Dimuat di Harian Rakyat Bengkulu, 21 Mei dan 22 Mei 2014
Oleh
Indah Kartika Sari,SP
Ketua Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Dewan Pimpinan Daerah I Provinsi
Bengkulu
Setiap tanggal 20 Mei seluruh komponen bangsa Indonesia selalu memperingati
Hari Kebangkitan Nasional. Di tengah berbagai krisis yang menerpa
Indonesia, setidaknya momentum ini menjadi angin segar seluruh rakyat Indonesia
untuk bangkit dari keterpurukannya. Pasalnya, harkitnas memiliki nilai historis perjalanan
Indonesia menjadi bangsa yang lepas dari
penjajahan. Harapannya memang
demikian. Namun setelah lebih dari seabad
kebangkitan Indonesia diperingati, amat disayangkan fenomena yang ada nampak
masih jauh dari harapan.
Krisis
yang melanda hampir semua aspek kehidupan setidaknya menjadi cermin. Kemiskinan,
korupsi, suap menyuap, kriminalitas,
dekadensi moral menjadi pemandangan sehari-hari. Memang Indonesia sudah lepas
dari penjajahan fisik, namun belum lepas
dari penjajahan pemikiran dan budaya bangsa lain (baca : barat). Anak-anak negeri ini masih dilanda krisis
kepercayaan diri yang sangat parah. Budaya membebek masih menjadi kebiasaan yang
sulit dihilangkan. Wajarlah jika dalam
perjalanannya hingga detik ini, bangsa Indonesia masih menjadi objek skenario
bangsa lain. Padahal sejatinya sebuah
bangsa yang bangkit adalah bangsa yang mampu menjadi pemimpin dan pembawa
perubahan tidak hanya bagi bangsanya tapi bagi dunia.
Kenyataannya
belum demikian bagi Indonesia. Memang,
Indonesia diakui oleh dunia sebagai bangsa kaya raya dengan sumber daya alamnya
yang sangat melimpah. Barang tambang
berharga seperti emas, perak dan minyak bumi merupakan aset penting bagi
Indonesia. Semua ini seharusnya bisa
membuat Indonesia punya posisi di mata dunia.
Sebab dengan kekayaaan yang luar biasa itu, taraf hidup rakyat Indonesia bisa meningkat dan
sejahtera. Kenyataan malah sebaliknya. Justru
kekayaan tersebut tidak dinikmati oleh rakyat.
Krisis identitas para pemimpin negeri ini yang membuat pengelolaan SDA
diserahkan kepada pihak swasta maupun asing atas nama investasi.
Faktor
yang tidak kalah pentingnya bagi kebangkitan Indonesia adalah potensi
demografi. Indonesia memiliki jumlah sumber daya manusia yang luar biasa.
Tetapi patut disayangkan jumlah yang sedemikian besar belum juga mampu membawa
bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan bangkit.
Ditambah
lagi, Indonesia telah mengalami berkali-kali suksesi kepemimpinan. Tidak hanya di pucuk pimpinan tertinggi namun
juga di jajaran kabinet dan lembaga legislatif.
Harapannya suksesi kepemimpinan dapat memunculkan sosok pemimpin yang
dapat menghantarkan bangsa ini kepada kemajuannya. Belum lagi sistem kenegaraan yang sering
berganti-ganti. Mulai dari zaman orde lama, orde baru hingga reformasi. Dari corak sosialisme di era Bung Karno
sampai corak kapitalisme di era Soeharto.
Sistem kenegaraan yang bercorak neoliberalisme di era reformasi pun sudah
dicoba. Betapa banyak dana dan energi yang dikeluarkan untuk melaksanakan
pemilu, namun hasilnya tidak banyak
berubah. Indonesia masih menjadi negara
dunia ketiga. Bahkan banyak pihak yang
mengklaim Indonesia sebagai failed state
karena kebijakannya yang gagal mensejahterakan rakyat.
Lalu
adakah yang salah dengan jargon kebangkitan yang diusung oleh perintisnya ?? Apakah
jalan kebangkitan saat ini masih layak dipertahankan dan dapat menjadi acuan
saat Indonesia berusaha bangkit mengejar ketertinggalannya ??
Ketika memperbincangkan makna
kebangkitan, mau tidak mau harus ada tolak ukur yang jelas dan landasan
kebangkitan itu sendiri. Harus diakui hari kebangkitan nasional yang bertahun-tahun
diperingati sudah mulai kehilangan urgensinya.
Sehingga peringatan itu hanya sebatas seremonial belaka tanpa
makna. Wajar jika bangsa ini tidak
menemukan spirit perjuangan yang mendorong mereka untuk bangkit dari segala
keterpurukan. Slogan-slogan kebangkitan
yang ada hanya sebatas wacana. Menggugah
sesaat kemudian meredup kembali.
Mengacu pada definisi kebangkitan
yang digagas oleh Syaikh Hafidz Sholih dalam bukunya Falsafah Kebangkitan :
Dari Ide Hingga Metode, dikatakan bahwa kebangkitan suatu bangsa akan diperoleh
saat taraf berfikir masyarakatnya meningkat yaitu dengan mengadopsi pemikiran
mendasar dan menyeluruh atau memeluk ideologi tertentu. Amerika Serikat mampu menjadi negara adidaya
karena ideologi kapitalis yang diembannya.
Uni Sovyet dulu pernah menjadi negara adidaya karena ideologi
sosialismenya. Bahkan bangsa arab yang jahiliyah berubah menjadi
bangsa berperadaban tinggi dengan ideologi Islam yang diterapkan negara Madinah
di bawah pimpinan Rasulullah.
Saat ini Indonesia merupakan
negara yang mengekor kebijakan negara-negara adidaya. Sehingga secara ideologis,
Indonesia merupakan salah satu negara yang turut mengadopsi nilai-nilai
kapitalis barat. Realitas membuktikan
runtuhnya Uni Sovyet hakikatnya karena kerusakan ideologi yang dianutnya. Demikian juga dengan kapitalisme barat. Fakta menunjukkan kekuatan ideologi
kapitalisme adalah ibarat fatamorgana.
Secara lahiri ibarat raksasa yang kuat namun kenyataannya bertubuh
keropos di sana sini. Amerika memang
diagung-agungkan karena kedigdayaannya.
Namun pada dasarnya hampir kolaps karena kerusakan ideologi yang
dianutnya. Sebab sejatinya kapitalisme
adalah ideologi buatan manusia yang gagal memanusiakan manusia. Ideologi eksploitatif yang rakus dan
menghalalkan segala cara. Ujung-ujungnya
akan menghantarkan manusia pada
kehancurannya. Banyak kalangan menilai-yang
notabene lembaga think thank Amerika sendiri- sudah memprediksi bakal
kehancuran Amerika dan ideologinya dalam waktu dekat. Ini berarti riwayat kapitalisme akan segera
tamat menyusul sosialisme yang sudah lebih dahulu hancur.
Mengambil pelajaran dari perjalanan bangsa-bangsa di
dunia, sudah seharusnya Indonesia berusaha bangkit dengan jalan kebangkitan
yang lain. Di dunia ini, harapan kebangkitan tinggal bertumpu kepada ideologi
Islam, ideologi yang berasal dari Sang Pencipta Manusia. Ideologi ini sudah membuktikan selama
berabad-abad lamanya mampu merubah dunia dengan peradabannya yang maju dan
mensejahterakan manusia, laki-laki dan perempuan, muslim dan non muslim,
dari yang berkulit putih hingga berkulit
hitam serta berbagai macam ras. Banyak orientalis barat dengan jujur mengakui
bukti itu. Dalam bukunya The Story of Civilization, Will Durant mengatakan
“Para
Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batasyang luar biasa
besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah
menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukannya dan memberikan
kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas, dimana
fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.
Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan tersebar luas,
hingga berbagai ilmu, sastra, filsafat dan seni mengalami kemajuan luar biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad".
hingga berbagai ilmu, sastra, filsafat dan seni mengalami kemajuan luar biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad".
Saat ini, setelah kejatuhan rezim-rezim penguasa
dunia Arab yang diktator, seluruh dunia sedang menanti detik-detik kebangkitan ideologi Islam yang diemban oleh institusi
Khilafah. Sistem Khilafah sejatinya
adalah sistem hakiki yang berasal dari Allah Sang
Robbul Izzati. Sistem kenegaraan global
yang mampu menjadikan bangsa Indonesia dan bangsa manapun di dunia ini menjadi
bangsa yang bangkit, maju dan terdepan di segala bidang.
Dalam konteks
keIndonesiaan, sebagai wujud kepedulian terhadap bangsanya, Hizbut Tahrir Indonesia mengadakan Kampanye Indonesia
Milik Allah. Kampanye ini diadakan di 68 kota di Indonesia bertajuk Konferensi Islam dan
Peradaban (KIP),
mengambil tema “Saatnya
Khilafah Menggantikan Demokrasi dan
Sistem Ekonomi Liberal”. Puncak acara KIP diadakan di Jakarta, hari
Sabtu tanggal 31 Mei 2014. Di Provinsi
Bengkulu, acara ini digelar pada tanggal 27 Mei 2014.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar