Senin, 21 Juli 2014

POTRET BURAM ANAK-ANAK, ANTARA GAZA DAN INDONESIA, KHILAFAH JAWABANNYA

Opini Hari Anak 23 Juli dimuat di Harian Radar Bengkulu


Oleh
Indah Kartika Sari,SP
(Ketua Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD I Bengkulu)
Jika tanggal 23 Juli ini adalah hari lahir anak-anak Indonesia, hadiah apakah yang akan kita berikan kepada mereka ? Anak-anak biasanya sangat suka dengan berbagai hadiah, makanan juga mainan.  Lihat bagaimana ekspresi mereka saat kita memberikan itu semua pada anak-anak. Kita melihat binar kegembiraan di wajah mereka.  Seandainya Indonesia merupakan sebuah keluarga harmonis, dimana pemerintah sebagai orang tua yang penuh kasih kepada anak-anaknya, tentu 70,5 juta anak-anak Indonesia adalah anak-anak yang  beruntung.  Mereka akan mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya.  Mereka akan mendapatkan gizi yang cukup, mendapatkan pendidikan yang berkualitas, mendapat pelayanan kesehatan terbaik, mendapatkan perlindungan dari orang tuanya, tidur di rumah yang layak, memiliki identitas yang jelas, memperoleh kesempatan bermain, memiliki keluarga yang rukun, orang tuanya bekerja keras demi  kebahagiaan dan kesejahteraan anak, orang tua tidak mengeksploitasi anak bahkan anak mendapatkan tempat komunikasi yang menyenangkan tanpa kekerasan. Namun kondisi ideal semacam ini masih berupa impian yang tak jelas kapan akan terwujud.  Kenyataannya banyak kejadian menyedihkan yang menimpa anak-anak Indonesia. Sampai sekarang banyak anak-anak Indonesia yang terlantar.  Mereka tidak memperoleh perlindungan bahkan mendapatkan kekerasan baik di sekolah, di tempat umum bahkan di rumah. Banyak orang tua yang melakukan eksploitasi terhadap anak sehingga anak kehilangan hak belajar dan bermain karena mereka harus bekerja menghidupi orang tuanya. Mereka juga tidak mendapatkan makanan bergizi, pakaian dan tempat tinggal yang layak bahkan tidak mendapatkan jaminan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas. Kondisi ini hanya  gambaran kecil betapa buruknya potret anak-anak di Indonesia.
Kondisi yang memprihatinkan juga dirasakan oleh anak-anak yang hidup di Gaza. Akibat serangan Israel, anak-anak Palestina menderita tekanan psikologis dan trauma. Anak-anak di Gaza kini akrab dengan bahasa-bahasa yang merefleksikan pengalaman mengerikan mereka. Siapa sangka, huruf A yang biasa dikenalkan untuk kata “Apple” atau huruf B untuk kata “Ball” kini telah berubah makna di mata anak-anak Palestina. Huruf A menjadi “Apache”, jenis helikopter tempur yang digunakan Israel menyerang Gaza, huruf B menjadi kata “Blood” (darah), huruf C untuk kata Coffin (peti mati), dan huruf D sebagai kata “Destruction” (kehancuran). Anak-anak di Gaza sekarang, telah kehilangan masa kanak-kanak yang seharusnya bisa mereka nikmati dengan keriangan dan kehangatan. Sebuah studi yang dilakukan Universitas Queen, Kanada menyebutkan, pola kekerasan yang dialami anak-anak Palestina mengakibatkan dampak psikologis yang sangat serius dan butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkannya.
Serangan keji pasukan Zionis Israel selama 22 hari ke Jalur Gaza, menimbulkan dampak psikologis bagi anak-anak Gaza yang mungkin akan terbawa sepanjang hayat. Mereka bukan hanya mendengar deru pesawat tempur dan ledakan bom yang menakutkan, tapi juga menyaksikan bagaimana rumah mereka hancur, ayah, ibu dan saudara-saudara mereka meninggal secara menyedihkan.
Tapi itulah yang terjadi. Bagi Indonesia  dan Gaza juga negeri-negeri muslim lainnya, anak-anak adalah asset masa depan.  Di tangan merekalah umat Islam akan eksis. Namun sistem kapitalis sekuler yang menguasai Indonesia sampai hari ini telah menciptakan kondisi buruk bagi perkembangan fisik, kejiwaan dan perilaku anak. Sebenarnya masalah anak telah diatur dalam UUD 1945 pada pasal 34 ayat 1 yang menyatakan bahwa anak terlantar merupakan tanggung jawab negara. Faktanya, anak – anak terlantar semakin bertambah tiap tahunnya. Bahkan, nasib anak-anak tersebut tidak jelas. Mereka, tidak mendapatkan pemenuhan kebutuhan pokok berupa makanan, pakaian, dan rumah yang layak. Tidak sedikit dari mereka dibiarkan berbuat asusila (pornografi dan pornoaksi). Bahkan diantara mereka ada yang menjadi korban dan sekaligus pelaku perbuatan amoral tersebut. Banyak anak-anak yang tergadaikan hak-haknya karena kelalaian keluarga yang tidak mengerti bagaimana memenuhi hak anak-anak. Juga masyarakat yang sangat abai dengan lingkungan bersosialisasi anak. Sementara di sisi lain negara juga tidak peduli dengan jaminan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan mereka.
Sementara itu, anak-anak Gaza yang unggul menjadi target genosida agresor Israel dengan dukungan negara-negara kapitalis Barat.  Kehadiran anak-anak Gaza menjadi ancaman tersendiri bagi eksistensi Israel.  Mereka dianggap sebagai motor penggerak perjuangan pembebasan Palestina yang karena kesabaran dan kegigihannya  menciutkan nyali tentara-tentara Israel. Inilah sebabnya mengapa penangkapan terhadap pemuda dan anak-anak meningkat. Mereka dipenjara, disiksa, dilecehkan dan diintimidasi.
Nasib anak-anak di Indonesia dan Gaza hanya akan berubah jika mereka hidup dalam naungan sistem yang memanusiakan mereka.  Sistem khilafah terbukti menjadi pelindung bagi asset umat ini karena mereka akan diperlakukan sebagai amanah Allah yang berhak untuk dijaga fitrahnya, jasad, darah, jiwa dan kehormatannya,
 Negara Khilafah Islam akan menjamin kesejahteraan setiap anak yang hidup di dalamnya. Negara Khilafah memfasilitasi pemenuhan kebutuhan pokok anak-anak seperti makanan, pakaian dan perumahan melalui kepala keluarga/wali yang  bertanggung jawab terhadap nafkah anggota keluarga (termasuk anak-anaknya).  Apabila anak tidak memiliki orangtua dan wali yang mampu mencukupi kebutuhan mereka, maka sebagai jalan terakhir negara Khilafah akan mengambil tanggung jawab ini. Sementara untuk pemenuhan kebutuhan pokok yang bersifat komunitas seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan/perlindungan merupakan tanggung jawab  penuh negara. Dalam negara Khilafah, anak-anak tidak disibukkan dengan kewajiban bekerja untuk menambah penghasilan keluarga. Kalaupun sifatnya membantu, tidak untuk menambah penghasilan tetapi sekedar melatih anak untuk siap menjalani kehidupan di masa datang dengan mandiri. 
Anak-anak yang hidup dalam negara khilafah, akan mendapatkan hak-haknya secara penuh.  Mereka akan hidup dengan suasana bermain yang menggembirakan namun tetap terjaga pembentukan kepribadian Islamnya. Negara Khilafah membekalinya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan saintek dan kehidupan. Oleh karena itu wajarlah bila negara Khilafah mampu melahirkan generasi yang hidup, tumbuh dan berkembang secara optimal, memiliki pemikiran dan perilaku yang cemerlang, juga berkontribusi bagi tegaknya peradaban yang maju, kuat  dan terdepan.  






Minggu, 20 Juli 2014

Menjaga Sabar dan Istiqomah Dalam Berjuang Pasca Ramadhan


Tak terasa, kita sudah menjalani hari-hari di Bulan Ramadhan yang penuh dengan rahmat dan maghfirah. Sebentar lagi tamu agung itu akan meninggalkan kita dengan segenap kebaikan-kebaikan yang ditinggalkannya. Selama hampir sebulan penuh, madrasah Ramadhan telah memberikan banyak pelajaran tentang makna kehidupan.  Sebulan penuh kita ditempa dengan perjuangan melaksanakan semua  ketaatan kepada  Allah mulai dari  amal sholih  yang fardhu hingga amal sholih yang nafilah.  Selama  sebulan  penuh, kita berlatih untuk  sabar dalam  mengendalikan  hawa nafsu  dan sabar dalam menjalankan berbagai ketaatan walau lapar dan dahaga.  Menuntut ilmu dan berdakwah  harus kita jalani di tengah kewajiban kita sebagai anak ataupun ummun wa robbatul bait.  Semuanya itu akan terbayar  dengan limpahan pahala serta ampunan dari Allah sekaligus memperoleh predikat taqwa. Ramadhan memberikan kesan mendalam yang tak pernah terlupakan sekalipun bulan telah berganti.  Perasaan harap-harap cemas kembali menyelimuti hati-hati kita.  Harapan akan limpahan pahala  dan  kedudukan hamba yang bertaqwa sekaligus rasa takut kalau-kalau ini adalah Ramadhan terakhir kita.  Namun dengan  tawakkal kepada Allah, kita berharap dapat menjalani kehidupan yang lebih baik  dengan bekal pelajaran berharga selama melalui bulan Ramadhan.

Semangat untuk menjalani hari-hari di bulan Ramadhan tentu diinspirasi oleh semangat Rasulullah dan para sahabat yang tak pernah lelah berjuang  mewujudkan pribadi dan umat terbaik.  Siang hari bulan Ramadhan, mereka bagaikan singa padang pasir yang gagah berani  menghadapi dan mengalahkan musuh yang jumlahnya berkali-kali lipat. Lembah Badar menjadi saksi bisu bagaimana kesabaran dalam  menahan lapar dan haus serta ketaatan penuh kepada Allah membuat pertolongan Allah  turun dengan  ribuan pasukan malaikat yang memakai tanda. Firman Allah SWT : 

"(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mu’min: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda." QS ali Imran (3) : 124-125

Sementara itu di malam harinya, mereka bagaikan rahib yang sedemikian khusu’ beribadah kepada Allah. Tidak ada satu pun malam yang terlewat kecuali  malam-malam qiyamullail dan mudarasatul Qur’an.  Dalam berinfaq pun, Rasulullah dan para shahabat jangan ditanya.  Mereka adalah orang yang paling pemurah. Namun saat Ramadhan, Rasulullah berinfaq ibarat angin berhembus karena begitu cepat dan banyaknya.  Ibnu Abbas RA berkata :

"Nabi SAW adalah orang yang paling pemurah dalam kebaikan, apalagi di bulan Ramadhan ketika ditemui oleh Jibril. Dulu Jibril menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan sampai selesai. Nabi melakukan mudarasatul Qur’an bersama Jibril. Jika beliau telah ditemui oleh Jibril maka beliau menjadi orang yang paling pemurah dalam kebaikan seperti angin yang terhembus". [HR. Al-Bukhoriy (1803)]    


Ramadhan demi Ramadhan di tengah-tengah gemilangnya cahaya Islam, telah membentuk pribadi-pribadi unggul yang menakjubkan.  Ramadhan demi Ramadhan membuat umat Islam semakin kuat, berwibawa dan disegani baik lawan maupun kawan.   Kondisi tentu jauh berbeda dengan suasana Ramadhan kita.  Di tengah-tengah kezhaliman  dan bobroknya sistem sekuler, bukan hal yang mudah untuk melaksanakan berbagai  ketaatan.  Godaan-godaan materi terkadang membuat Ramadhan  kita nyaris tanpa makna. Kegiatan ibadah berlangsung  hanya rutinitas tanpa ruh.  Awal Ramadhan saja, rakyat sudah dikejutkan “hadiah” kenaikan TDL yang dampaknya terasa mencekik kehidupan rakyat.  Kenaikan TDL ini tentu berimbas pada kenaikan sejumlah harga barang dan kebutuhan pokok.  Di tengah tuntutan ekonomi yang sedemikian tinggi, banyak diantara kaum Muslimin yang kehilangan ghiroh ibadah Ramadhan.  Sementara Ramadhan tak juga mampu menghentikan berbagai macam kemaksiatan sekalipun  umat Islam gemar membaca dan mengkhatamkan al Qur’an.  Suksesi kepemimpinan di negeri ini pun tak mampu memberikan jalan keluar bagi penyelesaian berbagai problem bangsa.  Siapa pun pemimpin terpilih, kondisi sistem kehidupan Indonesia tidak akan banyak berubah.  Sistem ekonomi kita dipastikan masih bercorak kapitalisme sehingga penguasaan SDA masih ada di tangan asing. Sistem pendidikan kita masih berasaskan sekuler  sehingga generasi  belum lepas sepenuhnya dari gaya hidup hedonis.  Pun sistem hukum masih akan memegang prinsip “tajam ke bawah, tumpul ke atas”.  Sementara sistem politik demokrasi  tetap akan memberikan dampak bagi mewabahnya “money politic”.

Kondisi serupa juga dirasakan oleh umat  di negeri-negeri  Islam di berbagai  belahan dunia. Ramadhan demi Ramadhan berlalu namun derita umat masih belum berakhir. Awal Ramadhan sampai saat ini, penduduk Ghaza tetap mengalami serangan Israel. Di bulan Ramadhan ini mereka masih hidup dalam kondisi memprihatinkan; kekurangan makanan, tidak mendapatkan supplay listrik dan air bersih.  Setiap saat mereka dihantui ketakutan dan kematian.  Hal yang sama dialami oleh penduduk  Suriah.  Mereka berpuasa selama lebih dari 17  jam sehari  namun tanpa persiapan berbuka dan sahur.  Suasana Ramadhan di Irak pun tak jauh berbeda.  Baru-baru ini jet tempur Suriah menjatuhkan  bom di atas Masjid tempat  menghafal al Qur’an anak-anak Irak.  (“Ya Allah, dengan kuasaMu, Engkau mampu  melakukan semuanya  untuk menyelamatkan mereka, generasi penghafal al Qur’an ini.  Namun itu semua menjadi pengingat bagi kami untuk bersegera memenuhi panggilanMu untuk mengembalikan Khilafah  agar tidak menjadi sesalan kami saat mereka tuntut kami di depan pengadilanMu…”). Secercah harapan muncul  negeri  Syam dan Irak. Fenomena Arab Spring ternyata menular ke seantero Syam dan Persia.  Bagaikan  bola salju yang menggelinding, opini  tuntutan penerapan Syariah Islam dalam bingkai  negara Khilafah  juga menggema di Irak, negeri seribu satu malam.  Namun rupanya Allah masih menguji keIstiqomahan hambaNya dalam berjuang sesuai metode RosulNya. Khilafah  Rasyidah jilid II skenario Allah SWT  hanya akan ditegakkan oleh orang-orang  pilihan yang bekerja ikhlas karenaNya.  

Di tengah-tengah situasi  yang sedemikian menyedihkan,  Allah masih mempertemukan kita dengan oase Ramadhan sebagai penawar dahaga kehidupan.   Sekalipun tanpa Rosulullah dan tanpa kehadiran seorang Kholifah  di tengah – tengah umat, Ramadhan tahun ini tetap dijalankan penuh rasa optimis.  Allah dan Rasulullah menjanjikan pahala 50 kali lipat pahala para sahabat bagi orang – orang yang kokoh berpegang pada agama ini di hari-hari yang sulit dan berat.  Demikian sulit dan berat sehingga digambarkan hanya orang-orang sabar saja yang mampu menggenggam kebenaran yang diibaratkan sebagai bara api (HR Abu Dawud). Jika di hari-hari biasa saja, begitu luar biasa pahala yang Allah janjikan kepada orang yang menggenggam bara api, apatah lagi  jika  terjadi di bulan Ramadhan.

Bagi para pejuang Syariah dan Khilafah, setidaknya ada tiga hikmah yang dapat diambil dari Ramadhan tahun ini, diantaranya :

Pertama, bulan Ramadhan sebagai bulan introspeksi;  Ramadhan  merupakan bulan yang dikaruniakan Allah setelah 2 bulan sebelumnya  yaitu Rajab dan Sya’ban.  Dalam bulan Rajab terdapat satu  peristiwa penting dalam sejarah umat Islam yaitu  keruntuhan Khilafah. Bulan ini  rutin dijadikan sebagai momen untuk  kembali mengingatkan   komitmen  HT  bersama umat terhadap perjuangan penegakkan Syariah dan Khilafah. Pasca agenda Rajab Konferensi Islam dan Peradaban (KIP), bukan berarti kita boleh istirahat dan berhenti berjuang. Sebab, Khilafah yang kita perjuangkan masih belum tegak. Aktivitas penyadaran dan pembinaan harus kian digalakkan. Kontak terhadap umat dan tokoh-tokoh berpengaruh mesti lebih digiatkan. Dukungan ahl al-quwwah juga harus terus diusahakan. Perkara penting yang harus selalu diingat, bahwa menegakkan Khilafah merupakan kewajiban yang harus ditunaikan. Yang mewajibkan adalah Allah SWT, Tuhan Yang menciptakan kita. Dia pula yang menghidupkan, memberikan rezeki dan memenuhi semua kebutuhan kita. Lalu atas dasar apa kita berani menolak perintahNya? Sungguh, tidak layak bagi makhluk ciptaanNya berani durhaka terhadap Allah SWT.  Layaknya kewajiban, siapa pun yang berjuang untuk menunaikan kewajiban ini akan diganjar dengan pahala. Apalagi Khilafah termasuk kewajiban yang agung, bahkan tâj al-furûdh (mahkota kewajiban). Pahala yang diberikan kepada pejuangnya tentulah amat besar. Inilah yang seharusnya memotivasi kita untuk terus bergerak dan tidak berhenti berjuang. Hidup yang hanya sekali harus benar-benar digunakan untuk mencari bekal mendapatkan pahala dan ridhaNya.  Sebaliknya, siapa pun yang meninggalkan kewajban ini, apalagi menghalanginya, diancam dengan azab yang sangat pedih. Ketakutan terhadap besarnya azab ini sejatinya melecut kita agar lebih semangat lagi berjuang menegakkan Khilafah. Siapakah yang dapat menghindar dari pengadilanNya? Siapa pula yang bisa mengelak dari siksaNya? Siapakah yang tahan menerima siksaNya yang amat dahsyat? Tidak ada seorangpun yang mampu menghadapinya. Firman Allah SWT :


ٱصْلَوْهَا فَٱصْبِرُوٓا۟ أَوْ لَا تَصْبِرُوا۟ سَوَآءٌ عَلَيْكُمْ ۖ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Masuklah kalian ke dalamnya (rasakanlah panas apinya). Baik kalian bersabar atau tidak, sama saja bagi kalian. Kalian diberi balasan atas apa yang telah kalian kerjakan (QS ath-Thur : 16).

Selain fardhun, Khilafah juga merupakan wa’dun (janji) Allah SWT. Janji tersebut disebutkan dalam QS an-Nur : 55. Janji tersebut dikuatkan dengan busyrâ (berita gembira) dari Rasululullah SAW tentang akan berdirinya Khilafah ‘alâ minhâj an-Nubuwwah pasca berakhirnya mulkan jabriyyan (kekuasaan diktator). Juga berita gembira tentang Kota Roma yang akan ditaklukkan setelah penaklukkan Kota Konstatinopel. Telah maklum, yang berhasil ditaklukkan baru Konstantinopel oleh Sultan Muhammad al-Fatih, sementara Roma belum pernah ditaklukkan. Dengan demikian hadis tersebut mengokohkan bakal berdirinya Khilafah di akhir zaman. Bukan hanya terhadap Roma, Khilafah yang akan berdiri itu akan menaungi seluruh bumi yang pernah dihimpunkan kepada Rasulullah.

Janji Allah SWT itu pasti akan terealisasi. Sebab, Dia tidak akan mengingkari janjiNya (lihat QS Ali Imran : 9, al-A’raf : 31, ar-Rum: 6). Dia juga pasti bisa mewujudkan janjiNya. Tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi kehendakNya. Siapa pun yang menghalangi tegaknya Khilafah, niscaya akan gagal dan sia-sia. Siapakah yang bisa menghalangi datangnya fajar subuh di pagi hari ? Siapakah yang bisa mencegah terbitnya matahari setelah malam usai ? Seperti itulah Khilâfah ‘alâ minhâj an-Nubuwwah ats-tsâniyyah akan tegak..

Lalu atas dasar apa kita ragu untuk berjuang menyongsong janjiNya? Jika para sahabat, tabi’in dan  umat Islam terdahulu berlomba-lomba untuk menaklukkan Konstantinopel, maka seharusnya juga kita bersemangat menaklukkan Roma. Dulu ‘Uqbah bin Nafi’ berkata, “Tuhanku, kalaulah tidak terhalang lautan ini, aku pasti berjalan di banyak negeri, guna berjihad di jalanMU (Ibnu al-Ashir, Al-Kâmil fî al-Târikh). Tekad yang sama juga harus kita tancapkan dalam dada. Berjuang keras menegakkan Khilafah, lalu menaklukkan seluruh penjuru dunia, hingga tidak ada yang tersisa sebagaimana diberitakan dalam Hadits Nabi SAW. Kita membayangkan, betapa bahagianya kaum Muslim ketika janji Allah SWT itu tiba. Ketika Khilafah diproklamirkan, Khalifah dibaiat, dan Liwa-Raya dikibarkan, seluruh kaum Muslim menyambutnya dengan suka cita. Betapa bahagianya tatkala kita termasuk orang-orang yang berada dalam barisan pejuangnya, orang-orang yang menghibahkan hidupnya untuk memperjuangkan tegaknya Khilafah.

Lantas siapkah kita menyongsong janji Allah dan bisyaroh RosulNya ? Momentum Ramadhan kali ini, sungguh tepat untuk kita jadikan sebagai momen instrospeksi diri.  Sudahkah kita melakukan upaya yang sungguh-sungguh dalam memperjuangkan kembalinya Khilafah.  Atau masih ada setitik dalam diri kita rasa malas dan enggan ? Jika itu masih ada, maka 10 malam terakhir ini menjadi saat yang tepat untuk melakukan tazkiyyatun nufus melalui taubat nashuha.  Lantas bagaimanakah dengan kelayakan kita ? Sudah pantaskah derajat kita disejajarkan dengan generasi shahabat, ashhabul khilafah yang pertama dengan kualitas akal, ilmu, ibadah, nafsiyah yang mengagumkan ? In syaa Allah masih ada waktu beberapa hari lagi untuk menjalani madrasah Ramadhan sebagai bekal perjalanan panjang kehidupan di bulan-bulan berikutnya.

Sebagai bahan renungan, Amir  HT mengingatkan kita semua dalam surat beliau tanggal 4 Ramadhan 1435 H, ”Sesungguhnya  perkara  al-Khilafah al Islamiyyah amatlah agung  dan posisinya sungguh sangat signifikan.  Berdirinya tidak akan sekedar berita yang menjadi  bahan ejekan media massa  menyesatkan.  Akan tetapi dengan izin Allah,  berdirinya Khilafah  akan menjadi “gempa” yang menggema, yang membalikkan neraca internasional dan mengubah wajah dan arah sejarah. Sesungguhnya Khilafah akan kembali berupa  Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian  sebagaimana kabar gembira yang disampaikan Rosul SAW.  Maka orang-orang yang  menegakkannya seperti  orang-orang yang menegakkan Khilafah Rasyidah yang pertama (yaitu)  orang-orang yang bertaqwa lagi bersih,  mencintai umat  dan umat mencintai  mereka.  Mereka mendoakan umat dan umat pun mendoakan mereka.  Umat merasakan  kebahagiaan bertemu mereka dan mereka merasakan kebahagiaan bertemu dengan umat, bukannya keberadaan mereka  di tengah-tengah umat justru dibenci.  Begitulah, mereka adalah ashhabul Khilafah  mendatang yang akan mengikuti manhaj kenabian.  Allah akan memberikannya  kepada orang yang memang layak untuknya. Dan sungguh kita memohon kepada Allah agar kita termasuk  orang-orang yang layak itu dan termasuk orang-orang yang mengaturnya.  Kita memohon kepada Allah  agar memberi karunia kepada kita dengan tegaknya Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian.   “Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu…” (QS at Taubah : 111).  Janganlah anda berputus asa dari rahmat Allah, sehingga Allah tidak menyia-nyiakan  untuk  anda-wahai saudara-saudara yang dimuliakan-kelelahan yang telah anda  persembahkan.  Allah tidak menolak  permohonan yang anda pinta  dariNya.  Allah tidak akan menggagalkan harapan yang anda ajukan kepadaNya. Maka tolonglah kita  dengan meningkatkan kesungguhan  dan pemberian. Perlihatkan kepada Allah kebaikan pada diri anda. Niscaya Allah akan menambah kebaikan untuk anda.  Jangan sampai ucapan main-main bisa memalingkan anda  dari perjuangan anda yang penuh dengan kesungguhan lagi jujur.”

Kedua, bulan Ramadhan sebagai bulan melatih kesabaran dan pengorbanan; Dalam sebuah hadistnya, Rasulullah mengatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran. Bulan Ramadhan mengajarkan kita tentang arti kesabaran khususnya kesabaran dalam menjalankan ketaatan dan ketundukan terhadap seluruh syariatNya.  Sementara itu untuk menjalankan seluruh ketaatan tersebut diperlukan pengorbanan dan keikhlasan.  Saat bulan Ramadhan ini, kesabaran ini kembali ditunjukkan saudara-saudara kita di belahan bumi Ghaza. Dalam kondisi sakit dan kelaparan, mereka masih bisa menjawab dengan kalimat hamdalah saat ditanya kondisinya. Ditambah lagi rezim setempat tak memberikan ruang gerak yang luas bagi perkembangan dakwah Syariah dan Khilafah. Harapan dan tumpuan mereka tertuju kepada saudara-saudaranya di Indonesia yang dikaruniai Allah keluasan dan kemudahan untuk menyebarkan dakwah Syariah dan Khilafah.   Saudara kita yang tertindas setiap saat berdoa kepada Allah untuk kita.  Salah satu doa yang dilantunkan salah satu warga Palestina :
“Ya Allah, sampaikan kepada saudara-saudara kami di Indonesia kecupan dari baitul Maqdis.  Kami sedang mendoakan mereka dari Baitul Aqsho.  Berjuang dan hidup bersama mereka dengan perasaan dan pikiran kami.  Berikan taufiq kepada kaum Muslimin di Indonesia agar mereka berjuang dan datang membawa tentara pembebasan.  Kami menunggu anda semua dengan penuh kesabaran dan kerinduan, wahai penduduk Indonesia…Semoga Allah memberkahi seluruh jerih payah anda.  Kami sangat senang  andai saja kami hidup bersama anda. Anda mengadopsi negara Islam dengan dasar aqidah yang kokoh dan agung.  Kami mencintai anda karena Allah dan kami pun dirundung rindu untuk berjumpa dengan anda...” 
Bagaimana sambutan kita terhadap doa-doa mereka ?  Apakah kita sungguh-sungguh  ingin memperjuangkan tegaknya Khilafah karena kecintaan kepada saudara-saudara kita yang masih dirundung duka ? ataukah kita lebih banyak membuat pemakluman-pemakluman terhadap diri kita ?  Sejatinya kemenangan dakwah akan bisa diperoleh apabila ada pengorbanan yang berimbang baik harta, waktu, pikiran, tenaga hingga nyawa.  Generasi muslim pada masa Rasulullah telah melakukan pengorbanan yang besar.  Dengan itulah Rasulullah dan para sahabat berhasil mendirikan negara Islam di Madinah.  Pengorbanan yang serupa diberikan oleh generasi muslim pada Khulafaur Rasyidin dan para Kholifah sesudahnya hingga kekuasaan Islam meluas hampir 2/3 dunia.  Kini kembalinya Khilafah yang kedua pun menuntut pengorbanan kita.  Memang berkorban itu sulit bila tidak dibiasakan. Namun  Allah SWT menjanjikan pahala yang melimpah bagi siapapun yang berkorban ikhlas baik di kala lapang maupun sempit. Semakin banyak berkorban, maka semakin cepat Khilafah kembali.  Jangan  sampai terlintas dalam diri kita bahwa kita sudah banyak berkorban hanya karena kita sudah menjadi bagian dari dakwah ini atau merasa sudah cukup berkorban hanya dengan mencukupkan diri menghadiri halqoh saja, membayar infaq atau membaca buletin. Sementara di luar itu belum cukup upaya dakwah kita atau melakukan dakwah secara minimalis.
Tegaknya Khilafah adalah janji Allah sehingga Allah jualah yang akan menentukan waktu yang tepat kapan kemenangan itu diberikanNya kepada kita. Oleh karena itu pengorbanan dan kesabaran  dalam menapaki jalan perjuangan mencapai “mahkota kewajiban” ini menjadi perkara yang mutlak dimiliki oleh kita. Perjuangan menegakkan Khilafah hakikatnya adalah pertarungan melawan pihak-pihak yang tidak menghendaki kembalinya Khilafah.  Musuh-musuh  Islam juga manusia biasa. Mereka juga memiliki rasa capek, lelah bahkan frustasi.  Bila kita tidak sabar dalam perjuangan hakikatnya kita kalah sabar dengan musuh yang hendak memadamkan cahaya Islam.  Kesabaran merupakan keniscayaan dalam  aktivitas menyongsong kembalinya Khilafah.  Apa jadinya bila kita tidak bersabar dalam halqoh. Tidak sabar saat masiroh. Tidak sabar saat mengikuti dan mengisi kajian. Tidak sabar melakukan kontak personal maupun kontak tokoh. Tidak sabar saat menjalankan proses rekrutmen.  Tentu saja tanpa kesabaran kita, seluruh aktivitas itu tidak akan berlangsung sukses.  Demikian juga saat melakukan tugas sebagai ummun wa rabbatul bait di satu sisi dan menjadi pengemban dakwah di sisi yang lain.  Bila kita tidak sabar dengan kedua tugas yang berat ini bisa jadi kita memilih untuk mengesampingkan salah satu dari keduanya.  Padahal Allah tidak akan membebani kita dengan kewajiban-kewajiban di luar batas kemampuan kita. Ketika Allah memberikan kewajiban-kewajiban tersebut, sebenarnya kita mampu menjalankannya. Yang harus dilakukan adalah berupaya mensinergikan kewajiban-kewajiban tersebut bukan malah membenturkan keduanya atau mengkambinghitamkan salah satunya ketika tidak menunaikan yang lain.
Ketiga, bulan Ramadhan adalah bulan melatih istiqomah; tidak hanya istiqomah dalam menjalankan ketaatan yang sifatnya ritual namun juga seluruh ketaatan yang dituntut oleh Allah dan RasulNya. Tidak hanya ketaatan selama bulan Ramadhan, namun juga ketaatan setelah berlalunya bulan Ramadhan.  Demikian halnya dengan upaya-upaya kita untuk mengembalikan Khilafah, tentu harus sejalan dengan metode dakwah yang ditunjukkan Rasulullah SAW.  Dengan istiqomah berpegang teguh pada  thoriqoh dakwah Rasulullah, HT telah memantapkan kedudukannya sebagai sebuah partai Islam Internasional  yang diperhitungkan di dunia. Saat ini HT menempuh tahapan paling sulit karena HT harus menyeru umat secara lantang, langsung dan menantang tanpa memperhitungkan resiko dan hasilnya.  Aktivitas peleburan menjadi aktivitas syabab/h sehari-hari.  Semakin kerasnya perlawanan terhadap dakwah dan penolakkan dari beberapa negara dalam aktivitas tholabun nushroh menandakan kemenangan itu sudah semakin dekat.  Karena.diperlukan upaya yang keras untuk menjemputnya.  Namun tidak semua orang mengetahui jalan untuk meraihnya. Akibatnya justru  melakukan tindakan yang menjauhkan diri dari kemenangan.  Oleh karena itu, setiap pengemban dakwah wajib istiqomah (teguh pendirian) dalam mengemban dakwah.  Ia tidak boleh berpaling sedikit pun dari  mengemban maupun dari dakwahnya.  Setiap upaya melalaikan keduanya adalah dosa.
1.      Terkait dengan kewajiban istiqomah dalam mengemban (tabligh).  Allah berfirman :
“Sungguh telah didustakan pula para Rasul sebelum kamu.  Namun mereka tetap bersabar atas pendustaan dan penganiayaan yang dilakukan atas mereka hingga datang petolongan Allah..” (QS al An’am : 34)
Secara tersirat Allah memerintahkan Rasul agar istiqomah dalam mengemban (tabligh) meski dihadapkan dengan pendustaan dan penganiayaan  orang-orang kafir yang menentang dakwah beliau. Sebab dakwah beliau adalah dakwah yang ide-idenya bertentangan dengan hukum-hukum atau tradisi  lama yang berkembang di masyarakat. Jika dulu Rosul dan sahabat dihadapkan pada ide-ide jahiliyah yang berpangkal dari paganisme. Sementara saat ini, upaya mengusung ide Syariah dan Khilafah dihadapkan pada ide HAM, demokrasi, pluralisme, nasionalisme dll.  Tak jarang  pengemban dakwah dilabeli cap “fundamentalis”, “ekstrimis” dan “teroris” baik oleh penguasa, masyarakat maupun musuh-musuh Islam. Bahkan penentangan ini juga berujung pada ancaman terhadap jiwa pengemban dakwah.
2.    Terkait dengan istiqomah di dalam dakwah yaitu konsisten dalam memegang teguh ide-ide dan hukum-hukum syariah.  Setiap pengemban dakwah haram untuk melenceng sedikitpun dari ide-ide dan hukum-hukum Syariah.  Sayangnya tidak sedikit pengemban dakwah yang tidak istiqomah dengan dakwahnya.  Betapa banyak yang menyimpang dari pemikiran Islam entah karena kedangkalan pemikiran atau sikap pragmatis mereka. Sebaliknya mereka malah ikut-ikutan menyerukan pemikiran yang bertentangan dengan Islam.  Yang lebih memprihatinkan, banyak pula diantara mereka yang tidak sabar ingin segera meraih kemenangan, lantas menjerumuskan diri dalam kancah sistem kufur.  Tidak aneh jika kemudian ada partai Islam yang lebih konsisten menyerukan demokrasi ketimbang menyerukan Syariah Islam karena khawatir partainya “tidak laku” dalam pemilu; berkoalisi dengan partai sekuler atau memproklamirkan sebagai partai terbuka bagi non muslim demi meraih dukungan sebanyak-banyaknya. Mungkin dengan semua itu, mereka menyangka akan meraih kemenangan.  Jika kemenangan yang dimaksud adalah berhasilnya kader partai Islam duduk di kursi kekuasaan, itu mungkin saja. Namun jika yang dimaksud dengan kemenangan itu adalah berdaulatnya ideology Islam yang terwujud dalam  penerapan Syariah Islam secara total dalam bingkai negara Khilafah, maka itu hanya mungkin diraih dengan keistiqomahan dan keteguhan dalam mengemban dakwah, apapun resikonya.
Demikianlah, agar Ramadhan kali ini lebih bermakna, pelajaran terhadap arti kesabaran dan istiqomah semoga menjadi bekal untuk menjalankan tugas maha berat pada bulan-bulan berikutnya.  Kesabaran dan keistiqomahan di jalan Allah menjadi sebab datangnya pertolongan Allah agar kemenangan hakiki dapat diraih demi kembalinya peradaban dan umat terbaik. In syaa Allah….
Referensi :
2.http://www.eramuslim.com/berita/pesawat-tempur-suriah-hajar-masjid-tempat-menghapal-anak-anak-irak.htm
3.Buku Hikmah-Hikmah Bertutur, Arif B. Iskandar, Bab. Istiqomah dan Sabar Dalam Perjuangan Dakwah hal.118-121
4.http://hizbut-tahrir.or.id/2014/06/24/musim-semi-arab-mencapai-irak/


6.http://blogselasamalam.wordpress.com/world-islamic/ramadhan-di-gaza-di-tengah-blokade-dan-pemutusan-listrik/

Minggu, 29 Juni 2014

Meniti SAMARA Dalam Berkah Ramadhan

Mendengar ungkapan “Baitiy Jannatiy” atau “Rumahku adalah Surgaku” serasa menyejukkan hati.  Betapa tidak, suasana surga yang menyenangkan dan menggembirakan hadir di tengah-tengah rumah tangga.  Datangnya tamu agung bulan Ramadhan yang penuh berkah seakan melengkapi suasana damai rumah tangga dalam naungan cinta Ilahi.  Rumah tangga bagaikan surga dunia ini digambarkan Allah SWT dengan ungkapan Sakinah, Mawaddah dan Rahmah.  Firman Allah SWT :


وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu Mawaddah dan Rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [QS Ar-Rum 21].

Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya an-Nizhom al-ijtima’iy fii al-Islam, menjelaskan konteks ayat  ini yang artinya, pernikahan itu menjadikan suasana sakinah yaitu suasana di mana seorang suami merasa cenderung kepada istrinya.  Begitu pula sebaliknya, istri pun akan cenderung kepada suaminya.  Keduanya akan merasa tentram dan damai di sisi pasangannya masing-masing.  Kecenderungan ini membuat mereka akan merasa dekat dan akan berusaha saling mendekat, bukannya saling menjauh.  Rasa tentram dan damai itu akan membuat suasana bahagia.  Kedekatan dan keakraban yang terjadi pada suami istri akan memunculkan rasa cinta (mahabbah) sehingga muncullah suasana mawaddah yang menjadi pelekat kuat hubungan pasangan suami istri. Dengan adanya mawaddah, rumah  tangga muslim akan bertabur  cinta dan kemesraan.  Mawaddah akan tercipta bila suami istri  saling  memberi,  sering mengingat dan mensyukuri kebaikan masing masing serta menjalin komunikasi yang penuh dengan  kehangatan dan persahabatan. 

Dengan berjalannya biduk rumah tangga mereka dari waktu ke waktu, maka Allah menurunkan suasana rahmah (rasa kasih sayang).  Rahmah adalah bentuk kasih sayang  suami istri tanpa adanya imbalan, saling menutup kekurangan masing-masing dan menjadi pelengkap ketika mawaddah sudah mulai menurun.  Suasana rahmah  yaitu cinta dan  kasih sayang yang tulus, tak pernah lapuk dimakan waktu juga tak pudar dimakan usia. 

Maa syaa Allah, karena suasana rahmah inilah, kita sering melihat betapa seorang suami masih setia kepada istrinya walaupun secara fisik istrinya sudah tidak cantik dan tidak menarik lagi.  Suasana rahmah membuat kita dibuat takjub dengan pasangan suami istri yang awet hingga  mereka menjadi kakek nenek.  Bahkan suasana rahmah membuat kita kagum dengan  kesetiaan suami dalam mendampingi istrinya menjalani hari-harinya yang tak berdaya dan  ketulusannya merawat sang istri dengan segala keterbatasannya.  Padahal di saat yang sama suami itu mampu untuk menikah lagi. Namun saat itu, suasana rahmah-lah yang berperan besar menopang keutuhan rumah tangga.  Subhaana-Llah, siapa lagi yang menurunkan suasana sakinah,mawaddah  dan rahmah itu kalau bukan Sang Pemilik Cinta dan Kasih Sayang…?

Ketika Allah SWT menurunkan ayat tersebut  tentu saja Allah menginginkan sebuah pernikahan tersebut diliputi kedamaian dan ketentraman. Kedamaian dan ketentraman ini merupakan awal dari suasana bahagia. Suasana bahagia akan menciptakan keluarga tangguh yang siap melahirkan generasi cemerlang.
Rasulullah SAW menegaskan lebih rinci tentang gambaran kebahagiaan seorang muslim dalam sabdanya:

اربع من السعادة : المرأة الصالحة والمسكن الواسعة والجار الصالح والمركب الهنىء—واربع من الشقاء: الجار السوء والمرأة السوء والمركب السوء والمسكن الضيق  (رواه أبن حبان(

“Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang: istri yang shalehah, tempat tinggal yang lapang, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan seseorang : tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang jelek dan tempat tinggal yang sempit”.(HR.Ibnu Hiban)

Namun sangat disayangkan, saat Ramadhon seperti sekarang rumah tangga muslim masih banyak yang diliputi kemuraman.  Ramadhan yang penuh dengan keberkahan belum mampu menciptakan suasana bahagia dalam rumah tangga muslim.  Krisis identitas keluarga muslim masih menjadi persoalan yang  belum terselesaikan hatta Ramadhan tiba.

Meski Ramadhan sudah silih berganti datang dan pergi, fenomena disharmonisasi keluarga ini menjadi persoalan yang terus merebak  ke seantero negeri, tidak terkecuali Bengkulu. Kasus perceraian di Propinsi Bengkulu sangat memprihatinkan.  Ini ditunjukkan oleh peningkatan angka perceraian dari tahun ke tahun. Penyebab perceraian didominasi oleh permasalahan  ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan gangguan pihak ketiga. Selain itu faktor perceraian juga disebabkan oleh pasangan menikah usia muda yang belum matang dalam menyelesaikan persoalan rumah tangga.  Tidak hanya di kota  Bengkulu, kasus perceraian juga meningkat pesat di kabupaten-kabupaten.  Di Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur, tingginya angka perceraian diduga akibat  perselingkuhan di dunia jejaring sosial. Di Kabupaten Rejang Lebong, dari 600 perkara perceraian yang mengajukan ke pengadilan agama, didominasi  393 kasus cerai gugat.  Amat mencengangkan bahwa kasus perceraian di Bengkulu ternyata didominasi oleh gugat cerai. Sebuah penelitian mahasiswa FISIP Universitas Bengkulu tentang meningkatnya fenomena gugat cerai.  Diantara penyebabnya adalah banyak istri menjadi wanita karir,  sehingga penghasilan istri lebih besar,  istri tidak sabaran dan menuntut hal-hal diluar kemampuan suami (seperti uang belanja), istri merasa memiliki hak yang sama dengan suami apalagi  hak perempuan sudah diatur oleh UU sehingga  jika ada  KDRT, istri berani menuntut cerai suami. Sebab lain, pendidikan perempuan sudah tinggi sehingga perempuan merasa lebih mandiri dan tidak membutuhkan suami lagi.

Tentu saja meningkatnya angka perceraian ini membawa dampak negatif yang tidak kalah memprihatinkan. Ini terbukti dari tingginya penderita HIV AIDS  di Bengkulu yang  90 persennya didominasi   oleh kelompok usia produktif seperti pelajar, pemuda dan mahasiswa.  Disinyalir meningkatnya penderita  HIV AIDS  di Bengkulu salah satunya akibat broken home. Hal ini sejalan dengan ungkapan  Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat dr. Sugiri Syarief, MPA bahwa kenakalan dan penyimpangan perilaku anak dan remaja dari tahun ke tahun yang terus meningkat merupakan bukti rapuhnya sendi kehidupan perkawinan dan keluarga serta merosotnya peran orangtua akibat ancaman nyata liberalisasi keluarga (situs BKKBN online 2010).

Meski Ramadhan  hadir di tengah-tengah rumah tangga muslim, namun rumah tangga  muslim  sudah mulai kehilangan visi dan misi dalam membentuk  dan menjalankan biduk rumah tangga.  Suasana sistem sekuler kapitalis  telah menggerus peran suami, istri dan anak.   Dampak ekonomi liberal telah memaksa para suami  terpaksa kehilangan peran utamanya sebagai  pencari  nafkah  akibat PHK. Kerasnya sistem  sekuler kapitalis  telah memaksa  para  istri  menggantikan peran suami menjadi pencari nafkah.  Beban kerja yang sedemikian  tinggi ditambah  konsekuensi meninggalkan keluarga jauh ke negeri orang telah membuat para istri mengalami tekanan psikologis yang berat.  Mereka terpaksa mengorbankan peran utamanya sebagai  ibu dan pendidik generasi.   Ketidakmampuan memikul beban rumah tangga dan pekerjaan  secara bersamaan telah memicu konflik rumah tangga yang berujung pada keretakan.  Nasib generasi berada di ujung tanduk. Kehilangan makna kebahagiaan  dan kasih sayang akibat  perceraian kedua orang tuanya.

Suasana ibadah Ramadhan  yang  sarat dengan taqwa  sudah  terkikis  dalam  keluarga muslim. Motivasi materi  telah  memaksa  para orang tua mengejar karir  hingga melupakan kenikmatan beribadah di bulan Ramadhan.  Sang  anak  tidak dapat lagi merasakan suasana ibadah di bulan Ramadhan bersama kedua orang tua mereka.   Di kala  buka puasa tiba, anak hanya sendirian menyantap hidangan berbuka tanpa kehadiran  orang tua yang masih berada di tempat kerja.   Sang anak juga tidak dapat merasakan betapa nikmatnya tadarrus al Qur’an  dan qiyamullail bersama orang tuanya.   Pada saat sahur pun,  ibu mereka tidak dapat  menghidangkan  hidangan sahur  bahkan  ayah yang diharapkan dapat memberikan nasehat-nasehat penggugah  jiwa pun  tak didapatkan pula karena keduanya masih tertidur pulas  akibat keletihan dalam bekerja.  Sekalipun Ramadhan hadir,  namun  suasana keluarga terasa gersang  dan  jauh dari  nilai-nilai ruhiyah.   Bahkan yang memprihatinkan,  Ramadhan yang syahdu terusik dengan berbagai keributan  akibat  konflik dalam rumah tangga.  Stress dan beban mental  melanda pemikiran dan  hati anak-anak.   Di akhir Ramadhan,  tidak ada  persiapan dalam menyambut datangnya malam Qodar.  Keluarga justru tersibukkan dengan persiapan menyambut   lebaran.   Para ayah  di malam-malam i’tikaf justru  bekerja  keras mencari tambahan  biaya untuk persiapan  menyambut lebaran.  Lebaran hanya dijalankan sebatas seremonial belaka.   Pasca Romadhan, tidak ada yang berbekas  dari madrasah  Ramadhan  selain  rutinitas  tanpa makna.  Wajar  saja  jika  dengan berlalunya  Ramadhan,  degradasi  moral  generasi  dan tingkat perceraian  semakin  bertambah.

Oleh karena itu  seiring dengan datangnya Ramadhan tahun ini,   penting bagi  keluarga muslim  menjadikan Ramadhan  sebagai  madrasah untuk mengembalikan  “role”  keluarga muslim sejati.  Keluarga muslim  sejati adalah  potret keluarga  yang menjadikan  aqidah Islam sebagai  landasan dalam membangun hubungan suami,  istri dan anak-anak dalam suasana kesakinahan.  Rumah  tangga dibangun  atas dasar  ikatan  yang kokoh  (mitsaaqon gholizhon) yang menjadikan Allah  sebagai Saksi sekaligus sebagai  Wakil dalam segala urusan  dalam rumah tangga.  Bagi suami sebagai qowwam dalam rumah tangga, istri dan anak adalah titipan sekaligus amanah  Allah yang harus  dipelihara kefitrahan dan kesucian aqidahnya.  Dengan kepemimpinannya itu, suami memiliki otoritas hendak kemana biduk rumah tangganya itu akan diarahkan. Tentu dengan dasar aqidah yang kokoh, suami tidak akan membiarkan debu-debu kehidupan  sekuler  kapitalis mengikis habis  keyakinan, pemikiran bahkan  sikap istri dan anak-anaknya.  

Keluarga muslim sejati akan menjadikan  keridhoan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam mengarungi kehidupan rumah tangga.  Menjadikan taqwa kepada Allah sebagai landasan dalam membangun rumah tangga. Menjadikan  ketaatan kepada syariah sebagai  bekal dalam menyelesaikan berbagai persoalan rumah tangga. Aqidah yang kokoh akan membawa pemahaman  setiap anggota keluarga bahwa rizki itu berasal dari Allah sehingga tugas suami adalah berusaha memberikan makanan, pakaian, pendidikan dan kesehatan berasal dari nafkah  yang halal dan thoyib.  Anggota keluarga yang lain  berusaha agar  suami atau kepala keluarga  tidak terperosok ke dalam   pekerjaan   yang haram. Aqidah yang kokoh akan melahirkan sikap ketaatan  istri kepada suami  dalam rangka  ketaatan kepada Allah.  Aqidah yang kokoh akan memunculkan kepatuhan  anak kepada orangtua.  Aqidah  yang kokoh pun akan  melahirkan sikap ridho seorang istri dalam  menjalankan kewajibannya  sebagai ummun wa robbatul bait.   Sementara  itu  aqidah  yang  kokoh juga  akan  menjadikan  suami   memperlakukan  istri dan anak-anaknya  seperti  sahabat  yang bisa  saling berbagi. Aqidah  yang kokoh akan  menjadikan seluruh anggota keluarga melaksanakan  berbagai kewajiban tanpa menuntut hak-haknya karena  meyakini  bahwa   hak-hak sekaligus pahala  akan diperoleh setelah melaksanakan berbagai  kewajiban dalam keluarga.

Keberadaan sebuah keluarga di masyarakat  akan terasa lengkap jika  semua anggota  keluarga  terlibat aktif dalam  melakukan perubahan  masyarakat.   Tidak bisa dipungkiri bahwa rusaknya sistem di masyarakat menjadi  pangkal persoalan  disfungsi keluarga.   Oleh karena itu  Allah SWT membimbing  pasangan suami istri untuk berdoa   tidak hanya  meminta kepadaNya agar dikaruniakan pasangan hidup  dan  anak-anak yang menjadi  penyejuk mata (qurrata a’yun)   namun  juga memohon agar  menjadi  pemimpin  bagi umat Islam.   Menjadi   teladan sekaligus  agen  perubahan di  masyarakat untuk membimbing  mereka  menuju umat yang terbaik.   Ramadhan  menjadi  momen  yang   tepat  bagi  keluarga muslim  untuk  menularkan ruh perjuangan  kepada  masyarakat  di sekitarnya.  Keterlibatan  keluarga  muslim dalam  ajang  buka bersama atau  kegiatan  kultum  ba’da tarawih  menjadi  sarana yang  tepat  untuk   menyebarkan opini  penegakkan Syariah dan Khilafah.

Potret keluarga samara dambaan umat tidak begitu saja terwujud   setelah  ijab kabul diucapkan.   Sebab setelah itu,  suami   dan  istri  akan memikul  amanah  setengah  agama  bahkan  menempuh   banyak  ujian dalam  proses  mengharmonisasi  dua orang  yang berbeda  karakter  dan latar  belakang  sekaligus keluarga  besar  masing-masing  di belakangnya.  Untuk itu ada  beberapa kiat  yang  menjadi pedoman bagi   siapa saja akan memasuki  jenjang  rumah  tangga  atau  pun yang  sudah   menjalaninya,  diantaranya :

Pertama,  menetapkan visi dan misi berumah tangga.   Dengan datangnya  Ramadhan, suami  dan   istri  dapat melakukan   evaluasi  sekaligus  introspeksi  terhadap  tahun-tahun   perjalanan  keluarga  yang sudah  mereka bina  selama ini.  Bahkan  perjalanan  baru  sebuah  keluarga  dapat dimulai  lagi  sejak  datangnya Ramadhan.  Setiap  anggota keluarga  dapat membuat rancangan  aktivitas  Ramadhan  untuk menguatkan  visi  dan misi  keluarga  yang sudah ditetapkan oleh  kepala  keluarga.

Kedua,  mengazzamkan niat berkeluarga  untuk   meraih  keridhoan Allah.  Menjadikan  hidup  berkeluarga  sebagai  sarana  beribadah  kepada Allah  juga  menjadi  lahan  untuk  meraih  pahala  sebanyak-banyaknya.   Berkeluarga  menjadi  sarana  untuk  belajar  menjadi  pemimpin  dan  siap untuk  dipimpin   sesuai  kapasitas  amanah  yang  dimiliki.   Berkeluarga  juga sebagai  sarana  untuk  membentuk  suami sholih,  istri  sholihah  sekaligus  anak-anak  yang sholih  dan sholihah yang  semuanya akan masuk ke dalam  surga bersama-sama  (QS az Zukhruf : 70).

Ketiga,  Setiap anggota keluarga  memahami  hak dan kewajiban masing-masing. Perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga bukan untuk mendiskriminasikan perempuan tetapi demi harmonisasi peran masing-masing. Hikmah pembedaan hukum yang berkaitan pada perempuan sejatinya adalah perlindungan terhadap kehormatan dan kesucian perempuan, sesuatu yang tidak disadari dan dipahami para pegiat gender.   Merefresh kembali  hak dan kewajiban  suami istri  dapat dilakukan  melalui proses  belajar  baik dengan  metode training  atau dauroh yang bisa dilakukan  saat moment Ramadhan. Ingatlah bahwa kehidupan  berkeluarga adalah kehidupan yang penuh dengan proses belajar dan  menggali pengalaman sebanyak-banyaknya.  Sering-seringlah melakukan sharing dengan  pasangan suami istri yang  lebih senior dan berpengalaman.

Keempat,  mengenal lebih dekat keluarga-keluarga teladan di masa Rosulullah.  Mereka adalah  keluarga-keluarga yang telah berhasil meraih  semua  kriteria kebahagian yaitu  kebahagiaan seksual, kebahagiaan moral, kebahagiaan intelektual, kebahagiaan spiritual dan kebahagiaan ideologis. Semua kebahagiaan tersebut dapat diraih melalui sistem yang kondusif  bagi  lahirnya keluarga samara  yang ideologis. Kebahagiaan keluarga akan terasa lengkap jika ditunjang oleh kebahagiaan material yaitu kesejahteraan keluarga. Hal ini dicirikan keluarga tersebut mampu memenuhi semua kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan dasar maupun kebutuhan pelengkap. Setiap keluarga membutuhkan kekuatan finansial untuk dapat eksis. 

Kesejahteraan keluarga tidak bisa diraih melalui peran dan tanggung jawab individu atau keluarga saja. Islam menjamin tercapainya kesejahteraan hidup melalui mekanisme penerapan sistem politik ekonomi Islam. Dalam politik ekonomi Islam, upaya meraih kesejahteraan bukan hanya dibebankan kepada individu dan keluarga, namun juga merupakan tanggung jawab negara. Individu (suami/ayah) berkewajiban untuk mencukupi kebutuhan dirinya juga keluarganya.  Dalam pandangan Islam, yang pertama bertanggung jawab memenuhi nafkah keluarga adalah suami/ayah (QS al-Baqarah[2]:233). Jika seseorang tidak memiliki suami/ayah atau ada suami/ayah tapi mereka tergolong yang miskin sehingga tidak mampu menafkahi orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, maka kewajiban nafkah ini beralih kepada ahli warisnya (QS al-Baqarah[2]:233).  

Mekanisme berikutnya adalah peran negara.  Negara sebagai penanggung jawab urusan umat wajib memenuhi kebutuhan warganya.  Islam menetapkan bahwa negara wajib memenuhi kebutuhan rakyatnya, baik kebutuhan dasar sebagai individu (sandang, pangan, dan perumahan) maupun kebutuhan kolektif berupa keamanan, kesehatan, dan pendidikan. Agar negara bisa melaksanakan hal-hal yang diwajibkan atasnya, maka Islam telah memberikan wewenang kepada negara untuk mengelola harta kepemilikan umum seperti minyak, tambang besi, tembaga dan sebagainya.  Semua harta yang termasuk kepemilikan umum harus dieksplorasi dan dikembangkan dalam rangka mewujudkan kemajuan taraf perekonomian umat. Sebab, kekayaan tersebut adalah milik umat, sementara negara hanya mengelolanya. Jika negara mengelola semua harta milik umum dengan benar semata demi kemashlahatan rakyat, kemudian individu juga sungguh-sungguh berusaha untuk mencari rizki demi menafkahi diri dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, maka kesejahteraan hidup individu rakyat akan terjamin. 

Dalam sistem Islam juga tidak akan ditemui para perempuan yang mendapat beban tambahan sebagai pencari nafkah.  Para perempuan tetap dapat melaksanakan tugasnya sebagai ibu tanpa diganggu dengan tuntutan bekerja. Negara melindungi ibu dan keluarga agar sejahtera dan dapat menjadi pendukung terbentuknya masyarakat yang kuat. Itulah gambaran negara khilafah yang menerapkan aturan Allah secara keseluruhannya. Oleh karena itu, hukum Allah SWT saja yang diterapkan oleh negara khilafah yang dapat menjaga keutuhan keluarga sekaligus menjamin kebahagiaan dan kesejahteraannya.  Ramadhan  adalah moment tepat bagi keluarga muslim  untuk  berkontribusi mewujudkannya. WaLlaahu a’lam bish-showab..



Rabu, 25 Juni 2014

Sambut Ramadhon Bulan Perjuangan



Ramadhan segera datang……Bersukacitalah……Menyambut puasa, bulan penuh kurnia….…Puasa ayo puasa…..Allah sayangi kita…….Suci lahir serta batin……Terbukalah pintu surga…..Demikian syair lagu Ramadhan yang diciptakan oleh AT Mahmud, pengarang lagu anak-anak yang terkenal dengan syair-syairnya yang mendidik…

Syair lagu di atas memang sesuai dengan perasaan dalam hati kita. Ramadhan adalah tamu agung yang dinantikan oleh setiap orang. Tak peduli tua muda, laki-laki perempuan, semuanya bersuka cita sambut Ramadhan. Walau rasa itu sama, terkadang gaya menyambutnya berbeda-beda. Ada yang sekedar gembira karena melihat momen Romadhon dari sisi manfaat belaka. Namun ada juga menyambut Ramadhan dengan harap-harap cemas. Berharap agar Ramadhan dan keutamaannya segera datang disertai berbagai persiapan matang dalam menyambutnya. Bercampur aduk juga dengan perasaan khawatir, kalau-kalau usia tak sampai untuk menggapainya. Betapa banyak orang yang telah mendahului kita, tak sempat menikmati Romadhan karena ajal telah lebih dahulu sampai mendahului datangnya Ramadhan. Oleh karena itu, banyak-banyaklah berdoa dengan doa yang diajarkan Rosulullah : “Allaahumma baariklanaa fii Rojaba wa Sya’bana, wa ballighna Romadhoona…aamiin.(“Wahai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan..aamiin”). Doa ini tidak lain adalah sebagai bentuk kepasrahan luar biar seorang hamba di hadapan al Kholiq akan takdirnya dan secercah harapan agar Dia mempertemukan dengan Ramadhan. Bahkan setelah bertemu dengan Ramadhan pun,  seorang hamba yang mengetahui hakekat Ramadhan berharap agar Ramadhan dapat berlangsung terus sepanjang tahun.  Rasulullah sedemikian indah menggambarkan ini dalam hadistnya, “Sekiranya manusia mengetahui kebaikan-kebaikan yang dikandung bulan Ramadhan, tentulah mereka mengharapkan agar Ramadhan berlangsung terus sepanjang tahun..”(HR Ibnu Abdi adDunya).

Rasulullah tentu tidak akan menyampaikan doa tersebut kepada kita, seandainya tidak ada keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan, diantaranya :
1.       Bulan Ramadhan adalah bulan terjadinya perang Badar al Kubro. Perang ini terjadi pada tahun kedua Hijriyah.  Saat itu pasukan Rasulullah SAW hanya berkisar 305 orang.  Sementara pasukan Quraisy berjumlah 3 kali lipat dari pasukan kaum Muslimin.  Walaupun dalam keadaan lapar dan dahaga, pasukan umat Islam berhasil memenangkan peperangan dengan pertolongan dari Allah dengan pasukan Malaikat yang datang berbondong-bondong…Maa syaa Allah.  Pada bulan Ramadhan pula, kaum Muslimin berhasil menaklukkan kota Makkah. Ka’bah dan sekitarnya dibersihkan dari berbagai kemusyrikan.  Kaum Muslimin melepas kerinduan mereka dengan keluarga yang ditinggalkan selepas hijrah ke Madinah.  Setelah Futuh Makkah, kekuasaan Rasulullah dengan berkah Ramadhan semakin bertambah luas hingga mencapai batas-batas Jazirah Arab. Dengan berkah Ramadhan, kekuatan dan kewibawaan kaum Muslimin semakin tak tertandingi.  Selain itu beberapa peristiwa peperangan juga terjadi pada bulan Ramadhan seperti perang untuk menaklukkan Baitul Maqdis yang saat itu dilakukan oleh Sholahuddin al Ayyubi.

2.       Bulan Ramadhan terdapat sebuah malam yang penuh dengan kemuliaan yaitu malam Qodar. Jika kita diberikan kesempatan beribadah di malam itu maka nilainya adalah seperti melaksanakan ibadah selama 1000 bulan. Muslim mana yang mampu beribadah selama itu tanpa diselingi oleh aktivitas lain. Disisi lain jika dibandingkan dengan usia kita, tentu amat jarang ada muslim yang diberikan nikmat umur panjang selama 1000 bulan atau lebih kurang 83 tahun.  Dengan keutamaan yang sedahsyat ini, tentu seorang muslim tidak ingin mengalami kerugian dengan melewatkan malam tersebut tanpa melaksanakan aktivitas ibadah apapun.

3.       Bulan Ramadhan adalah bulan turunnya al Qur’an yang mulia. Bulan dimana kekasih Allah siap mengemban Risalah yang tidak sanggup dipikul oleh langit dan gunung.  Namun berkah Romadhan membuat Rosulullah siap untuk memikul tugas tersebut sehingga beliau mewariskannya hingga generasi akhir zaman.  Oleh karena itu tidak ada aktivitas yang paling utama di bulan Ramadhan selain melakukan tadarrus al Qur’an sekaligus mentadabburinya.  Dalam hadits riwayat Bukhory dan Muslim diceritakan bahwa setiap bulan Ramadhan, Rasulullah ditemani oleh malaikat Jibril melakukan mudarasah al Qur’an (saling membaca dan saling menyimak bacaan al Qur’an).   Tentu tak kalah penting, pada masa sekarang kaum Muslimin berjuang untuk membumikan al Qur’an sebagai sumber hukum-hukum Islam yang fungsinya sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda antara yang haq dan batil.  Dengan berkah turunnya al Qur’an pada bulan Ramadhan maka Allah membuka  keberkahan dari pintu-pintu langit dan bumi.  Hal ini secara jelas dinyatakan Allah SWT, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang  di dalamnya diturunkan al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia  dan pembeda (antara yang haq dan yang batil)..” QS al Baqoroh : 185

4.       Bulan Ramadhan merupakan sebuah bentuk kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman karena Allah memberikan kesempatan bertaubat dan mensucikan diri sekaligus melakukan berbagai amal ibadah yang bernilai pahala berlipat ganda sebagai persiapan dalam mengarungi bulan-bulan berikutnya.  Bahkan puasa yang Allah perintahkan pada bulan Ramadhan merupakan  bentuk syukur orang-orang yang beriman atas petunjuk dan hidayah yang datang dariNya lewat al Qur’an.

Demikianlah Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang beriman berupa bulan Ramadhan dengan puasa sebagai amal unggulan yang diwajibkan kepada mereka sebagaimana seruannyaNya :” Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa..” QS al Baqoroh : 185. 

Masa-masa berpuasa adalah masa-masa yang indah.  Kalau dulu di masa kanak-kanak, sering sekali didendangkan lagu rukun Islam yang lima.  Maka saat kita dewasa, lagu itu hampir dipastikan selalu terngiang-ngiang di telinga kita.  Bahkan mengingat lagu itu  membuat kita makin  semangat menjalankan puasa.  Namun berjalannya waktu membuat kita semakin menyadari tentang hakikat puasa.  Kalau dulu, bisa jadi kita berpuasa dengan semangat hanya karena iming-iming hadiah dari orangtua atau karena harus mengisi buku agenda Ramadhan.  Sekarang tentu kadar puasa kita tingkatkan karena dorongan taqwa. Dalam berbagai haditsnya, kerapkali Rosulullah memberikan sindiran tentang rupa-rupa orang berpuasa.  Rosul bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun yang didapatkan hanya lapar dan haus saja..” (HR Thabrani).  Tak heran, meski di dalam hadits dikatakan bahwa saat Ramadhan, setan-setan dibelenggu, namun masih saja banyak orang yang melakukan kemaksiyatan. Jika saat Ramadhan, masih banyak yang melakukan kemaksiatan, bagaimana halnya pada saat di luar Ramadhan, dimana setan-setan tidak dibelenggu...? Namun Rosulullah berpesan, jika ingin puasanya menjadi berkualitas dan diterima Allah bahkan  menghapus dosa-dosa di masa lampau, maka berpuasalah karena landasan iman dan berharap keridhaan Allah saja. Sebagaimana sabdanya,”Siapa saja yang berpuasa karena iman dan mengharap ridho Allah maka akan diampuni dosanya yang telah lalu..” (HR Bukhory Muslim) 

Oleh karena itu siapa saja yang menginginkan dirinya terhindar dari kemaksiatan, maka hendaklah dia menjadikan puasa itu sebagai perisai.  Sejatinya orang yang berpuasa, rasa takutnya kepada Allah menjadi lebih bertambah. Hawa nafsunya lebih terkendali.  Sikapnya lebih berhati-hati. Tingkah laku dan kata-katanya lebih terkontrol.   Sebuah perjuangan yang sangat berat.  Seberat perjuangan  seekor ulat yang buruk rupa merubah diri menjadi seekor kupu-kupu  yang cantik jelita.  

Demikian juga yang dilakukan oleh manusia termulia, Rasulullah SAW.  Bulan yang sarat dengan perjuangan ini tidak disikapi beliau dengan biasa-biasa, namun disikapi dengan sambutan istimewa layaknya tamu agung.  Tidaklah beliau memasuki bulan Ramadhan melainkan mengawalinya dengan banyak melakukan puasa pada bulan Sya’ban.  Tidaklah beliau memasuki bulan Ramadhan melainkan banyak melakukan syiar-syiar Islam kepada kaum Muslimin tentang keutamaan Ramadhan agar mereka bersiap diri menyambut kedatangannya dengan persiapan sempurna.  Sedemikian hormatnya beliau pada bulan Romadhan, sehingga beliau mengucapkan banyak tahniah kepada para sahabatnya sebagai bentuk kegembiraan akan datangnya tamu nan agung.  Bahkan di penghujung bulan Sya'ban, beliau sebagai kepala Daulah di Madinah mempersiapkan orang-orang yang terpercaya. Mereka ini berjaga-jaga di seluruh negeri untuk melihat hilal Ramadhan sebagai tanda dimulainya awal Ramadhan.  Setelah hilal terlihat, orang-orang terpercaya ini menginformasikan kepada Rosulullah untuk disampaikan kembali kepada seluruh umat Islam. Beliau melakukan ini semua  seakan-akan Beliau tidak rela jika momen detik-detik pergantian bulan Sya’ban menuju bulan Ramadhan terlewatkan begitu saja.

Nah, bagaimana dengan kita ? Sudahkah kita menyambutnya dengan persiapan optimal agar puasa berkualitas bisa kita raih ?  Puasa berkualitas untuk melakukan perubahan diri walaupun persentasenya sedikit demi sedikit. Puasa berkualitas untuk meraih kualitas keluarga dan umat terbaik.  Tentu banyak kiat yang harus dilakukan untuk mencapai target diatas, diantaranya :

Pertama, luruskan niat bahwa puasa yang akan kita lakukan tahun ini adalah puasa yang kita lakukan karena mengharap keridhoan Allah semata. Buatlah komitmen bahwa puasa tahun ini  haruslah puasa yang lebih baik dari puasa tahun lalu dan berusahalah untuk mewujudkan tujuan puasa yakni membentuk   pribadi yang bertaqwa serta keluarga dan umat yang terbaik.

Kedua, pahami hakekat Ramadhan dan puasa dengan sebenar-benarnya. Pemahaman itu didapatkan dari berbagai kajian pra Ramadhan maupun dari berbagai referensi yang terkait dengan pembahasan  seputar Ramadhan.  Kuasai juga fiqh puasa Ramadhan dari A sampai Z sehingga puasa kita menjadi amal sholih yang diterima Allah SWT.

Ketiga,  persiapkan amal-amal unggulan yang dilaksanakan selama Ramadhan untuk tambahan kebaikan bagi diri, keluarga dan umat.  Bahkan kalau perlu diagendakan dan ditargetkan selesai saat berakhirnya bulan Romadhan.  Misalnya jika dihari-hari biasa kita hanya bisa membaca al Qur’an  satu juz maka saat bulan Ramadhan, dalam sehari bisa  membaca 2 atau 3 juz.  Jangan lupa untuk menghafal beberapa ayat al Qur’an beserta artinya setiap hari. Qiyamullail dan shodaqoh juga merupakan aktivitas unggulan yang biasa dikerjakan Rosulullah saat Romadhan. Dan yang lebih penting, aktivitas ibadah yang bernilai wajib jangan sampai ditinggalkan. Menuntut ilmu, melakukan tugas sebagai pendidik generasi bahkan berdakwah adalah  aktivitas maha penting yang harus dilakukan pada bulan Ramadhan. Di saat umat, hatinya terpaut dengan zikir kepada Allah,  dekat kepada ayat-ayat Qur’an tentu akan lebih mudah menyentuh hati dan pemikiran mereka untuk menerima dakwah dalam rangka membumikan al Qur’an dalam setiap sendi kehidupan mereka. Hatta, momen Romadhan sangat tepat untuk mengajak umat untuk kembali menegakkan  Syariah dalam bingkai Khilafah. Fenomena kebijakan pemerintah yang zhalim serta sistem kapitalis sekuler yang banyak menyengsarakan rakyat menjadi entry point yang tepat untuk menggelorakan semangat perjuangan umat Islam kembali menjadi umat terbaik  di bawah naungan Khilafah.

Keempat, banyak-banyak bertaubat kepada Allah SWT  atas dosa-dosa kita kepadaNya.  Bersilaturahmi kepada orang tua dan sanak saudara, bersilah ukhuwah kepada saudara-saudara seaqidah dalam rangka memohon maaf atas segala kesalahan sehingga Allah memudahkan jalan kita untuk menggapai Ramadhan.

Kelima, persiapkan keluarga untuk bersama meniti sakinah, mawaddah wa rahmah dalam berkah Ramadhan.  Di tengah berbagai konflik yang mendera keluarga karena imbas sistem Kapitalisme, momen Ramadhan menjadi ajang introspeksi dari setiap anggota keluarga untuk menjadi keluarga unggul yang dapat mencetak generasi cemerlang. Madrasah Ramadhan menciptakan sekaligus mengembalikan keharmonisan keluarga yang mungkin sempat hilang atau mengalami kelesuan.

Nah, sudah siapkah kita sambut Ramadhan ? Sudah siapkan kita mengisi bulan Ramadhan dengan berbagai amal sholih sebagai bentuk perjuangan kita untuk kembali menjadi pribadi-pribadi Muttaqiin yang Mukhlisin ? In syaa Allah..























Pemuda Islam : Think About Palestine Not Valentine

Oleh Najmah Jauhariyyah (Pegiat Sosial Media Bengkulu) Manusia adalah makhluk yang mampu berfikir.  Dengan berfikir manusia menjadi makhlu...