Minggu, 08 Juni 2014

POLITIK ISLAM MEWUJUDKAN PEREMPUAN CERDAS, PEREMPUAN PEDULI UMAT

Dimuat di Harian Rakyat Bengkulu, 13 April 2014

Oleh Indah Kartika Sari,SP
(Ketua Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Dewan Pimpinan Daerah I Propinsi Bengkulu)


            Gebyar tahun politik 2014 membawa semangat perubahan  bagi segenap rakyat Indonesia. Tak terkecuali kaum perempuan.  Saat ini bukan hal yang tabu lagi bagi perempuan membicarakan masalah politik bahkan terjun dalam dunia politik praktis.  Terdorong oleh keinginan mengangkat harkat/nasib dan menyelesaikan problematika kaumnya, para perempuan  terjun sebagai pelaku pembangunan bahkan sebagai pengambil kebijakan dan pembuat undang-undang. Apalagi tuntutan kuota 30 % perempuan yang dilandasi semangat kesetaraan serta seruan global “full participation ages” menjadi alasan bagi perempuan berkiprah dalam kancah politik praktis.
            Memang, persoalan perempuan yang tak kunjung selesai membutuhkan  perhatian dari berbagai pihak, tak hanya perhatian perempuan.  Terlebih di era perdagangan bebas saat ini, banyak perempuan yang terkena imbas liberalisasi ekonomi.  Penguasaan para kapital pada aset-aset penting rakyat, menyebabkan komersialisasi layanan publik. Rakyat benar-benar merasakan kesulitan hidup akibat  semakin tingginya biaya TDL, naiknya BBM, naiknya harga bahan-bahan kebutuhan pokok yang beriringan dengan  semakin mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan.   Pengangguran semakin bertambah. Kemiskinan ada di mana-mana.  Kalau sudah begini, siapa yang harus berkorban untuk mencari penghidupan dengan bekerja kalau bukan kaum perempuan.   Dalam kapitalisme, perempuan  telah beralih fungsi  menjadi mesin ekonomi  dan dibebani tanggung jawab  sebagai penyelamat ekonomi keluarga.  Namun menjadi “pahlawan” keluarga  bahkan “pahlawan” devisa menuntut pengorbanan  yang luar biasa : kehilangan fungsi utamanya  sebagai   pendidik generasi sekaligus kehilangan martabat dan harga diri sebagai manusia.   Persoalan perempuan semakin lengkap dengan  kasus-kasus kekerasan fisik, psikis bahkan seksual yang tidak hanya menimpa perempuan di ruang publiknya bahkan  terjadi  pula di ruang domestiknya.  
            Kenyataan  berbicara bahwa demokrasi dalam posisinya sebagai sistem kehidupan yang tengah diberlakukan di masyarakat, realitasnya adalah dalang dari berbagai permasalahan yang ada saat ini, include permasalahan perempuan. Kebijakan yang dibuat dalam sistem demokrasi bersifat parsial sehingga tetap tidak mensejahterakan dan melindungi  perempuan. Eksploitasi perempuan baik dari segi fisik, finansial dan seksual tetap terjadi bahkan semakin meningkat. Dengan prinsip kebebasannya, suara mayoritas masyarakat telah dibeli oleh suara minoritas yang berkepentingan seperti para kapital (pemilik modal) sehingga sebesar apapun kuota keterwakilan perempuan dalam parlemen demokrasi tetap tak akan menyelesaikan persoalan perempuan.  Inilah bukti kegagalan sistem demokrasi. Demokrasi yang lahir dari asas sekularisme, telah merebut hak Allah SWT dalam membuat aturan/sistem kehidupan dan memberikannya pada akal manusia yang sifatnya terbatas. Demokrasi pun telah gagal dalam memenuhi aspirasi politik perempuan. Tuntutan 30% kuota perempuan di parlemen tak lebih dari sekedar  formalitas belaka karena nyatanya demokrasi merangkul kepentingan pemilik modal jauh diatas kepentingan rakyat  termasuk kepentingan perempuan.
            Adalah hal yang penting mendudukkan peran politik perempuan dalam konteks kekinian dalam upaya mengembalikan posisi sebagai umat terbaik. Sebelumnya perlu dipahami dahulu konteks politik dalam Islam. Berbeda dengan konsep politik  a la demokrasi yang berkutat seputar kekuasaan dan legislasi saja,  konsep politik Islam meliputi pemeliharaan urusan umat  di dalam maupun di luar negeri baik menyangkut  aspek negara maupun umat.  Dalam hal ini, negara bertindak langsung sebagai  pengatur dan pemelihara umat sedangkan umat bertugas  sebagai pengawas dan pengoreksi pelaksanaan  peraturan oleh negara.  Oleh karena itu dalam Islam tidak masalah apakah posisi seseorang menjadi penguasa ataupun menjadi rakyat biasa.  Keduanya memiliki  kewajiban yang sama  dalam memajukan  Islam dan umat. Keduanya memiliki tanggung jawab yang sama  dalam menyelesaikan problematika umat tanpa membedakan problema itu menimpa laki-laki atau perempuan.  Semuanya itu adalah problematika umat yang harus diselesaikan secara bersama-sama.   Ketika kaum muslimin  berupaya memfungsikan segenap potensi  insaniyahnya  untuk menyelesaikan problematika umat, hakekatnya dia  sudah melakukan aktivitas politik.
            Sama halnya dengan laki-laki, Islam menetapkan berpolitik juga menjadi hak dan kewajiban perempuan. Berpolitik bagi perempuan merupakan tanggung jawab  dalam menentukan arah, warna dan pola generasi sekarang dan yang akan datang dalam koridor taqwa. Bukan semata-mata untuk meraih posisi tertentu  dalam  kekuasaan  atau kehidupan publik. Namun esensi kiprah tersebut merupakan bagian dari kewajibannya  yang datang dari Allah dan sebagai bentuk komitmen terhadap penyelesaian problem masyarakat manusia.   Artinya dalam aktivitas politik, kiprah perempuan tidak boleh  terpisah atau memisahkan diri dari kiprah politik laki-laki serta tidak boleh keluar dari koridor-koridor  kemuliaan dan kesuciannya sebagai  muslimah  dan peran utamanya sebagai ibu dan pendidik generasi.

            Last but not least, menjadi politisi perempuan sejati meniscayakan dirinya memiliki kesadaran politik Islam. Kepekaan terhadap persoalan-persoalan umat khususnya persoalan perempuan keluarga dan generasi harus dibarengi pembinaan pemikiran dengan wawasan keIslaman skala global.   Pembinaan dan pencerdasan politik  ini penting  demi kejernihan visi dan kejelasan misi.  Dengan keduanya, lahir perempuan-perempuan politisi cerdas sekaligus peduli umat yang menjadi inspirator dan motivator umat untuk berjuang meraih predikat umat terbaik dalam naungan institusi Khilafah Islamiyah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pemuda Islam : Think About Palestine Not Valentine

Oleh Najmah Jauhariyyah (Pegiat Sosial Media Bengkulu) Manusia adalah makhluk yang mampu berfikir.  Dengan berfikir manusia menjadi makhlu...