Tentang judul postingan ini...sepertinya perlu bertanya dulu dengan diri sendiri..Sayakah orang yang bahagia ? Bahagiakah saya dengan kehidupan sekarang ini ? Kalau jawabannya iya..dan bahagia...berarti ucapan syukur pantas saya lontarkan kepada Zat Yang Memberikan Kebahagiaan...
Namun jika saya tidak merasa bahagia dengan kehidupan yang saya jalani sekarang berarti saya patut melakukan muhasabah ulang : kenapa saya tidak bahagia, apa yang dapat membuat saya bahagia dan bagaimana supaya saya menjadi bahagia...
Secara lahiri, sebenarnya mudah melihat seseorang itu bahagia atau tidak.....Seorang guru yang bahagia akan terlihat dari senyuman tulusnya tatkala menyambut anak didiknya saat tiba di sekolah...terlihat dari antusiasmenya dalam memberikan apa yang dibutuhkan oleh anak didik...selalu ada kala anak didiknya butuh kehadirannya...Seorang guru yang bahagia tidak akan pernah membuat anak didiknya merasa sedih dengan perbuatan tercelanya..Seorang guru yang bahagia tidak akan memberikan contoh buruk bagi teladan anak didiknya.
Seorang dokter yang bahagia, sentuhan tangannya dan senyum manisnya sudah mampu mengobati sakit pasien walau resep belum sempat dituliskan...Bahkan semacam sugesti bagi pasien, jadi sembuh bila berobatnya ke sana..Dokter yang bahagia tidak akan pernah menjerumuskan pasiennya dalam kebohongan diagnosa dan pemberian obat-obatan yang merugikan kesehatan pasiennya..
Seorang anak yang berbahagia, akan terlihat dari tumbuh kembangnya yang normal, bermain dan belajar dengan suasana gembira serta memiliki kepribadian yang baik...Anak yang berbahagia tidak akan dilahirkan sia-sia..menjadi sampah jalanan bahkan bukan menjadi sesalan orangtuanya kenapa dia mesti dilahirkan...
Jika anda orang tua yang bahagia, tentu anda bagaikan rumah pelindung dan pengayom bagi anak-anak anda..berharap mereka menjadi penyejuk mata dalam doa-doa anda bahkan melapangkan jalan anda menuju surgaNya...Bukan orang tua yang adanya sama dengan tidak adanya...bukan orang tua yang hanya pintar memberikan perintah namun minim keteladanan.. bukan pula orang tua yang hanya sebatas penyemai bibit namun melupakan perawatan bagi bibit yang sudah ditanamnya...
Rasulullah menjalani semua kedudukan itu baik sebagai pemimpin, pendidik, dokter, orang tua bahkan anak yang berbahagia...walaupun beliau mengemban tugas utamanya sebagai penyampai risalah dari Tuhan, namun tugas maha berat itu diembannya dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan walaupun kadangkala dijalani Beliau dengan berlumuran keringat, darah dan air mata..sampai ajal menjelang..yang ada dalam fikiran beliau bukan anak, istri dan keluarganya namun hanya umatnya...ummatiy...ummatiy...Kekasih Allah itu merasakan sakitnya sakaratul maut dengan penuh kebahagiaan karena akan segera menjemput surga yang telah janjikan...
Demikianlah poros kehidupan..Rasulullah mengajarkan kehidupan sebagai hamba Allah dengan segala kedudukan, status maupun profesinya hanyalah sebagai sarana dunia untuk menuju kehidupan akhirat. Rasulullah mengajarkan bahwa misi utama hamba Allah di muka bumi ini adalah sebagai khalifatullah.
Berbicara tentang Khalifatullah fil ardh jadi ingat buku "Misi di Sebuah Planet" karangan Husain Matla. Buku yang tidak pernah bosan saya baca. Kalau lagi galau pasti saya selalu upayakan membaca buku itu. Membaca ulang tulisan dibuku itu seperti merecharge kembali energi yang sempat habis karena pahit getir kehidupan.
Balik lagi ke istilah Khalifatullah fil ardh.. Kalau diterjemahkan menurut buku ini, Khalifatullah bisa diartikan sebagai "agen perubahan" yang mengemban "misi" dari "Sang Tuan" untuk mengerjakan "lahan" yang terbentang luas..Waduh kereen ya...
Apa hubungannya judul postingan saya dengan buku ini ? Jelas ada hubungannya..Sebab untuk bisa meraih kebahagiaan hakiki, kita perlu tahu dulu posisi kita dalam kehidupan dunia ini. Bahasa sederhananya mengetahui hakikat kehidupan diri. Semuanya bermula dari 3 pertanyaan besar : Dari Mana, Mau Apa dan Hendak Kemana.
Saya yakin setiap muslim pasti tahu dari mana dia berasal. Anak SD pun pasti tahu kalau yang menciptakan kita adalah Allah SWT. Terurai satu masalah. Namun tidak selalu terurai untuk masalah berikutnya, hendak apa kita..Masalahnya diantara kita ada yang status muslimnya bukan karena proses pencarian jati diri. Lebih banyak menjadi muslim karena faktor keturunan. Nah, disinilah persoalan dimulai..Tidak semua muslim tahu bahwa dia punya sebuah misi "besar" dari Sang "Tuan" untuk mengelola "lahan" yang luas sesuai dengan keinginan Sang "Tuan". Dalam mengelola "lahan" yang diamanahkan padanya, si "agen" memiliki SOP yang jelas dan tetap. Sedikit dia melenceng dari SOP, bisa dipastikan tugasnya menjadi berantakan..misinya akan mengalami kegagalan bahkan harus mulai dari awal lagi. Tapi selesaikah misi itu hanya sampai "planet" ini ? Ternyata belum.. Suatu saat si "agen" harus siap untuk dipanggil Sang "Tuan" untuk mempertanggungjawabkan seluruh misinya. Kelak dia akan menerima imbalan terbaik dari Sang "Tuan" atas segala pengabdian.. Demikian kehidupan si "agen" yang berakhir dengan kebahagiaan selama-lamanya.
Tentu semua ingin bahwa si "agen" yang berbahagia itu adalah kita..Menjalani tugas sebagai "agen" tentu bukan perkara mudah. Banyak tantangan kehidupan yang berlika-liku. Bisa jadi tantangan itu melenakan dan membuatnya terlupa dengan misinya. Tapi SOP yang ada dalam kalam cinta Sang "Tuan" dan nasehat berharga dari "agen senior teladan" selalu mengingatkannya untuk tetap berada pada jalurnya. Kadang si "agen" harus siap berkorban apapun demi misi yang diembannya untuk Sang "Tuan". Untuk sebuah lahan subur penghasil tanaman dengan panen yang memuaskan.
Ketaatan si "agen" pada Sang "Tuan" bukan sekedar ketaatan semu tanpa makna. Keta'atan itu dibangun atas dasar cinta dan keikhlasan bukan karena keterpaksaan. Karena cintanya pada Sang "Tuan", misi yang dijalankannya adalah misi yang terbaik, berkualitas dan optimal.
Maka sangat tidak layak bagi seorang agen misi hanya memberikan waktu sisa bagi misinya, bermalas-malasan dalam mengemban misi, kadang menjalankan misi kadang tidak, terkesan asal-asalan dalam misinya bahkan jika ada peluang dan kesempatan, dia akan melemparkan tanggung jawabnya kepada yang lain..Bahkan jika ada sedikit rintangan, agen misi ini akan gampang putus asa.
Misi terbesar umat Islam saat ini adalah mengembalikan posisinya sebagai umat yang mulia..Jalan yang pernah dirintis oleh para agen misi teladan yaitu para Nabi dan Rasul. Tak heran jika para Nabi dan Rasul menjadikan misi dakwah sebagai poros kehidupan. Bagaimana tidak, Nabi Nuh AS menjalankan misi dakwahnya selama 950 tahun siang dan malam. Rasulullah menjalankan misi kenabian dan kepemimpinannya selama kurang lebih 23 tahun tanpa istirahat. Semua ini sekaligus menunjukkan betapa cinta dan ikhlasnya para agen misi teladan ini menjalankan dakwahnya. Jika tidak mana mungkin mereka mempertaruhkan usia, tenaga, pikiran, waktu, harta bahkan nyawa untuk misi dakwah mereka ?
Berkaca dari para agen misi yang berbahagia ini, apapun profesi yang kita jalani saat ini, bekerjalah untuk sebuah misi besar ini dengan penuh rasa cinta...Peradaban besar dan mulia yang akan membawa kebahagiaan dunia akhirat hanya akan lahir di tangan para agen misi yang bekerja dengan ikhlas. Para agen yang mempersembahkan misi terbaiknya di hadapan Sang "Tuan" Allah Rabbul 'Izzati...
Dari rumahlah harapan dan cita-cita bermula... Menuju pribadi yang unggul, keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, masyarakat yang beradab dan negara penuh berkah di bawah naungan cahaya Ilahi...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pemuda Islam : Think About Palestine Not Valentine
Oleh Najmah Jauhariyyah (Pegiat Sosial Media Bengkulu) Manusia adalah makhluk yang mampu berfikir. Dengan berfikir manusia menjadi makhlu...
-
“ Merajut Ukhuwah Islamiyah ” Muslimah HTI Bengkulu Chapter Kampus menyelenggarakan " Welpart Rujak Party Maba ...
-
Muslimah HTI Bengkulu menyelenggarakan " Kajian Cermin Wanita Sholihah ““Perempuan dan Anak-Anak Palestina Tanggun...
-
Dalam rangka mensosialisasikan opini Islam rahmatan lil 'aalamiin, Muslimah HTI DPD I Bengkulu mengadakan Daurah Islam R...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar