Indah Kartika Sari,SP
(Ketua Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD I Bengkulu)
Jika tanggal 23 Juli ini adalah hari
lahir anak-anak Indonesia, hadiah apakah yang akan kita berikan kepada mereka ?
Anak-anak biasanya sangat suka dengan berbagai hadiah, makanan juga
mainan. Lihat bagaimana ekspresi mereka
saat kita memberikan itu semua pada anak-anak. Kita melihat binar kegembiraan
di wajah mereka. Seandainya Indonesia
merupakan sebuah keluarga harmonis, dimana pemerintah sebagai orang tua yang
penuh kasih kepada anak-anaknya, tentu 70,5 juta anak-anak Indonesia adalah
anak-anak yang beruntung. Mereka akan mendapatkan kasih sayang dari
orang tuanya. Mereka akan mendapatkan
gizi yang cukup, mendapatkan pendidikan yang berkualitas, mendapat pelayanan
kesehatan terbaik, mendapatkan perlindungan dari orang tuanya, tidur di rumah
yang layak, memiliki identitas yang jelas, memperoleh kesempatan bermain,
memiliki keluarga yang rukun, orang tuanya bekerja keras demi kebahagiaan dan kesejahteraan anak, orang tua
tidak mengeksploitasi anak bahkan anak mendapatkan tempat komunikasi yang
menyenangkan tanpa kekerasan. Namun kondisi ideal semacam ini masih berupa impian yang tak jelas kapan akan
terwujud. Kenyataannya banyak kejadian
menyedihkan yang menimpa anak-anak Indonesia. Sampai sekarang banyak anak-anak
Indonesia yang terlantar. Mereka tidak
memperoleh perlindungan bahkan mendapatkan kekerasan baik di sekolah, di tempat
umum bahkan di rumah. Banyak orang tua yang melakukan eksploitasi terhadap anak
sehingga anak kehilangan hak belajar dan bermain karena mereka harus bekerja
menghidupi orang tuanya. Mereka juga tidak mendapatkan makanan bergizi, pakaian
dan tempat tinggal yang layak bahkan tidak mendapatkan jaminan pendidikan dan
kesehatan yang berkualitas. Kondisi ini hanya
gambaran kecil betapa buruknya potret anak-anak di Indonesia.
Kondisi
yang memprihatinkan juga dirasakan oleh anak-anak yang hidup di Gaza. Akibat serangan Israel, anak-anak Palestina menderita
tekanan psikologis dan trauma. Anak-anak di Gaza kini akrab dengan
bahasa-bahasa yang merefleksikan pengalaman mengerikan mereka. Siapa sangka,
huruf A yang biasa dikenalkan untuk kata “Apple” atau huruf B untuk kata “Ball”
kini telah berubah makna di mata anak-anak Palestina. Huruf A menjadi “Apache”,
jenis helikopter tempur yang digunakan Israel menyerang Gaza, huruf B menjadi
kata “Blood” (darah), huruf C untuk kata Coffin (peti mati), dan huruf D
sebagai kata “Destruction” (kehancuran). Anak-anak di Gaza sekarang, telah
kehilangan masa kanak-kanak yang seharusnya bisa mereka nikmati dengan
keriangan dan kehangatan. Sebuah studi yang dilakukan Universitas Queen, Kanada
menyebutkan, pola kekerasan yang dialami anak-anak Palestina mengakibatkan
dampak psikologis yang sangat serius dan butuh waktu bertahun-tahun untuk
memulihkannya.
Serangan keji pasukan Zionis Israel selama 22 hari ke
Jalur Gaza, menimbulkan dampak psikologis bagi anak-anak Gaza yang mungkin akan
terbawa sepanjang hayat. Mereka bukan hanya mendengar deru pesawat tempur dan
ledakan bom yang menakutkan, tapi juga menyaksikan bagaimana rumah mereka
hancur, ayah, ibu dan saudara-saudara mereka meninggal secara menyedihkan.
Tapi itulah yang terjadi. Bagi Indonesia dan Gaza juga negeri-negeri muslim lainnya,
anak-anak adalah asset masa depan.
Di tangan merekalah umat Islam akan eksis. Namun sistem
kapitalis sekuler yang menguasai Indonesia sampai hari ini telah menciptakan
kondisi buruk bagi perkembangan fisik, kejiwaan dan perilaku anak. Sebenarnya masalah anak telah diatur dalam UUD
1945 pada pasal 34 ayat 1 yang menyatakan bahwa
anak terlantar merupakan tanggung jawab negara. Faktanya, anak – anak terlantar semakin bertambah tiap tahunnya.
Bahkan, nasib anak-anak tersebut tidak jelas. Mereka, tidak mendapatkan
pemenuhan kebutuhan pokok berupa makanan, pakaian, dan rumah yang layak. Tidak sedikit dari mereka dibiarkan berbuat asusila (pornografi dan
pornoaksi). Bahkan diantara mereka ada yang menjadi korban dan sekaligus pelaku
perbuatan amoral tersebut. Banyak anak-anak yang tergadaikan
hak-haknya karena kelalaian keluarga yang tidak mengerti bagaimana memenuhi hak
anak-anak. Juga masyarakat yang sangat abai dengan lingkungan bersosialisasi
anak. Sementara di sisi lain negara juga tidak peduli dengan jaminan
pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan mereka.
Sementara itu, anak-anak Gaza yang unggul menjadi target genosida agresor
Israel dengan dukungan negara-negara kapitalis Barat. Kehadiran anak-anak Gaza menjadi ancaman
tersendiri bagi eksistensi Israel. Mereka
dianggap sebagai motor penggerak perjuangan pembebasan Palestina yang karena
kesabaran dan kegigihannya menciutkan
nyali tentara-tentara Israel. Inilah sebabnya mengapa penangkapan terhadap pemuda dan anak-anak
meningkat. Mereka dipenjara, disiksa, dilecehkan dan diintimidasi.
Nasib anak-anak di
Indonesia dan Gaza hanya akan berubah jika mereka hidup dalam naungan sistem
yang memanusiakan mereka. Sistem
khilafah terbukti menjadi pelindung bagi asset umat ini karena mereka akan
diperlakukan sebagai amanah Allah yang berhak untuk dijaga fitrahnya, jasad,
darah, jiwa dan kehormatannya,
Negara
Khilafah
Islam akan menjamin kesejahteraan setiap anak yang hidup di
dalamnya. Negara Khilafah memfasilitasi pemenuhan kebutuhan pokok
anak-anak seperti makanan, pakaian dan perumahan
melalui kepala keluarga/wali yang bertanggung jawab terhadap
nafkah anggota keluarga (termasuk anak-anaknya). Apabila anak tidak memiliki orangtua dan wali
yang mampu mencukupi kebutuhan mereka, maka sebagai jalan terakhir negara Khilafah
akan mengambil tanggung jawab ini. Sementara untuk pemenuhan kebutuhan pokok yang bersifat
komunitas seperti pendidikan,
kesehatan dan keamanan/perlindungan merupakan tanggung jawab penuh negara. Dalam
negara Khilafah, anak-anak tidak disibukkan dengan kewajiban bekerja
untuk menambah penghasilan keluarga. Kalaupun sifatnya membantu, tidak untuk menambah penghasilan tetapi sekedar melatih
anak untuk siap menjalani kehidupan di masa datang dengan mandiri.
Anak-anak yang hidup dalam negara khilafah, akan
mendapatkan hak-haknya secara penuh.
Mereka akan hidup dengan suasana bermain yang menggembirakan namun tetap
terjaga pembentukan kepribadian Islamnya. Negara Khilafah membekalinya
dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan saintek dan
kehidupan. Oleh karena
itu wajarlah bila negara Khilafah mampu
melahirkan generasi yang hidup, tumbuh dan berkembang secara optimal, memiliki
pemikiran dan perilaku yang cemerlang, juga berkontribusi bagi tegaknya
peradaban yang maju, kuat dan terdepan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar