Dari rumahlah harapan dan cita-cita bermula... Menuju pribadi yang unggul, keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, masyarakat yang beradab dan negara penuh berkah di bawah naungan cahaya Ilahi...
Kamis, 08 Februari 2018
Darurat Sadisme Menjelang Hari “Kasih Sayang”
#Opini
#JumatMubarak
Oleh Najmah Jauhariyyah
Warga Bengkulu sontak digegerkan dengan penemuan mayat tak dikenal. Rupanya mayat itu diketahui bernama Auzia Umi Detra siswi SMU 4 Kota Bengkulu yang sudah beberapa hari menghilang. Kondisi korban ditemukan dalam keadaan memprihatinkan. Sejauh ini polisi sudah menetapkan MS sebagai tersangka pelaku pembunuhan. Motif ekonomi diduga sebagai penyebab pembunuhan yang dilakukan siswa SMU 7 yang notabene masih kerabat dekat korban (http://pedomanbengkulu.com/2018/02/bukan-asmara-ini-motif-pembunuhan-almarhumah-tara/).
Kasus sadisme yang berakhir dengan pembunuhan, akhir-akhir ini mewarnai jagat Indonesia. Korban paling banyak adalah perempuan (https://nusantaranews.co/aksi-sadisme-pada-perempuan-tahun-2018-naik-3-kali-lipat-dibanding-2017/). Mirisnya pelaku pembunuhan adalah orang terdekat korban yaitu anak, suami, istri, ayah, ibu, paman, bibi sampai saudara kandung. Menyedihkan memang. Orang terdekat yang seharusnya menjadi tempat berlindung dan mendapatkan kasih sayang justru menjadi “hantu” yang menakutkan.
Sadisme yang sering terjadi menunjukkan bahwa cinta dan kasih sayang rupanya tak lagi dirasakan oleh jamak penduduk negeri ini. Para pelajar tak lagi cinta dan sayang pada gurunya. Bahkan seorang murid di kota santri Madura tega membunuh sosok yang selama ini mencurahkan cinta dan kasih sayangnya kepada murid-muridnya lewat ilmu.
Cinta dan kasih sayang umat pada ulamanya juga sudah mulai menghilang. Ulama yang memberikan cinta dan kasih sayangnya lewat nasehat dan dakwah bil hikmah sekarang bukan lagi sosok-sosok karismatik yang dihormati dan disegani. Nyawa ulama tak lagi dihargai. Predikat kriminal disematkan kepada para pewaris para Nabi ini. Sekarang kedudukan mereka tak beda dengan para perampok dan pembegal.
Setali tiga uang, cinta dan kasih sayang penguasa pada rakyatnya sekarang cuma basa basi saja. Penguasa hanya peduli dan sayang rakyat hanya ketika mau pilkada. Sementara nasib rakyat tetap sengsara. Kelaparan di Papua yang lama dibiarkan menjadi bukti omong kosong penguasa memberikan cinta dan keadilan bagi rakyatnya. Tidakkah itu berarti penguasa juga melakukan “sadisme” pada rakyatnya ?
Apakah cinta dan kasih sayang sudah demikian mahal harganya, semahal harga coklat Cadbury, Pizza, BBQ, Fettucini yang biasa dinikmati pasangan “cinta’’ di hari kasih sayang ? Makanan yang mahal itu tidak sebanding dengan murahnya harga keperawanan yang hilang di hari itu. Sungguh naif. (https://news.okezone.com/read/2015/02/11/338/1104284/kpai-khawatir-banyak-keperawanan-hilang-di-hari-valentine)
Mencari cinta sejati dan kasih sayang hakiki di zaman now sungguh tak gampang. Semua dihargai dengan uang. Ada cinta jika ada uang. Orang sakit butuh uang banyak kalau mau perawatan yang memuaskan dan penuh kasih sayang. Yang punya uang pas-pasan silahkan menikmati pelayanan keras dan garang paramedis di kelas bawahan.
Kekerasan dengan bentuk apapun takkan pernah terjadi di bawah naungan sistem Islam yaitu Khilafah. Penguasa Khilafah merupakan sumber cinta dan kasih sayang yang diteladani rakyatnya. Bukan uang standarnya tapi pelayanan prima yang penuh cinta. Bukti cinta dan kasih sayang Kholifah Umar bin Abdul Aziz terlihat manakala selama dua tahun masa pemerintahannya, tak satupun rakyatnya yang menerima zakat sangking sejahteranya. Kholifah Umar bin Khattab dengan penuh cinta memikul sendiri karung berisi gandum untuk rakyatnya yang kelaparan. Kholifah Harun ar Rasyid mencintai rakyatnya dengan ilmu. Di masa pemerintahannya tak satu pun rakyatnya yang buta huruf. Sekolah-sekolah gratis dan bermutu tinggi tersebar sampai pelosok negeri. Begitulah para Kholifah menciptakan cinta dan kasih sayang melalui penerapan syariat Islam. Jika penguasanya menanamkan rasa cinta dan kasih sayang pada rakyatnya adalah sangat wajar rakyatnya pun juga diliputi perasaan yang sama.
Tak hanya cinta dan kasih sayang menjadi karakter para Kholifah, ketegasan dalam menerapkan hudud bagi rakyatnya yang melakukan tindakan kriminal membuat selama masa pemerintahan mereka yang panjang, angka kriminalitas termasuk perilaku sadisme hampir tidak ada. Nyawa manusia begitu berharga. Bahkan warga non muslim haram darah dan hartanya. Jadi mana bukti klaim sepihak bahwa hukum Islam itu kejam dan sadis ?
Pada dasarnya Islam adalah agama kasih sayang. Rasulullah SAW diutus Allah untuk menyampaikan risalah agar menjadi rahmat bagi seluruh alam (QS al Anbiya : 107). Al Quran adalah surat cinta dari Allah. Melalui kalamNya, Allah menginginkan manusia bahagia dunia dan akhirat. Selepas Rasul wafat, risalah cinta ini terus disampaikan generasi sahabat hingga para kholifah, para penguasa Khilafah melalui jihad dan dakwah selama 13 abad. Lagi-lagi orang butuh berfikir jernih untuk memahami jihad apa adanya. Sehingga terbayang jihad bukanlah kekerasan dan sadisme. Hakikatnya jihad adalah bentuk kasih sayang Islam melalui pembebasan manusia dari penghambaan sesama manusia menuju penyembahan Allah saja. Bukankah dengan itu manusia terbebas dari panasnya api neraka ?
Ketika sistem kapitalisme yang bertuhankan uang masih menguasai dan sistem Islam belum diterapkan, jangan berharap jagat Indonesia akan terbebas dari perilaku sadisme. Jangan juga berharap kedamaian, cinta dan kasih sayang tumbuh subur di sini. Nonsens, berharap ada cinta di hari kasih sayang. Tapi mencari cinta dan kasih sayang dengan sistem Islam itu suatu kepastian.
#KhilafahAjaranIslam
#BanggaBicaraKhilafah
#IslamRahmatanLilAalamiin
Kamis, 04 Januari 2018
#Reportase #TemuTokohPeduliUmatBengkulu #RisalahAkhirTahun2017 #RumahMakanBakakak31Desember 2017
Pada tanggal 31 Desember 2017 telah diadakan Temu Tokoh
Peduli Umat Bengkulu dengan mengambil tema Risalah Akhir Tahun : “Memburu Islam
Politik, Menghadang Kebangkitan Umat”.
Tahun 2017 diwarnai oleh berbagai peristiwa politik penting
yang mempengaruhi pemikiran dan perasaan umat. Kesadaran umat untuk kembali
kepada Islam politik terlihat event akbar 212.
Pembicara I, Ibu Fitri Andusti yang membawakan materi dengan tema
“Narasi Politik Identitas, Memburu Islam Politik”mengurai bahwa sejak event
akbar 212 yang berujung pada kekalahan Ahok, muncul berbagai tuduhan sesat dan
menyesatkan kepada umat Islam dengan klimaks terbitnya perpu ormas. Perpu ini menjadi alat penguasa untuk
membungkam ormas-ormas yang dinilai kritis terhadap kebijakan penguasa. Sejak
itu Islam politik dianggap sebagai
gerakan radikal, ekstrimis dan anti pancasila/NKRI. Kebangkitan umat yang mulai
muncul dihalangi dengan berbagai upaya sistematis. Salah satunya melalui gerakan Islam moderat.
Gerakan Islam moderat ini telah menghalangi upaya umat untuk kembali bangkit
dan bersatu.
Pada sesi materi 2, Ibu Elis Anisah menyampaikan tema “Islam
Moderat, Penghalang Persatuan Umat”. Beliau mengurai panjang lebar tentang
bahaya Islam moderat. Islam moderat
merupakan bentukan barat sebagai upaya untuk menghalangi kebangkitan Islam.
Dalam dokumen Rand Corporation dijelaskan bahwa barat membagi umat Islam
menjadi 4 golongan yaitu kelompok radikal, kelompok moderat, kelompok
tradisional dan kelompok sekuler.
Keempat kelompok ini saling di adu domba oleh barat. Barat mengangkat
dan mendukung kelompok moderat yang membawa nilai-nilai kebebasan barat dan
menjatuhkan dengan tuduhan keji, kelompok yang di stigma radikal. Padahal
kelompok ini adalah kelompok yang serius memperjuangkan penerapan Islam secara
kaafah. Sebagai kesimpulan, pembicara mengajak peserta untuk untuk terus berjuang menerapkan
Islam kaafah agar persatuan dan kebangkitan umat segera terwujud dalam bingkai
Khilafah Islamiyah.
Acara yang diselenggarakan di Rumah Makan Bakakak ini
dihadiri tidak kurang dari 22 tokoh perempuan dari kalangan mubalighoh, ormas,
intelektual dan aktivis kampus. Para peserta terlihat antusias mengikuti
rangkaian acara dan mereka aktif
berpartisipasi memberikan pertanyaan.
Selasa, 09 Mei 2017
Reportase Daurah Islam Rahmatan Lil Aalamiin (IRA) DPD II Muslimah_HTI_Kota Bengkulu “Khilafah: Kewajiban Syar’iy, Janji Allah dan Kabar Gembira Rasulullah”
Islam adalah agama yang syamil dan mutakamil. Agama yang mencakup seluruh aturan sehingga manusia tak perlu lagi mencar aturan lain. Untuk meraih kesempurnaan Islam, maka perlu sebuah sistem Khilafah, yaitu
sistem kenegaraan yang bersumber dari
Allah dan Rasulullah. Inilah yang
mendorong Muslimah HTI DPD II Kota Bengkulu menyelenggarakan
Daurah IRA dengan tema “Khilafah : Kewajiban
Syar’iy, Janji Allah dan Kabar Gembira Rasulullah” pada Hari Minggu tanggal 7 Mei 2017
bertempat di Sekretariat HTI Provinsi Bengkulu.
Ustadzah
Ummu Athaya (Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir) sebagai narasumber dalam Daurah
IRA kali ini. Mengawali materinya, beliau menukil sebuah hadis
yang berbunyi: "Nabi SAW bersabda, "Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah
masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak
menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj
al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah
menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada
kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa
itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya.
Setelah itu, akan datang masa raja dictator (pemaksa); dan atas kehendak Allah
masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak
menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj
al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam". [HR. Imam Ahmad]. Hadist ini adalah salah satu dalil yang
membuktikan bahwa penegakan Khilafah adalah suatu kewajiban. Hal ini diperkuat
oleh firman Allah SWT, “Maka demi tuhanmu, mereka pada hakekatnya
tidak beriman hingga mereka menjadikan Kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap
perkara yang mereka perselisihkan...” (QS. An-Nisa 65). Kedua dalil ini sangat
jelas bahwa Khilafah adalah sebuah kewajiban yang akan menerapkan Syariat
Islam secara
keseluruhan, paparnya.
Beliau mengatakan bahwa
Islam diturunkan oleh Allah SWT agar menjadi rahmat bagi seluruh alam. Rahmat bagi semesta alam akan terwujud
manakala Syariat Islam diterapkan secara keseluruhannya di tengah-tengah
kehidupan manusia. Faktanya, saat ini syariat Islam belum diterapkan secara
keseluruhannya sehingga memunculkan problematika umat. Salah satunya adalah problem di dunia pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan menjadi bukti bahwa
Sistem Pendidikan Islam belum diterapkan karena ketiadaan khilafah.
Di akhir
acara, beliau memperkenalkan Hizbut Tahrir Indonesia
dan metode perjuangan HTI yang sesuai dengan metode Rasulullah SAW. Tak lupa
beliau mengajak peserta bergabung
bersama Hizbut Tahrir Indonesia untuk memperjuangkan tegaknya khilafah sebagai
metode untuk menerapkan Syariah Islam secara
kaafah agar rahmatnya Islam dapat dirasakan seluruh alam.
Dalam acara yang dihadiri lebih dari 30 peserta
dari kalangan mahasiswi, guru dan ibu-ibu majelis ta’lim ini juga disosialisaikan GERAKAN
100.000 MAHASISWA TUNTUT SISTEM PENDIDIKAN TINGGI KHILAFAH. Peserta
dari kalangan mahasiswi menyatakan dukungannya dalam bentuk tanda tangan. Acara
diakhiri dengan foto bersama peserta dan pembicara.
Walaahu A’lam Bish Shawaab
Selasa, 25 April 2017
Reportase Diskusi Publik Kajian Cermin Wanita Shalihah #DPD II Muslimah_HTI_Kota_Bengkulu “Andai Kartini Khatam Mengaji Islam Rahmatan Lil’Alamiin”
Pembicaraan
tentang Kartini
selalu mengundang kontroversi. Di satu sisi, perjuangan beliau
menginspirasi gerakan perempuan untuk menuntut emansipasi. Namun di sisi lain ada hal-hal menarik yang tidak pernah diungkap oleh
sejarah tentang perjuangan beliau. Inilah yang melatarbelakangi Muslimah HTI DPD II Kota Bengkulu menyelenggarakan Kajian Cermin Wanita Shalihah
pada Hari Ahad, 23 April 2017 dengan tema “Andai
Kartini Khatam Mengaji Islam Rahmatan Lil’Alamiin”.
Feliyanah,
S.Pd (Aktivis Muslimah HTI Bengkulu) sebagai narasumber dalam Kajian Cermin Wanita
Shalihah kali
ini. Beliau mengawali materi dengan
melontarkan sebuah pertanyaan “Benarkah Kartini mengajarkan emansipasi ?. Narasumber menegaskan bahwa emansipasi
bukanlah ajaran Yang dibawa oleh Kartini. Beliau menyitir beberapa surat yang ditulis oleh Kartini. Salah satunya
berbunyi “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi
anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak
perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena
kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita
lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke
dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama” (Surat
Kepada Prof.Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).
Beliau
juga menegaskan bahwa kebohongan harus ditantang
dan harus dilawan. Kebenaran harus digaungkan dan harus diungkapkan.
Kenyataannya emansipasi adalah lahir dari
ideologi sekuler yang melahirkan pandangan kesetaraan hak antara
perempuan dan laki-laki di segala bidang kehidupan. Emansipasi hakikatnya adalah ide yang bertentangan dengan ajaran Islam karena emansipasi ini
meniscayakan perempuan melawan ajaran Islam sekaligus bentuk perilaku bebas perempuan dalam mengatur hidupnya
dengan memarjinalkan ajaran Islam.
Sementara itu syariat Islam yang sempurna telah memberikan perempuan hak berpolitik, hak memperoleh
jaminan pendidikan dan kesejahteraan serta keamanan. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas,
sosok perempuan-perempuan tangguh yang berkiprah dalam mencetak generasi unggul seperti Aisyah dan al Khansa namun sangat brilyan dalam berpolitik
seperti Ummu Salamah, Sumayyah dan Ummu Imarah. Merekalah yang seharusnya menjadi teladan
perempuan masa kini, pungkasnya.
Ketika syariat
Islam diterapkan dalam tataran kehidupan maka akan terwujud Islam rahmatan lil áalamiin. Untuk itu beliau
mengajak seluruh umat Islam untuk kembali kepada kehidupan Islam. Tak lupa beliau
mengajak seluruh peserta yang hadir
bergabung bersama Hizbut Tahrir Indonesia untuk memperjuangkan tegaknya
syariah Islam dalam naungan Khilafah agar
Allah melimpahkan barokahNya.
Acara yang
dilaksanakan di Masjid al Muhtadin Kota Bengkulu ini dihadiri tidak kurang dari
35 peserta dari berbagai profesi yaitu guru, pelajar dan ibu-ibu majelis taklim.
Peserta begitu antusias mengikuti acara terbukti dari banyaknya pertanyaan yang
dilontarkan kepada narasumber. Acara diakhiri do’a kemudian dilanjutkan dengan foto bersama.
Wallahu a’lam bish shawab.
Kamis, 30 Maret 2017
Reportase DAURAH Islam Rahmatan Lil Aalamiin #DPD 1Muslimah_HTI_Provinsi_Bengkulu “Syariah dan Khilafah Mewujudkan Rahmat bagi Seluruh Alam”
Demi
menderaskan arus opini Islam Rahmatan Lil Áalamiin, Muslimah HTI DPD I Bengkulu kembali menyelenggarakan
Daurah IRA (Islam Rahmatan Lil Áalamiin). Acara yang dihadiri tak kurang dari 25 peserta dari kalangan
mahasiswi ini,
diselenggarakan pada Hari Minggu
26 Maret 2017 di Kantor Sekretariat HTI Bengkulu. Tema yang diangkat adalah “Syariah dan Khilafah Mewujudkan Rahmat bagi Seluruh
Alam”. Acara ini diadakan sebagai bentuk kepedulian
terhadap kondisi umat Islam yang kian hari kian memprihatinkan.
Nining Tri
Satria, S.Si (Ko. Media Muslimah HTI DPD I Provinsi Bengkulu)
sebagai narasumber dalam Daurah IRA kali ini. Beliau
memaparkan bagaimana berproses menjadi muslimah sejati yang dimulai dari memahami hakikat
diri.
Beliau
juga mengingatkan kembali
firman Allah SWT
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِين
“Dan
tiadalah Kami utus engkau (Ya Muhammad)
melainkan
sebagai rahmat bagi seluruh alam”
(TQS. AL Anbiya 107)
Beliau mengatakan bahwa Islam diturunkan oleh Allah SWT
kepada Nabi Muhammad SAW agar menjadi
Rahmat tak hanya bagi umat Islam tapi juga bagi non muslim.
Ketika syariat-syariatNya diterapkan
secara praktis dalam kehidupan maka tercapailah tujuan-tujuan mulia diantaranya
terpeliharanya nasab, terpeliharanya akal, terpeliharanya kehormatan dan lain
sebagainya. Sayangnya pemikiran sekulerisme
telah meracuni umat Islam sehingga mereka jauh dari syariat Islam.
Untuk itulah Beliau mengajak
peserta bergabung bersama Hizbut Tahrir untuk memperjuangkan tegaknya Khilafah sebagai metode untuk
menerapkan syariat Islam secara keseluruhan.
Sebab hanya dengan itulah Islam Rahmatan Lil Áalamiin akan terwujud,
ujarnya.
Para
peserta sangat antusias menyimak materi yang disampaikan oleh pembicara yang
akrab dipanggil
Mbak Nining ini. Tidak lupa pula,
peserta diperkenalkan Panji Rasulullah sebagai
lambang persatuan umat Islam seluruh dunia. Acara ini diakhiri dengan doa dan foto bersama peserta dengan mengibarkan Panji Rasulullah.
Wallahu A’lam Bish Shawaab.
Rabu, 22 Maret 2017
#Reportase_Diskusi Terbatas Tokoh_Forum Mutiara Peradaban_Mewujudkan Pendidikan Ideal,Tanggung Jawab Siapa ?_DPD I Muslimah HTI Provinsi Bengkulu
Sebagai tindak lanjut dari
Kampanye Khilafah dan Pendidikan yang sudah digelar beberapa waktu yang lalu, Muslimah
HTI DPD I Bengkulu menyelenggarakan Diskusi Terbatas Tokoh yaitu Forum Mutiara Peradaban (FORMUDA)
dengan tema Mewujudkan Pendidikan Ideal,Tanggung Jawab Siapa ?. Acara ini digelar pada Hari Rabu, 22 Maret
2017 di Orchid Room Hotel Samudera Dwinka Kota Bengkulu.
Pada sesi I, Ibu Sri Sulastri,
SEI menyampaikan materi dengan judul Quo
Vadis Pendidikan Kita. Sebagai praktisi pendidikan, Beliau memaparkan
fakta-fakta krisis pendidikan yang terjadi di Provinsi Bengkulu. Beliau
memantik peserta dengan pertanyaan kritis, “Mengapa terjadi krisis di Bengkulu
sementara Bengkulu memiliki SDM berprestasi dan SDA yang kaya ?”
Sesi ini mendapatkan respon dari
sejumlah peserta. Peserta dari kalangan
praktisi pendidikan menilai bahwa dana pendidikan belum sepenuhnya diberikan
oleh pemerintah. Sementara peserta wakil dari Kanwil Menag Provinsi Bengkulu
menyatakan bahwa pendidikan agama yang kurang menjadi faktor penyebab munculnya
krisis pendidikan. Hal ini diperkuat
lagi oleh pernyataan peserta perwakilan dari MUI Provinsi Bengkulu bahwa
kurangnya pendidikan dari keluarga telah menyebabkan degradasi pada generasi
yang notabene merupakan output pendidikan.
Pada sesi II, Ibu Fitri Andusti menyampaikan materi dengan judul Sistem
Pendidikan Islam, Mewujudkan Generasi Mulia Dan Peradaban Emas. Beliau menjelaskan bahwa krisis pendidikan
muncul karena dua faktor yaitu penguasaan SDA oleh para kapitalis dan
sekulerisasi kurikulum. Keduanya menjadi sebab mahalnya biaya pendidikan dan
split personality pada anak didik.
Beliau memantik peserta dengan pertanyaan, “Adakah solusi alternative
bagi krisis pendidikan saat ini ?”.
Sebagai pemancing, Beliau menawarkan peserta untuk kembali kepada sistem
pendidikan Islam yang telah terbukti mampu mewujudkan generasi emas dan
peradaban mulia.
Suasana semakin menghangat dengan
statemen salah seorang peserta Konferensi Perempuan Internasional Khilafah dan
Pendidikan yang mengatakan bahwa pihak yang punya tanggung jawab besar dalam
pendidikan adalah negara. Negara harus
menerapkan sistem pendidikan Islam sebagai satu-satunya sistem yang pernah
berhasil mewujudkan manusia-manusia beradab dan sistem pendidikan yang dulu
menjadi acuan barat.
Diskusi terbatas tokoh ini
akhirnya melahirkan kesimpulan bahwa harus ada sinergi di antara pelaku
pendidikan. Negara sebagai pelaku
pendidikan yang porsinya paling besar punya kewajiban untuk menerapkan sistem
pendidikan Islam yang terbukti mampu menuntaskan persoalan dunia pendidikan
dengan penyelesaian yang memuaskan akal, sesuai dengan fitrah manusia dan
menentramkan jiwa.
Diskusi terbatas tokoh Forum
Mutiara Peradaban ini dihadiri tidak kurang dari 20 orang peserta yang
merupakan perwakilan dari berbagai instansi dan lembaga pendidikan seperti
Kanwil Menag Provinsi Bengkulu, Dinas Diknas Provinsi Bengkulu, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak Provinsi Bengkulu, MUI Provinsi Bengkulu, beberapa ormas Islam, organisasi
profesi pendidikan dan juga para praktisi pendidikan.
Acara ini diliput oleh media online daerah.
http://redaksibengkulu.co.id/daerah/kota-bengkulu/muslimah-hti-bengkulu-generasi-muda-indonesia-sangat-mengkhawatirkan/
Acara ini diliput oleh media online daerah.
http://redaksibengkulu.co.id/daerah/kota-bengkulu/muslimah-hti-bengkulu-generasi-muda-indonesia-sangat-mengkhawatirkan/
Kamis, 02 Maret 2017
Reportase Dauroh “Islam RahmatanLil’aalamin”, MHTI DPD I Bengkulu
Dalam
rangka mensosialisasikan opini Islam rahmatan lil 'aalamiin, Muslimah HTI DPD I
Bengkulu mengadakan Daurah Islam Rahmatan Lil Aalamiin. Dauroh ini diadakan di
Kota Lebong Kabupaten Lebong
Provinsi Bengkulu. Acara ini dihadiri kurang lebih 20 orang dari kalangan ibu-ibu,
remaja dan masyarakat sekitar.
Ustadzah Drg.Wardah Samanhudi (Aktivis Muslimah HTI Bengkulu) menjadi
narasumber dalam acara tersebut.
Beliau menjelaskan bahwa untuk menjadi muslim sejati, seseorang harus memahami hakikat hidupnya darimana,
untuk apa dan mau kemana sehingga seseorang akan hidup dengan terarah dan mantap. Hidup yang
bermutu tinggi dengan keyakinan akan kehidupan yang abadi di akhirat.
Selain menekankan tentang akidah, narasumber juga memaparkan tentang dakwah yaitu dakwah melanjutkan kehidupan Islam yakni mengajak kaum muslimin kembali mengamalkan seluruh hukum Islam mulai dari persoalan aqidah,
ibadah, makanan, minuman, pakaian, akhlaq,
uqubat dan muamalah dengan jalan menegakkan syariah dan khilafah.
Syariat Islam merupakan pilihan syar’i sekaligus rasional untuk diterapkan dalam rangka mengubah kezaliman menjadi keadilan di tengah-tengah umat manusia,
menyingkirkan kejahiliyahan dan nafsu hewani berganti oleh cahaya Islam.
Acara ini dilaksanakan pada hari
Minggu, 26 Februari
2017 bertempat
di Desa Kampung Muara Aman, Kabupaten Lebong. Acara ini dilaksanakan untuk menyadarkan umat bahwa
“Islam RahmatanLil’alamin” akan terwujud melalui tegaknya Syariah dan Khilafah. Peserta begitu semangat dan antusias dalam menyimak
pemaparan materi dari narasumber.
Langganan:
Postingan (Atom)
Pemuda Islam : Think About Palestine Not Valentine
Oleh Najmah Jauhariyyah (Pegiat Sosial Media Bengkulu) Manusia adalah makhluk yang mampu berfikir. Dengan berfikir manusia menjadi makhlu...
-
Muslimah HTI Bengkulu kembali menyelenggarakan acara diskusi publik bertajuk Kajian Cermin Wanita Shalihah. Acara ini dih a diri sekit...
-
Muslimah HTI Bengkulu menyelenggarakan " Kajian Cermin Wanita Sholihah ““Perempuan dan Anak-Anak Palestina Tanggun...
-
Dalam rangka mensosialisasikan opini Islam rahmatan lil 'aalamiin, Muslimah HTI DPD I Bengkulu mengadakan Daurah Islam R...
































