jarang ada muslim yang diberikan nikmat umur
panjang selama 1000 bulan atau lebih kurang 83 tahun. Dengan keutamaan yang sedahsyat ini, tentu
seorang muslim tidak ingin mengalami kerugian dengan melewatkan malam tersebut
tanpa melaksanakan aktivitas ibadah apapun.
3. Bulan
Ramadhan adalah bulan turunnya al Qur’an yang mulia. Bulan dimana kekasih Allah
siap mengemban Risalah yang tidak sanggup dipikul oleh langit dan gunung. Namun berkah Romadhan membuat Rosulullah siap
untuk memikul tugas tersebut sehingga beliau mewariskannya hingga generasi
akhir zaman. Oleh karena itu tidak ada
aktivitas yang paling utama di bulan Ramadhan selain melakukan tadarrus al
Qur’an sekaligus mentadabburinya. Dalam
hadits riwayat Bukhory dan Muslim diceritakan bahwa setiap bulan Ramadhan,
Rasulullah ditemani oleh malaikat Jibril melakukan mudarasah al Qur’an (saling
membaca dan saling menyimak bacaan al Qur’an).
Tentu tak kalah penting, pada masa sekarang kaum Muslimin berjuang untuk
membumikan al Qur’an sebagai sumber hukum-hukum Islam yang fungsinya sebagai
petunjuk bagi manusia dan pembeda antara yang haq dan batil. Dengan berkah turunnya al Qur’an pada bulan
Ramadhan maka Allah membuka keberkahan
dari pintu-pintu langit dan bumi. Hal
ini secara jelas dinyatakan Allah SWT, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al Qur’an sebagai
petunjuk bagi manusia dan pembeda
(antara yang haq dan yang batil)..” QS al Baqoroh : 185
4. Bulan
Ramadhan merupakan sebuah bentuk kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang-orang
yang beriman karena Allah memberikan kesempatan bertaubat dan mensucikan diri
sekaligus melakukan berbagai amal ibadah yang bernilai pahala berlipat ganda
sebagai persiapan dalam mengarungi bulan-bulan berikutnya. Bahkan puasa yang Allah perintahkan pada
bulan Ramadhan merupakan bentuk syukur
orang-orang yang beriman atas petunjuk dan hidayah yang datang dariNya lewat al
Qur’an.
Demikianlah Allah telah
memberikan karunia kepada orang-orang beriman berupa bulan Ramadhan dengan
puasa sebagai amal unggulan yang diwajibkan kepada mereka sebagaimana
seruannyaNya :” Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian
berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa..” QS al
Baqoroh : 185.
Masa-masa berpuasa adalah masa-masa
yang indah. Kalau dulu di masa
kanak-kanak, sering sekali didendangkan lagu rukun Islam yang lima. Maka saat kita dewasa, lagu itu hampir
dipastikan selalu terngiang-ngiang di telinga kita. Bahkan mengingat lagu itu membuat kita makin semangat menjalankan puasa. Namun berjalannya waktu membuat kita semakin
menyadari tentang hakikat puasa. Kalau
dulu, bisa jadi kita berpuasa dengan semangat hanya karena iming-iming hadiah
dari orangtua atau karena harus mengisi buku agenda Ramadhan. Sekarang tentu kadar puasa kita tingkatkan
karena dorongan taqwa. Dalam berbagai haditsnya, kerapkali Rosulullah
memberikan sindiran tentang rupa-rupa orang berpuasa. Rosul bersabda, “Betapa banyak orang yang
berpuasa, namun yang didapatkan hanya lapar dan haus saja..” (HR Thabrani). Tak heran, meski di dalam hadits dikatakan
bahwa saat Ramadhan, setan-setan dibelenggu, namun masih saja banyak orang yang
melakukan kemaksiyatan. Jika saat Ramadhan, masih banyak yang melakukan
kemaksiatan, bagaimana halnya pada saat di luar Ramadhan, dimana setan-setan
tidak dibelenggu...? Namun Rosulullah
berpesan, jika ingin puasanya menjadi berkualitas dan diterima Allah
bahkan menghapus dosa-dosa di masa
lampau, maka berpuasalah karena landasan iman dan berharap keridhaan Allah
saja. Sebagaimana sabdanya,”Siapa saja yang berpuasa karena iman dan mengharap
ridho Allah maka akan diampuni dosanya yang telah lalu..” (HR Bukhory Muslim)
Oleh karena itu siapa saja yang
menginginkan dirinya terhindar dari kemaksiatan, maka hendaklah dia menjadikan
puasa itu sebagai perisai. Sejatinya
orang yang berpuasa, rasa takutnya kepada Allah menjadi lebih bertambah. Hawa
nafsunya lebih terkendali. Sikapnya
lebih berhati-hati. Tingkah laku dan kata-katanya lebih terkontrol. Sebuah perjuangan yang sangat berat. Seberat perjuangan seekor ulat yang buruk rupa merubah diri
menjadi seekor kupu-kupu yang cantik
jelita.
Demikian juga yang dilakukan oleh
manusia termulia, Rasulullah SAW. Bulan
yang sarat dengan perjuangan ini tidak disikapi beliau dengan biasa-biasa, namun
disikapi dengan sambutan istimewa layaknya tamu agung. Tidaklah beliau memasuki bulan Ramadhan
melainkan mengawalinya dengan banyak melakukan puasa pada bulan Sya’ban. Tidaklah beliau memasuki bulan Ramadhan
melainkan banyak melakukan syiar-syiar Islam kepada kaum Muslimin tentang
keutamaan Ramadhan agar mereka bersiap diri menyambut kedatangannya dengan
persiapan sempurna. Sedemikian hormatnya
beliau pada bulan Romadhan, sehingga beliau mengucapkan banyak tahniah kepada
para sahabatnya sebagai bentuk kegembiraan akan datangnya tamu nan agung. Bahkan di penghujung bulan Sya'ban, beliau sebagai
kepala Daulah di Madinah mempersiapkan orang-orang yang terpercaya. Mereka ini
berjaga-jaga di seluruh negeri untuk melihat hilal Ramadhan sebagai tanda
dimulainya awal Ramadhan. Setelah hilal terlihat,
orang-orang terpercaya ini menginformasikan kepada Rosulullah untuk
disampaikan kembali kepada seluruh umat Islam. Beliau melakukan ini semua seakan-akan Beliau tidak rela jika momen
detik-detik pergantian bulan Sya’ban menuju bulan Ramadhan terlewatkan begitu
saja.
Nah, bagaimana dengan kita ?
Sudahkah kita menyambutnya dengan persiapan optimal agar puasa berkualitas bisa
kita raih ? Puasa berkualitas untuk
melakukan perubahan diri walaupun persentasenya sedikit demi sedikit. Puasa
berkualitas untuk meraih kualitas keluarga dan umat terbaik. Tentu banyak kiat yang harus dilakukan untuk
mencapai target diatas, diantaranya :
Pertama, luruskan niat bahwa
puasa yang akan kita lakukan tahun ini adalah puasa yang kita lakukan karena
mengharap keridhoan Allah semata. Buatlah komitmen bahwa puasa tahun ini haruslah puasa yang lebih baik dari puasa
tahun lalu dan berusahalah untuk mewujudkan tujuan puasa yakni membentuk pribadi yang bertaqwa serta keluarga dan umat
yang terbaik.
Kedua, pahami hakekat Ramadhan
dan puasa dengan sebenar-benarnya. Pemahaman itu didapatkan dari berbagai
kajian pra Ramadhan maupun dari berbagai referensi yang terkait dengan
pembahasan seputar Ramadhan. Kuasai juga fiqh puasa Ramadhan dari A sampai
Z sehingga puasa kita menjadi amal sholih yang diterima Allah SWT.
Ketiga, persiapkan amal-amal unggulan yang
dilaksanakan selama Ramadhan untuk tambahan kebaikan bagi diri, keluarga dan
umat. Bahkan kalau perlu diagendakan dan
ditargetkan selesai saat berakhirnya bulan Romadhan. Misalnya jika dihari-hari biasa kita hanya
bisa membaca al Qur’an satu juz maka
saat bulan Ramadhan, dalam sehari bisa
membaca 2 atau 3 juz. Jangan lupa
untuk menghafal beberapa ayat al Qur’an beserta artinya setiap hari. Qiyamullail
dan shodaqoh juga merupakan aktivitas unggulan yang biasa dikerjakan Rosulullah
saat Romadhan. Dan yang lebih penting, aktivitas ibadah yang bernilai wajib
jangan sampai ditinggalkan. Menuntut ilmu, melakukan tugas sebagai pendidik
generasi bahkan berdakwah adalah
aktivitas maha penting yang harus dilakukan pada bulan Ramadhan. Di saat
umat, hatinya terpaut dengan zikir kepada Allah, dekat kepada ayat-ayat Qur’an tentu akan lebih
mudah menyentuh hati dan pemikiran mereka untuk menerima dakwah dalam rangka membumikan
al Qur’an dalam setiap sendi kehidupan mereka. Hatta, momen Romadhan sangat
tepat untuk mengajak umat untuk kembali menegakkan Syariah dalam bingkai Khilafah. Fenomena
kebijakan pemerintah yang zhalim serta sistem kapitalis sekuler yang banyak
menyengsarakan rakyat menjadi entry point yang tepat untuk menggelorakan
semangat perjuangan umat Islam kembali menjadi umat terbaik di bawah naungan Khilafah.
Keempat, banyak-banyak bertaubat
kepada Allah SWT atas dosa-dosa kita
kepadaNya. Bersilaturahmi kepada orang
tua dan sanak saudara, bersilah ukhuwah kepada saudara-saudara seaqidah dalam
rangka memohon maaf atas segala kesalahan sehingga Allah memudahkan jalan kita
untuk menggapai Ramadhan.
Kelima, persiapkan keluarga untuk
bersama meniti sakinah, mawaddah wa rahmah dalam berkah Ramadhan. Di tengah berbagai konflik yang mendera
keluarga karena imbas sistem Kapitalisme, momen Ramadhan menjadi ajang
introspeksi dari setiap anggota keluarga untuk menjadi keluarga unggul yang
dapat mencetak generasi cemerlang. Madrasah Ramadhan menciptakan sekaligus
mengembalikan keharmonisan keluarga yang mungkin sempat hilang atau mengalami
kelesuan.
Nah, sudah siapkah kita sambut
Ramadhan ? Sudah siapkan kita mengisi bulan Ramadhan dengan berbagai amal
sholih sebagai bentuk perjuangan kita untuk kembali menjadi pribadi-pribadi
Muttaqiin yang Mukhlisin ? In syaa Allah..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar