Kamis, 08 Februari 2018

Darurat Sadisme Menjelang Hari “Kasih Sayang”




#Opini 
#JumatMubarak

Oleh  Najmah Jauhariyyah

Warga Bengkulu sontak digegerkan dengan penemuan mayat tak dikenal.  Rupanya mayat itu diketahui bernama  Auzia Umi Detra  siswi SMU 4 Kota Bengkulu yang sudah beberapa hari menghilang.  Kondisi  korban ditemukan dalam keadaan memprihatinkan.  Sejauh ini polisi sudah menetapkan MS sebagai tersangka pelaku pembunuhan.  Motif ekonomi diduga sebagai penyebab  pembunuhan yang dilakukan siswa SMU 7 yang notabene masih kerabat dekat korban  (http://pedomanbengkulu.com/2018/02/bukan-asmara-ini-motif-pembunuhan-almarhumah-tara/).

Kasus sadisme yang berakhir dengan pembunuhan, akhir-akhir ini mewarnai jagat Indonesia.  Korban paling banyak adalah perempuan (https://nusantaranews.co/aksi-sadisme-pada-perempuan-tahun-2018-naik-3-kali-lipat-dibanding-2017/).   Mirisnya pelaku pembunuhan adalah orang terdekat  korban yaitu anak,  suami, istri, ayah, ibu,  paman, bibi  sampai saudara kandung.  Menyedihkan memang.  Orang terdekat yang seharusnya  menjadi tempat berlindung dan mendapatkan kasih sayang justru menjadi “hantu” yang menakutkan.

Sadisme  yang  sering terjadi menunjukkan bahwa  cinta dan kasih sayang rupanya tak lagi dirasakan oleh jamak penduduk negeri ini.  Para pelajar tak lagi cinta dan sayang pada gurunya.  Bahkan seorang murid di kota santri Madura tega membunuh sosok yang selama ini mencurahkan cinta dan kasih sayangnya  kepada murid-muridnya lewat ilmu.

Cinta dan kasih sayang umat pada ulamanya juga  sudah mulai  menghilang.  Ulama yang memberikan cinta dan kasih sayangnya lewat  nasehat  dan dakwah bil hikmah  sekarang  bukan lagi sosok-sosok karismatik yang dihormati dan disegani. Nyawa ulama tak lagi dihargai.   Predikat  kriminal  disematkan kepada para pewaris para Nabi ini.  Sekarang kedudukan mereka tak beda  dengan para perampok dan pembegal.

Setali tiga uang, cinta dan kasih sayang penguasa pada rakyatnya sekarang  cuma basa basi saja.  Penguasa hanya peduli dan sayang rakyat hanya ketika mau pilkada.  Sementara nasib rakyat  tetap sengsara.  Kelaparan di Papua  yang  lama dibiarkan menjadi bukti omong kosong  penguasa memberikan cinta dan keadilan bagi rakyatnya.  Tidakkah itu berarti penguasa  juga melakukan “sadisme” pada rakyatnya ?

Apakah cinta dan kasih sayang sudah demikian mahal harganya, semahal harga coklat Cadbury, Pizza, BBQ, Fettucini  yang biasa dinikmati pasangan “cinta’’ di hari kasih sayang  ?  Makanan yang mahal itu tidak sebanding dengan murahnya harga  keperawanan  yang hilang  di hari itu.  Sungguh naif.  (https://news.okezone.com/read/2015/02/11/338/1104284/kpai-khawatir-banyak-keperawanan-hilang-di-hari-valentine)

Mencari cinta sejati dan kasih sayang  hakiki di  zaman now sungguh  tak gampang.  Semua dihargai  dengan uang.   Ada cinta jika ada uang.  Orang sakit  butuh uang banyak kalau mau perawatan yang  memuaskan dan penuh kasih sayang.  Yang punya uang pas-pasan silahkan menikmati pelayanan keras  dan  garang  paramedis di kelas bawahan.

Kekerasan dengan bentuk apapun takkan pernah terjadi  di bawah naungan sistem Islam yaitu Khilafah.  Penguasa Khilafah merupakan sumber cinta dan  kasih sayang  yang diteladani  rakyatnya.  Bukan uang standarnya tapi pelayanan prima yang penuh cinta.  Bukti cinta dan kasih sayang Kholifah Umar bin Abdul Aziz terlihat manakala selama dua tahun masa pemerintahannya,  tak  satupun rakyatnya yang menerima zakat  sangking sejahteranya.  Kholifah Umar bin Khattab dengan penuh cinta memikul sendiri karung berisi gandum untuk rakyatnya yang kelaparan. Kholifah Harun ar Rasyid mencintai rakyatnya dengan ilmu.  Di masa pemerintahannya tak satu pun rakyatnya yang buta huruf.  Sekolah-sekolah gratis dan bermutu tinggi tersebar sampai pelosok negeri.  Begitulah para Kholifah menciptakan cinta dan kasih sayang melalui penerapan syariat Islam.  Jika  penguasanya  menanamkan rasa cinta dan kasih sayang pada rakyatnya adalah sangat wajar rakyatnya pun juga diliputi perasaan yang sama.
 
Tak hanya cinta dan kasih sayang menjadi karakter para Kholifah,  ketegasan dalam menerapkan hudud bagi rakyatnya yang melakukan tindakan kriminal   membuat selama masa pemerintahan mereka yang panjang,  angka  kriminalitas  termasuk perilaku  sadisme hampir tidak ada.  Nyawa manusia begitu berharga.  Bahkan warga non muslim haram darah dan hartanya.  Jadi mana bukti klaim sepihak bahwa hukum Islam itu kejam  dan sadis ?

Pada dasarnya  Islam adalah agama kasih sayang.  Rasulullah SAW diutus  Allah untuk menyampaikan risalah agar menjadi rahmat bagi seluruh alam  (QS al Anbiya : 107).  Al Quran adalah surat cinta  dari Allah.  Melalui kalamNya, Allah menginginkan manusia  bahagia dunia dan akhirat.   Selepas Rasul wafat, risalah cinta ini terus disampaikan generasi sahabat  hingga para kholifah,  para penguasa Khilafah melalui jihad dan dakwah selama 13 abad.  Lagi-lagi orang butuh berfikir jernih untuk memahami jihad apa adanya.   Sehingga terbayang  jihad bukanlah kekerasan dan sadisme.  Hakikatnya jihad  adalah bentuk kasih sayang  Islam melalui pembebasan manusia dari penghambaan  sesama manusia menuju penyembahan Allah saja.  Bukankah dengan itu manusia terbebas dari panasnya api neraka ?

Ketika sistem kapitalisme yang bertuhankan uang masih menguasai dan  sistem Islam belum diterapkan, jangan berharap jagat Indonesia  akan terbebas dari  perilaku sadisme.   Jangan juga berharap kedamaian, cinta dan kasih sayang tumbuh subur di sini.  Nonsens, berharap ada  cinta di hari kasih sayang.  Tapi mencari cinta dan kasih sayang dengan sistem Islam itu suatu kepastian.

#KhilafahAjaranIslam
#BanggaBicaraKhilafah
#IslamRahmatanLilAalamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pemuda Islam : Think About Palestine Not Valentine

Oleh Najmah Jauhariyyah (Pegiat Sosial Media Bengkulu) Manusia adalah makhluk yang mampu berfikir.  Dengan berfikir manusia menjadi makhlu...