#Opini
Oleh Najmah Jauhariyyah
(Komunitas Warga Bengkulu Perindu Khilafah)
Semakin modern zaman, ternyata jenis
penyakit juga semakin beraneka
ragam. Penyakit populer yang sering
melanda manusia zaman now adalah stress. Stress adalah gangguan
mental yang dihadapi seseorang akibat adanya tekanan. Tekanan ini muncul dari
kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhan atau keinginannya. (https://id.wikipedia.org/wiki/Stres)
Salah satu indikasi
seseorang terkena penyakit stress adalah tidak fokus dalam melakukan aktivitas, menangis
sampai melakukan tindakan-tindakan yang tidak masuk akal dan tidak normal
bahkan membahayakan dirinya dan orang lain (https://halosehat.com/penyakit/stres/penyebab-stress). Akibat
putus cinta, seorang pemuda stress dan nekat naik menara sutet lalu mengancam bunuh diri. Beban ekonomi yang sulit
telah membuat seorang ibu stress lalu tega membunuh
anaknya.
Di
Bengkulu sendiri, tingkat stress warganya semakin lama semakin meningkat (http://harianrakyatbengkulu.com/ver3/2014/10/22/warga-bengkulu-stres-tambah-banyak/).
Banyaknya warga Bengkulu yang stress membuat RSJKO kewalahan untuk
menyediakan anggaran untuk perawatan (biaya makan minum dan ruang
perawatan). Rata-rata penyebab stress warga Bengkulu adalah tekanan
ekonomi, putus cinta, gagal masuk PTN
hingga kehilangan orang yang dicintai. Rata-rata
penderita stress adalah warga usia produktif kisaran 16 tahun sampai 70 tahun.
Stress
tak hanya melanda rakyat kebanyakan namun juga melanda para pejabat negara
hingga politikus. Banyak politikus stress yang masuk RSJ karena kalah pilkada
atau gagal jadi anggota dewan. Pejabat
negara rupanya juga ikut-ikutan stress akibat hutang negara membengkak. Akibatnya mereka
membuat kebijakan yang merugikan rakyat. Impor garam dan pemakaian dana haji untuk
biaya infrastuktur merupakan indikasi pejabat negara stress sehingga kebijakan yang
dibuat banyak yang tidak masuk akal. Tekanan asing yang tidak menghendaki Islam
Ideologis berkembang di Indonesia,
menyebabkan pemerintah mengalami “stress
berat” sehingga secara membabi buta mengkriminalisasi ormas Islam dan para ulama.
Kehidupan
yang kian hari bertambah sulit disinyalir menjadi penyebab utama stress
melanda. Persaingan untuk mengejar uang, jabatan dan prestise membuat manusia bertingkah rakus seperti hewan. Gaya hidup yang berorientasi fun, food dan
fashion menjadikan orang tidak lagi berfikir aspek
kemanusiaan, akhlak apalagi ruhiyah.
Kehidupan manusia nyaris seperti robot.
Kaya tapi tak menikmati hidup.
Sehat secara fisik tapi hati dan jiwanya lemah. Pintar tapi
punya sifat dengki dan dendam.
Tentu saja obat medis takkan cukup
mengobati kepala pusing akibat stress.
Pusing akan hilang sesaat tapi hati tetap was-was tak tenang. Ketika iman dalam kondisi tidak stabil, orang yang dilanda stress cenderung mengambil jalan pintas seperti bunuh diri atau menenggak miras/narkoba.
Benarlah kata Opick bahwa obat
mujarab dari stress adalah mengingat Allah (zikrullah).
Allah berfirman :
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati
mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan
mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS Ar-Rad : 28)
Mengingat Allah atau
zikrullah tak cukup lisan melafazhkan kalimat thoyyibah di majelis –
majelis zikir. Membuat hati tenang dan
bahagia tak cukup dengan mengikuti kajian-kajian
tazkiyyatun nufus dan training – training ESQ.
Menurut Al Qarafi
dalam Kitab Ad Dakhirah (lihat Kitab Min Muqawwimat hal 131), zikir yang utama itu adalah mengingat Allah ketika melaksanakan perintah dan menjauhi
laranganNya. Makna zikrullah yang sebenarnya adalah ketika kitabullah
dipahami makna-maknanya dan diterapkan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Makna
zikrullah juga berarti idrak shillah billah yaitu kesadaran penuh terhadap hubungannya dengan Allah manakala berbuat. Jadi zikrullah sebenarnya adalah taqwa ilaLlah
dengan menjadikan hukum-hukum Allah sebagai satu-satunya solusi
persoalan manusia baik dalam kehidupan individu sampai kehidupan negara.
Tatkala
masalah mendera,bagi orang yang beriman tidak ada solusi yang lebih ampuh selain ingat kepada Allah serta
janji-janjiNya, takut kepada azabNya
yang pedih dan selalu ridho dengan
ketetapanNya. Pemahaman terhadap masalah qodho yang benar tidak akan
membuat seorang pemuda berlarut- larut
dalam masalah karena dia yakin jodoh di tangan Allah. Seorang ibu tidak akan membunuh anaknya
karena dia yakin
rezki itu dari Allah sementara membunuh jiwa yang diharamkan Allah
membunuhnya adalah dosa besar.
Namun
kesholihan individu tak cukup untuk
meredam penyakit stress. Pemberantasan
penyakit stress juga memerlukan
kesholihan negara dengan penerapan hukum-hukum Allah secara keseluruhan.
Di masa kekhilafahan, stress adalah
penyakit langka. Manusia yang hidup
dalam naungan sistem Khilafah merasakan
ketenangan, kebahagiaan dan kesejahteraan
yang nyata. Pasalnya, penguasa memberikan jaminan kehidupan yang memanusiakan
manusia.
Nasib Omar Bakri
yang stress nyambi sana sini tak pernah ada di
era Kholifah Umar bin Khattab. Pada masa kekhalifahan Umar bin
Khattab, terdapat kebijakan pemberian gaji kepada para pengajar Al-Qur’an
masing-masing sebesar 15 dinar, di mana satu dinar pada saat itu sama dengan
4,25 gram emas. Jika satu gram emas Rp. 500.000,00 dalam satu dinar berarti
setara dengan Rp 2.125.000,00. Dengan
kata lain, gaji seorang guru mengaji adalah 15 dinar dikali Rp 2.125.000, yaitu
sebesar Rp 31.875.000,00. Di masa
Umar pula seorang janda yang sempat stress karena melihat anak- anaknya kelaparan
akhirnya bahagia karena diberikan secara cuma-cuma bahan makanan yang
dipikulkan sendiri oleh Kholifah Umar di atas pundaknya.
Kalau pun terkena stress, Kholifah al Manshur pernah membangun rumah sakit di Kairo yang melayani pasien penderita gangguan kejiwaan. Rumah sakit ini dilengkapi dengan musik lembut dan aroma terapi. Layanan diberikan tanpa membedakan ras, warna kulit dan agama pasien; tanpa batas waktu sampai pasien benar-benar sembuh. Selain memperoleh perawatan, obat dan makanan gratis tetapi berkualitas, para pasien juga diberi pakaian dan uang saku yang cukup selama perawatan.
Penyakit stress melanda karena sistem kapitalisme yang menjadikan manusia memiliki kekeringan ruhiyah. Sistem inilah yang meniadakan zikrullah dalam semua aspek kehidupan. Jika rakyat Indonesia ingin hidup tenang dan bahagia maka obatnya adalah mengembalikan zikrullah kepada makna sebenarnya yaitu penerapan sistem Islam secara kaafah dalam naungan Khilafah. Niscaya Indonesia berzikir tak sekedar jargon belaka.
#KhilafahAjaranIslam
#KhilafahSejarahKita
#BanggaBicaraKhilafah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar