Senin, 21 Juli 2014

POTRET BURAM ANAK-ANAK, ANTARA GAZA DAN INDONESIA, KHILAFAH JAWABANNYA

Opini Hari Anak 23 Juli dimuat di Harian Radar Bengkulu


Oleh
Indah Kartika Sari,SP
(Ketua Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD I Bengkulu)
Jika tanggal 23 Juli ini adalah hari lahir anak-anak Indonesia, hadiah apakah yang akan kita berikan kepada mereka ? Anak-anak biasanya sangat suka dengan berbagai hadiah, makanan juga mainan.  Lihat bagaimana ekspresi mereka saat kita memberikan itu semua pada anak-anak. Kita melihat binar kegembiraan di wajah mereka.  Seandainya Indonesia merupakan sebuah keluarga harmonis, dimana pemerintah sebagai orang tua yang penuh kasih kepada anak-anaknya, tentu 70,5 juta anak-anak Indonesia adalah anak-anak yang  beruntung.  Mereka akan mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya.  Mereka akan mendapatkan gizi yang cukup, mendapatkan pendidikan yang berkualitas, mendapat pelayanan kesehatan terbaik, mendapatkan perlindungan dari orang tuanya, tidur di rumah yang layak, memiliki identitas yang jelas, memperoleh kesempatan bermain, memiliki keluarga yang rukun, orang tuanya bekerja keras demi  kebahagiaan dan kesejahteraan anak, orang tua tidak mengeksploitasi anak bahkan anak mendapatkan tempat komunikasi yang menyenangkan tanpa kekerasan. Namun kondisi ideal semacam ini masih berupa impian yang tak jelas kapan akan terwujud.  Kenyataannya banyak kejadian menyedihkan yang menimpa anak-anak Indonesia. Sampai sekarang banyak anak-anak Indonesia yang terlantar.  Mereka tidak memperoleh perlindungan bahkan mendapatkan kekerasan baik di sekolah, di tempat umum bahkan di rumah. Banyak orang tua yang melakukan eksploitasi terhadap anak sehingga anak kehilangan hak belajar dan bermain karena mereka harus bekerja menghidupi orang tuanya. Mereka juga tidak mendapatkan makanan bergizi, pakaian dan tempat tinggal yang layak bahkan tidak mendapatkan jaminan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas. Kondisi ini hanya  gambaran kecil betapa buruknya potret anak-anak di Indonesia.
Kondisi yang memprihatinkan juga dirasakan oleh anak-anak yang hidup di Gaza. Akibat serangan Israel, anak-anak Palestina menderita tekanan psikologis dan trauma. Anak-anak di Gaza kini akrab dengan bahasa-bahasa yang merefleksikan pengalaman mengerikan mereka. Siapa sangka, huruf A yang biasa dikenalkan untuk kata “Apple” atau huruf B untuk kata “Ball” kini telah berubah makna di mata anak-anak Palestina. Huruf A menjadi “Apache”, jenis helikopter tempur yang digunakan Israel menyerang Gaza, huruf B menjadi kata “Blood” (darah), huruf C untuk kata Coffin (peti mati), dan huruf D sebagai kata “Destruction” (kehancuran). Anak-anak di Gaza sekarang, telah kehilangan masa kanak-kanak yang seharusnya bisa mereka nikmati dengan keriangan dan kehangatan. Sebuah studi yang dilakukan Universitas Queen, Kanada menyebutkan, pola kekerasan yang dialami anak-anak Palestina mengakibatkan dampak psikologis yang sangat serius dan butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkannya.
Serangan keji pasukan Zionis Israel selama 22 hari ke Jalur Gaza, menimbulkan dampak psikologis bagi anak-anak Gaza yang mungkin akan terbawa sepanjang hayat. Mereka bukan hanya mendengar deru pesawat tempur dan ledakan bom yang menakutkan, tapi juga menyaksikan bagaimana rumah mereka hancur, ayah, ibu dan saudara-saudara mereka meninggal secara menyedihkan.
Tapi itulah yang terjadi. Bagi Indonesia  dan Gaza juga negeri-negeri muslim lainnya, anak-anak adalah asset masa depan.  Di tangan merekalah umat Islam akan eksis. Namun sistem kapitalis sekuler yang menguasai Indonesia sampai hari ini telah menciptakan kondisi buruk bagi perkembangan fisik, kejiwaan dan perilaku anak. Sebenarnya masalah anak telah diatur dalam UUD 1945 pada pasal 34 ayat 1 yang menyatakan bahwa anak terlantar merupakan tanggung jawab negara. Faktanya, anak – anak terlantar semakin bertambah tiap tahunnya. Bahkan, nasib anak-anak tersebut tidak jelas. Mereka, tidak mendapatkan pemenuhan kebutuhan pokok berupa makanan, pakaian, dan rumah yang layak. Tidak sedikit dari mereka dibiarkan berbuat asusila (pornografi dan pornoaksi). Bahkan diantara mereka ada yang menjadi korban dan sekaligus pelaku perbuatan amoral tersebut. Banyak anak-anak yang tergadaikan hak-haknya karena kelalaian keluarga yang tidak mengerti bagaimana memenuhi hak anak-anak. Juga masyarakat yang sangat abai dengan lingkungan bersosialisasi anak. Sementara di sisi lain negara juga tidak peduli dengan jaminan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan mereka.
Sementara itu, anak-anak Gaza yang unggul menjadi target genosida agresor Israel dengan dukungan negara-negara kapitalis Barat.  Kehadiran anak-anak Gaza menjadi ancaman tersendiri bagi eksistensi Israel.  Mereka dianggap sebagai motor penggerak perjuangan pembebasan Palestina yang karena kesabaran dan kegigihannya  menciutkan nyali tentara-tentara Israel. Inilah sebabnya mengapa penangkapan terhadap pemuda dan anak-anak meningkat. Mereka dipenjara, disiksa, dilecehkan dan diintimidasi.
Nasib anak-anak di Indonesia dan Gaza hanya akan berubah jika mereka hidup dalam naungan sistem yang memanusiakan mereka.  Sistem khilafah terbukti menjadi pelindung bagi asset umat ini karena mereka akan diperlakukan sebagai amanah Allah yang berhak untuk dijaga fitrahnya, jasad, darah, jiwa dan kehormatannya,
 Negara Khilafah Islam akan menjamin kesejahteraan setiap anak yang hidup di dalamnya. Negara Khilafah memfasilitasi pemenuhan kebutuhan pokok anak-anak seperti makanan, pakaian dan perumahan melalui kepala keluarga/wali yang  bertanggung jawab terhadap nafkah anggota keluarga (termasuk anak-anaknya).  Apabila anak tidak memiliki orangtua dan wali yang mampu mencukupi kebutuhan mereka, maka sebagai jalan terakhir negara Khilafah akan mengambil tanggung jawab ini. Sementara untuk pemenuhan kebutuhan pokok yang bersifat komunitas seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan/perlindungan merupakan tanggung jawab  penuh negara. Dalam negara Khilafah, anak-anak tidak disibukkan dengan kewajiban bekerja untuk menambah penghasilan keluarga. Kalaupun sifatnya membantu, tidak untuk menambah penghasilan tetapi sekedar melatih anak untuk siap menjalani kehidupan di masa datang dengan mandiri. 
Anak-anak yang hidup dalam negara khilafah, akan mendapatkan hak-haknya secara penuh.  Mereka akan hidup dengan suasana bermain yang menggembirakan namun tetap terjaga pembentukan kepribadian Islamnya. Negara Khilafah membekalinya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan saintek dan kehidupan. Oleh karena itu wajarlah bila negara Khilafah mampu melahirkan generasi yang hidup, tumbuh dan berkembang secara optimal, memiliki pemikiran dan perilaku yang cemerlang, juga berkontribusi bagi tegaknya peradaban yang maju, kuat  dan terdepan.  






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pemuda Islam : Think About Palestine Not Valentine

Oleh Najmah Jauhariyyah (Pegiat Sosial Media Bengkulu) Manusia adalah makhluk yang mampu berfikir.  Dengan berfikir manusia menjadi makhlu...