Minggu, 29 Juni 2014

Meniti SAMARA Dalam Berkah Ramadhan

Mendengar ungkapan “Baitiy Jannatiy” atau “Rumahku adalah Surgaku” serasa menyejukkan hati.  Betapa tidak, suasana surga yang menyenangkan dan menggembirakan hadir di tengah-tengah rumah tangga.  Datangnya tamu agung bulan Ramadhan yang penuh berkah seakan melengkapi suasana damai rumah tangga dalam naungan cinta Ilahi.  Rumah tangga bagaikan surga dunia ini digambarkan Allah SWT dengan ungkapan Sakinah, Mawaddah dan Rahmah.  Firman Allah SWT :


وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu Mawaddah dan Rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [QS Ar-Rum 21].

Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya an-Nizhom al-ijtima’iy fii al-Islam, menjelaskan konteks ayat  ini yang artinya, pernikahan itu menjadikan suasana sakinah yaitu suasana di mana seorang suami merasa cenderung kepada istrinya.  Begitu pula sebaliknya, istri pun akan cenderung kepada suaminya.  Keduanya akan merasa tentram dan damai di sisi pasangannya masing-masing.  Kecenderungan ini membuat mereka akan merasa dekat dan akan berusaha saling mendekat, bukannya saling menjauh.  Rasa tentram dan damai itu akan membuat suasana bahagia.  Kedekatan dan keakraban yang terjadi pada suami istri akan memunculkan rasa cinta (mahabbah) sehingga muncullah suasana mawaddah yang menjadi pelekat kuat hubungan pasangan suami istri. Dengan adanya mawaddah, rumah  tangga muslim akan bertabur  cinta dan kemesraan.  Mawaddah akan tercipta bila suami istri  saling  memberi,  sering mengingat dan mensyukuri kebaikan masing masing serta menjalin komunikasi yang penuh dengan  kehangatan dan persahabatan. 

Dengan berjalannya biduk rumah tangga mereka dari waktu ke waktu, maka Allah menurunkan suasana rahmah (rasa kasih sayang).  Rahmah adalah bentuk kasih sayang  suami istri tanpa adanya imbalan, saling menutup kekurangan masing-masing dan menjadi pelengkap ketika mawaddah sudah mulai menurun.  Suasana rahmah  yaitu cinta dan  kasih sayang yang tulus, tak pernah lapuk dimakan waktu juga tak pudar dimakan usia. 

Maa syaa Allah, karena suasana rahmah inilah, kita sering melihat betapa seorang suami masih setia kepada istrinya walaupun secara fisik istrinya sudah tidak cantik dan tidak menarik lagi.  Suasana rahmah membuat kita dibuat takjub dengan pasangan suami istri yang awet hingga  mereka menjadi kakek nenek.  Bahkan suasana rahmah membuat kita kagum dengan  kesetiaan suami dalam mendampingi istrinya menjalani hari-harinya yang tak berdaya dan  ketulusannya merawat sang istri dengan segala keterbatasannya.  Padahal di saat yang sama suami itu mampu untuk menikah lagi. Namun saat itu, suasana rahmah-lah yang berperan besar menopang keutuhan rumah tangga.  Subhaana-Llah, siapa lagi yang menurunkan suasana sakinah,mawaddah  dan rahmah itu kalau bukan Sang Pemilik Cinta dan Kasih Sayang…?

Ketika Allah SWT menurunkan ayat tersebut  tentu saja Allah menginginkan sebuah pernikahan tersebut diliputi kedamaian dan ketentraman. Kedamaian dan ketentraman ini merupakan awal dari suasana bahagia. Suasana bahagia akan menciptakan keluarga tangguh yang siap melahirkan generasi cemerlang.
Rasulullah SAW menegaskan lebih rinci tentang gambaran kebahagiaan seorang muslim dalam sabdanya:

اربع من السعادة : المرأة الصالحة والمسكن الواسعة والجار الصالح والمركب الهنىء—واربع من الشقاء: الجار السوء والمرأة السوء والمركب السوء والمسكن الضيق  (رواه أبن حبان(

“Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang: istri yang shalehah, tempat tinggal yang lapang, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan seseorang : tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang jelek dan tempat tinggal yang sempit”.(HR.Ibnu Hiban)

Namun sangat disayangkan, saat Ramadhon seperti sekarang rumah tangga muslim masih banyak yang diliputi kemuraman.  Ramadhan yang penuh dengan keberkahan belum mampu menciptakan suasana bahagia dalam rumah tangga muslim.  Krisis identitas keluarga muslim masih menjadi persoalan yang  belum terselesaikan hatta Ramadhan tiba.

Meski Ramadhan sudah silih berganti datang dan pergi, fenomena disharmonisasi keluarga ini menjadi persoalan yang terus merebak  ke seantero negeri, tidak terkecuali Bengkulu. Kasus perceraian di Propinsi Bengkulu sangat memprihatinkan.  Ini ditunjukkan oleh peningkatan angka perceraian dari tahun ke tahun. Penyebab perceraian didominasi oleh permasalahan  ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan gangguan pihak ketiga. Selain itu faktor perceraian juga disebabkan oleh pasangan menikah usia muda yang belum matang dalam menyelesaikan persoalan rumah tangga.  Tidak hanya di kota  Bengkulu, kasus perceraian juga meningkat pesat di kabupaten-kabupaten.  Di Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur, tingginya angka perceraian diduga akibat  perselingkuhan di dunia jejaring sosial. Di Kabupaten Rejang Lebong, dari 600 perkara perceraian yang mengajukan ke pengadilan agama, didominasi  393 kasus cerai gugat.  Amat mencengangkan bahwa kasus perceraian di Bengkulu ternyata didominasi oleh gugat cerai. Sebuah penelitian mahasiswa FISIP Universitas Bengkulu tentang meningkatnya fenomena gugat cerai.  Diantara penyebabnya adalah banyak istri menjadi wanita karir,  sehingga penghasilan istri lebih besar,  istri tidak sabaran dan menuntut hal-hal diluar kemampuan suami (seperti uang belanja), istri merasa memiliki hak yang sama dengan suami apalagi  hak perempuan sudah diatur oleh UU sehingga  jika ada  KDRT, istri berani menuntut cerai suami. Sebab lain, pendidikan perempuan sudah tinggi sehingga perempuan merasa lebih mandiri dan tidak membutuhkan suami lagi.

Tentu saja meningkatnya angka perceraian ini membawa dampak negatif yang tidak kalah memprihatinkan. Ini terbukti dari tingginya penderita HIV AIDS  di Bengkulu yang  90 persennya didominasi   oleh kelompok usia produktif seperti pelajar, pemuda dan mahasiswa.  Disinyalir meningkatnya penderita  HIV AIDS  di Bengkulu salah satunya akibat broken home. Hal ini sejalan dengan ungkapan  Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat dr. Sugiri Syarief, MPA bahwa kenakalan dan penyimpangan perilaku anak dan remaja dari tahun ke tahun yang terus meningkat merupakan bukti rapuhnya sendi kehidupan perkawinan dan keluarga serta merosotnya peran orangtua akibat ancaman nyata liberalisasi keluarga (situs BKKBN online 2010).

Meski Ramadhan  hadir di tengah-tengah rumah tangga muslim, namun rumah tangga  muslim  sudah mulai kehilangan visi dan misi dalam membentuk  dan menjalankan biduk rumah tangga.  Suasana sistem sekuler kapitalis  telah menggerus peran suami, istri dan anak.   Dampak ekonomi liberal telah memaksa para suami  terpaksa kehilangan peran utamanya sebagai  pencari  nafkah  akibat PHK. Kerasnya sistem  sekuler kapitalis  telah memaksa  para  istri  menggantikan peran suami menjadi pencari nafkah.  Beban kerja yang sedemikian  tinggi ditambah  konsekuensi meninggalkan keluarga jauh ke negeri orang telah membuat para istri mengalami tekanan psikologis yang berat.  Mereka terpaksa mengorbankan peran utamanya sebagai  ibu dan pendidik generasi.   Ketidakmampuan memikul beban rumah tangga dan pekerjaan  secara bersamaan telah memicu konflik rumah tangga yang berujung pada keretakan.  Nasib generasi berada di ujung tanduk. Kehilangan makna kebahagiaan  dan kasih sayang akibat  perceraian kedua orang tuanya.

Suasana ibadah Ramadhan  yang  sarat dengan taqwa  sudah  terkikis  dalam  keluarga muslim. Motivasi materi  telah  memaksa  para orang tua mengejar karir  hingga melupakan kenikmatan beribadah di bulan Ramadhan.  Sang  anak  tidak dapat lagi merasakan suasana ibadah di bulan Ramadhan bersama kedua orang tua mereka.   Di kala  buka puasa tiba, anak hanya sendirian menyantap hidangan berbuka tanpa kehadiran  orang tua yang masih berada di tempat kerja.   Sang anak juga tidak dapat merasakan betapa nikmatnya tadarrus al Qur’an  dan qiyamullail bersama orang tuanya.   Pada saat sahur pun,  ibu mereka tidak dapat  menghidangkan  hidangan sahur  bahkan  ayah yang diharapkan dapat memberikan nasehat-nasehat penggugah  jiwa pun  tak didapatkan pula karena keduanya masih tertidur pulas  akibat keletihan dalam bekerja.  Sekalipun Ramadhan hadir,  namun  suasana keluarga terasa gersang  dan  jauh dari  nilai-nilai ruhiyah.   Bahkan yang memprihatinkan,  Ramadhan yang syahdu terusik dengan berbagai keributan  akibat  konflik dalam rumah tangga.  Stress dan beban mental  melanda pemikiran dan  hati anak-anak.   Di akhir Ramadhan,  tidak ada  persiapan dalam menyambut datangnya malam Qodar.  Keluarga justru tersibukkan dengan persiapan menyambut   lebaran.   Para ayah  di malam-malam i’tikaf justru  bekerja  keras mencari tambahan  biaya untuk persiapan  menyambut lebaran.  Lebaran hanya dijalankan sebatas seremonial belaka.   Pasca Romadhan, tidak ada yang berbekas  dari madrasah  Ramadhan  selain  rutinitas  tanpa makna.  Wajar  saja  jika  dengan berlalunya  Ramadhan,  degradasi  moral  generasi  dan tingkat perceraian  semakin  bertambah.

Oleh karena itu  seiring dengan datangnya Ramadhan tahun ini,   penting bagi  keluarga muslim  menjadikan Ramadhan  sebagai  madrasah untuk mengembalikan  “role”  keluarga muslim sejati.  Keluarga muslim  sejati adalah  potret keluarga  yang menjadikan  aqidah Islam sebagai  landasan dalam membangun hubungan suami,  istri dan anak-anak dalam suasana kesakinahan.  Rumah  tangga dibangun  atas dasar  ikatan  yang kokoh  (mitsaaqon gholizhon) yang menjadikan Allah  sebagai Saksi sekaligus sebagai  Wakil dalam segala urusan  dalam rumah tangga.  Bagi suami sebagai qowwam dalam rumah tangga, istri dan anak adalah titipan sekaligus amanah  Allah yang harus  dipelihara kefitrahan dan kesucian aqidahnya.  Dengan kepemimpinannya itu, suami memiliki otoritas hendak kemana biduk rumah tangganya itu akan diarahkan. Tentu dengan dasar aqidah yang kokoh, suami tidak akan membiarkan debu-debu kehidupan  sekuler  kapitalis mengikis habis  keyakinan, pemikiran bahkan  sikap istri dan anak-anaknya.  

Keluarga muslim sejati akan menjadikan  keridhoan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam mengarungi kehidupan rumah tangga.  Menjadikan taqwa kepada Allah sebagai landasan dalam membangun rumah tangga. Menjadikan  ketaatan kepada syariah sebagai  bekal dalam menyelesaikan berbagai persoalan rumah tangga. Aqidah yang kokoh akan membawa pemahaman  setiap anggota keluarga bahwa rizki itu berasal dari Allah sehingga tugas suami adalah berusaha memberikan makanan, pakaian, pendidikan dan kesehatan berasal dari nafkah  yang halal dan thoyib.  Anggota keluarga yang lain  berusaha agar  suami atau kepala keluarga  tidak terperosok ke dalam   pekerjaan   yang haram. Aqidah yang kokoh akan melahirkan sikap ketaatan  istri kepada suami  dalam rangka  ketaatan kepada Allah.  Aqidah yang kokoh akan memunculkan kepatuhan  anak kepada orangtua.  Aqidah  yang kokoh pun akan  melahirkan sikap ridho seorang istri dalam  menjalankan kewajibannya  sebagai ummun wa robbatul bait.   Sementara  itu  aqidah  yang  kokoh juga  akan  menjadikan  suami   memperlakukan  istri dan anak-anaknya  seperti  sahabat  yang bisa  saling berbagi. Aqidah  yang kokoh akan  menjadikan seluruh anggota keluarga melaksanakan  berbagai kewajiban tanpa menuntut hak-haknya karena  meyakini  bahwa   hak-hak sekaligus pahala  akan diperoleh setelah melaksanakan berbagai  kewajiban dalam keluarga.

Keberadaan sebuah keluarga di masyarakat  akan terasa lengkap jika  semua anggota  keluarga  terlibat aktif dalam  melakukan perubahan  masyarakat.   Tidak bisa dipungkiri bahwa rusaknya sistem di masyarakat menjadi  pangkal persoalan  disfungsi keluarga.   Oleh karena itu  Allah SWT membimbing  pasangan suami istri untuk berdoa   tidak hanya  meminta kepadaNya agar dikaruniakan pasangan hidup  dan  anak-anak yang menjadi  penyejuk mata (qurrata a’yun)   namun  juga memohon agar  menjadi  pemimpin  bagi umat Islam.   Menjadi   teladan sekaligus  agen  perubahan di  masyarakat untuk membimbing  mereka  menuju umat yang terbaik.   Ramadhan  menjadi  momen  yang   tepat  bagi  keluarga muslim  untuk  menularkan ruh perjuangan  kepada  masyarakat  di sekitarnya.  Keterlibatan  keluarga  muslim dalam  ajang  buka bersama atau  kegiatan  kultum  ba’da tarawih  menjadi  sarana yang  tepat  untuk   menyebarkan opini  penegakkan Syariah dan Khilafah.

Potret keluarga samara dambaan umat tidak begitu saja terwujud   setelah  ijab kabul diucapkan.   Sebab setelah itu,  suami   dan  istri  akan memikul  amanah  setengah  agama  bahkan  menempuh   banyak  ujian dalam  proses  mengharmonisasi  dua orang  yang berbeda  karakter  dan latar  belakang  sekaligus keluarga  besar  masing-masing  di belakangnya.  Untuk itu ada  beberapa kiat  yang  menjadi pedoman bagi   siapa saja akan memasuki  jenjang  rumah  tangga  atau  pun yang  sudah   menjalaninya,  diantaranya :

Pertama,  menetapkan visi dan misi berumah tangga.   Dengan datangnya  Ramadhan, suami  dan   istri  dapat melakukan   evaluasi  sekaligus  introspeksi  terhadap  tahun-tahun   perjalanan  keluarga  yang sudah  mereka bina  selama ini.  Bahkan  perjalanan  baru  sebuah  keluarga  dapat dimulai  lagi  sejak  datangnya Ramadhan.  Setiap  anggota keluarga  dapat membuat rancangan  aktivitas  Ramadhan  untuk menguatkan  visi  dan misi  keluarga  yang sudah ditetapkan oleh  kepala  keluarga.

Kedua,  mengazzamkan niat berkeluarga  untuk   meraih  keridhoan Allah.  Menjadikan  hidup  berkeluarga  sebagai  sarana  beribadah  kepada Allah  juga  menjadi  lahan  untuk  meraih  pahala  sebanyak-banyaknya.   Berkeluarga  menjadi  sarana  untuk  belajar  menjadi  pemimpin  dan  siap untuk  dipimpin   sesuai  kapasitas  amanah  yang  dimiliki.   Berkeluarga  juga sebagai  sarana  untuk  membentuk  suami sholih,  istri  sholihah  sekaligus  anak-anak  yang sholih  dan sholihah yang  semuanya akan masuk ke dalam  surga bersama-sama  (QS az Zukhruf : 70).

Ketiga,  Setiap anggota keluarga  memahami  hak dan kewajiban masing-masing. Perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga bukan untuk mendiskriminasikan perempuan tetapi demi harmonisasi peran masing-masing. Hikmah pembedaan hukum yang berkaitan pada perempuan sejatinya adalah perlindungan terhadap kehormatan dan kesucian perempuan, sesuatu yang tidak disadari dan dipahami para pegiat gender.   Merefresh kembali  hak dan kewajiban  suami istri  dapat dilakukan  melalui proses  belajar  baik dengan  metode training  atau dauroh yang bisa dilakukan  saat moment Ramadhan. Ingatlah bahwa kehidupan  berkeluarga adalah kehidupan yang penuh dengan proses belajar dan  menggali pengalaman sebanyak-banyaknya.  Sering-seringlah melakukan sharing dengan  pasangan suami istri yang  lebih senior dan berpengalaman.

Keempat,  mengenal lebih dekat keluarga-keluarga teladan di masa Rosulullah.  Mereka adalah  keluarga-keluarga yang telah berhasil meraih  semua  kriteria kebahagian yaitu  kebahagiaan seksual, kebahagiaan moral, kebahagiaan intelektual, kebahagiaan spiritual dan kebahagiaan ideologis. Semua kebahagiaan tersebut dapat diraih melalui sistem yang kondusif  bagi  lahirnya keluarga samara  yang ideologis. Kebahagiaan keluarga akan terasa lengkap jika ditunjang oleh kebahagiaan material yaitu kesejahteraan keluarga. Hal ini dicirikan keluarga tersebut mampu memenuhi semua kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan dasar maupun kebutuhan pelengkap. Setiap keluarga membutuhkan kekuatan finansial untuk dapat eksis. 

Kesejahteraan keluarga tidak bisa diraih melalui peran dan tanggung jawab individu atau keluarga saja. Islam menjamin tercapainya kesejahteraan hidup melalui mekanisme penerapan sistem politik ekonomi Islam. Dalam politik ekonomi Islam, upaya meraih kesejahteraan bukan hanya dibebankan kepada individu dan keluarga, namun juga merupakan tanggung jawab negara. Individu (suami/ayah) berkewajiban untuk mencukupi kebutuhan dirinya juga keluarganya.  Dalam pandangan Islam, yang pertama bertanggung jawab memenuhi nafkah keluarga adalah suami/ayah (QS al-Baqarah[2]:233). Jika seseorang tidak memiliki suami/ayah atau ada suami/ayah tapi mereka tergolong yang miskin sehingga tidak mampu menafkahi orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, maka kewajiban nafkah ini beralih kepada ahli warisnya (QS al-Baqarah[2]:233).  

Mekanisme berikutnya adalah peran negara.  Negara sebagai penanggung jawab urusan umat wajib memenuhi kebutuhan warganya.  Islam menetapkan bahwa negara wajib memenuhi kebutuhan rakyatnya, baik kebutuhan dasar sebagai individu (sandang, pangan, dan perumahan) maupun kebutuhan kolektif berupa keamanan, kesehatan, dan pendidikan. Agar negara bisa melaksanakan hal-hal yang diwajibkan atasnya, maka Islam telah memberikan wewenang kepada negara untuk mengelola harta kepemilikan umum seperti minyak, tambang besi, tembaga dan sebagainya.  Semua harta yang termasuk kepemilikan umum harus dieksplorasi dan dikembangkan dalam rangka mewujudkan kemajuan taraf perekonomian umat. Sebab, kekayaan tersebut adalah milik umat, sementara negara hanya mengelolanya. Jika negara mengelola semua harta milik umum dengan benar semata demi kemashlahatan rakyat, kemudian individu juga sungguh-sungguh berusaha untuk mencari rizki demi menafkahi diri dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, maka kesejahteraan hidup individu rakyat akan terjamin. 

Dalam sistem Islam juga tidak akan ditemui para perempuan yang mendapat beban tambahan sebagai pencari nafkah.  Para perempuan tetap dapat melaksanakan tugasnya sebagai ibu tanpa diganggu dengan tuntutan bekerja. Negara melindungi ibu dan keluarga agar sejahtera dan dapat menjadi pendukung terbentuknya masyarakat yang kuat. Itulah gambaran negara khilafah yang menerapkan aturan Allah secara keseluruhannya. Oleh karena itu, hukum Allah SWT saja yang diterapkan oleh negara khilafah yang dapat menjaga keutuhan keluarga sekaligus menjamin kebahagiaan dan kesejahteraannya.  Ramadhan  adalah moment tepat bagi keluarga muslim  untuk  berkontribusi mewujudkannya. WaLlaahu a’lam bish-showab..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pemuda Islam : Think About Palestine Not Valentine

Oleh Najmah Jauhariyyah (Pegiat Sosial Media Bengkulu) Manusia adalah makhluk yang mampu berfikir.  Dengan berfikir manusia menjadi makhlu...