Minggu, 08 Juni 2014

Quo Vadis Sistem Pendidikan Indonesia

Dimuat di Harian Radar Bengkulu, 2 Mei 2014

Oleh   Indah Kartika Sari, SP
(Ketua Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Dewan Pimpinan Daerah  I Propinsi Bengkulu)

            Tahun ini, hari pendidikan nasional  kembali diperingati di tengah  gegap gempita suasana perubahan politik Indonesia.  Sangat  beralasan  jika  peringatan hardiknas tahun ini pemerintah mengambil tema “ Pendidikan Untuk Peradaban Indonesia Yang Lebih Unggul”.    Sebab tidak bisa dipungkiri pendidikan memiliki pengaruh besar dalam proses perubahan menuju peradaban yang dicita-citakan.  Namun sistem pendidikan seperti apa yang seharusnya  dijalankan pemerintah  sehingga peradaban unggul bisa terwujud ?
            Melihat sejenak sistem pendidikan  Indonesia, secara jujur kita harus mau mengakui bahwa sistem pendidikan kita masih  dihadapkan pada kondisi yang sangat pelik dari berbagai aspek.  Dari sisi kualitas anak didik, sampai saat ini, pendidikan di Indonesia masih belum  dikatakan mampu mencetak generasi unggulan berkarakter pemimpin. Jamak generasi saat ini memiliki kecenderungan membebek,  individualis  dan mengalami disorientasi kehidupan. Setiap hari dunia pendidikan dibuat muram dengan kasus-kasus kenakalan remaja seperti tawuran, pergaulan bebas hingga narkoba.  Ketakutan akan terjadinya “lost generation” nampaknya sudah di depan mata. Apakah yang terjadi dengan bangsa ini di masa depan jika generasi penerusnya adalah generasi yang  hedonis, berkepribadian rapuh dan tak peduli dengan permasalahan bangsa ? 
            Jika berbicara tentang anak didik, tentu tidak lepas dari peran tenaga pendidik/guru yang menjadi pelaku utama dalam pendidikan.  Kualitas guru sangat menentukan kualitas anak didik.  Namun  kasus-kasus guru yang selama ini mencuat di depan publik menjadi kenyataan yang tak terbantahkan bahwa kredibitas dan kapabilitas  guru  masih dipertanyakan.  Kasus predator pedofilia di salah satu lembaga pendidikan internasional di Jakarta menjadi bukti lemahnya fungsi pengawasan dan pengasuhan guru terhadap anak didik sehingga anak didik menjadi intaian pelaku pelecehan seksual.  Di sisi lain, gaji guru yang masih jauh di bawah standar secara tidak langsung berkorelasi dengan profesionalitas dan etos kerja guru.  Pengaruhnya terasa  semakin menggerus  idealisme guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Sebab secara manusiawi, beban hidup yang menghimpit akibat sistem kapitalis meniscayakan para guru mencari tambahan penghidupan sehingga fokus perhatian terhadap anak didik menjadi berkurang.
            Rumitnya permasalahan dunia pendidikan di Indonesia diperparah dengan kurikulum pendidikan yang berbasis sekuler matrealis. Adalah wajar jika output pendidikan adalah generasi-generasi yang lebih mengejar kepentingan nilai tinggi dan materi serta melupakan aspek moralitas dan integritas. Tingginya biaya pendidikan semakin mendorong para pelaku pendidikan mengedepankan aspek “balas jasa” kepada orang tua daripada memanfaatkan ilmu yang sudah di dapatnya untuk kemaslahatan umat. Disingkirkannya agama dari kehidupan membuat semakin maraknya kriminalitas yang dilakukan oleh kaum terdidik (intelektual).  Mereka adalah orang-orang yang memang kapabel di bidangnya.  Namun sayang di sisi lain mereka adalah orang-orang yang justru dipertanyakan kredibilitasnya.
Terbukti bahwa sistem demokrasi sekuler sudah  tidak mampu menghasilkan output pendidikan yang mumpuni untuk bangsa ini.  Sementara itu turunan demokrasi yaitu sistem liberalisasi ekonomi terbukti nyata menjadikan pendidikan sebagai hajat hidup yang dikomersialisasikan. Wajarlah jika pendidikan hanya dinikmati oleh segelintir orang yang berduit.  Kalangan menengah ke bawah hanya menikmati fasilitas pendidikan seadanya bahkan dibiarkan begitu saja hidup dalam kebodohan. Tak heran  jika angka buta huruf  di Indonesia tergolong masih tinggi.
 Di tengah-tengah kekalutan persoalan  quo vadis sistem pendidikan Indonesia, kembali kepada syariah dalam bingkai Khilafah menjadi alternatif jitu agar umat Islam kembali menjadi umat terbaik. Dalam system Khilafah, himbauan Rosul tentang kewajiban menuntut ilmu direalisasikan dengan sebenar-benarnya. Pendidikan merupakan hak  dasar setiap warga dan dijamin oleh negara. Semua rakyat dalam negara Khilafah mendapatkan pendidikan yang gratis dan berkualitas. Pembiayaan pendidikan diambil dari kas negara.  Tentu saja politik pendidikan sangat bergantung kepada kebijakan ekonomi negara.  Negara yang mengadopsi sistem ekonomi Islam tentu saja menjadikan semua kekayaan alam milik rakyat dikelola berdasarkan syariat Islam untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat termasuk dalam pembiayaan pendidikan. Negara tidak akan menyerahkan pengelolaan SDA berdasarkan mekanisme pasar yang menjadi basis ekonomi liberal. Dengan demikian, tentu harapan untuk memberikan gaji guru dengan jumlah yang layak menjadi kenyataan.  Para intelektual akan lebih kreatif dan inovatif dalam menghasilkan karya-karya besar dalam dunia pendidikan.  Negara akan memberikan penghargaan yang setimpal dengan karya-karya tersebut dan memanfaatkan karya-karya tersebut untuk kemaslahatan rakyat.   
Tanggung jawab negara dalam menyempurnakan kewajiban menuntut ilmu bagi seluruh rakyat dibarengi dengan kurikulum pendidikan berbasis aqidah Islam.  Kurikulum ini bertujuan menghasilkan  output pendidikan yang berkepribadian Islam, menguasai saintek, peduli terhadap bangsa sebagai cikal bakal calon pemimpin masa depan. Supaya kurikulum tersebut terintegrasi secara utuh dalam diri anak didik, negara khilafah hanya akan memberikan lisensi mengajar kepada para tenaga pendidik/guru yang sudah dianggap memiliki kelayakan integritas, profesionalitas dan etos kerja.
Dengan kecemerlangan sistem pendidikan Islam, tidak heran negara Khilafah selama berabad-abad lamanya telah menghasilkan output pendidikan yaitu generasi unggul dambaan umat.  Mereka adalah sosok-sosok negarawan yang mujtahid dan sosok ulama yang mujahid.  Oleh karena itu quo vadis pendidikan Indonesia hanyalah dengan sistem pendidikan Islam yang diterapkan dalam institusi khilafah demi terwujudnya peradaban Indonesia yang maju, kuat dan terdepan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pemuda Islam : Think About Palestine Not Valentine

Oleh Najmah Jauhariyyah (Pegiat Sosial Media Bengkulu) Manusia adalah makhluk yang mampu berfikir.  Dengan berfikir manusia menjadi makhlu...