Minggu, 25 Februari 2018

Stress Melanda, Zikrullah Obatnya


#Opini

Oleh Najmah Jauhariyyah
(Komunitas Warga Bengkulu Perindu Khilafah)

Semakin modern zaman, ternyata jenis penyakit  juga semakin beraneka ragam.   Penyakit populer yang sering melanda manusia zaman now adalah stress.   Stress  adalah gangguan mental yang dihadapi seseorang akibat adanya tekanan. Tekanan ini muncul dari kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhan atau keinginannya. (https://id.wikipedia.org/wiki/Stres)


Salah satu indikasi seseorang terkena penyakit stress adalah tidak fokus dalam melakukan aktivitas, menangis sampai melakukan tindakan-tindakan yang tidak masuk akal dan tidak normal bahkan membahayakan dirinya dan orang lain (https://halosehat.com/penyakit/stres/penyebab-stress).  Akibat putus cinta,  seorang pemuda  stress dan nekat naik  menara sutet lalu  mengancam bunuh diri. Beban ekonomi yang sulit telah  membuat  seorang ibu stress lalu tega membunuh anaknya.



Di Bengkulu sendiri, tingkat stress warganya semakin lama semakin meningkat (http://harianrakyatbengkulu.com/ver3/2014/10/22/warga-bengkulu-stres-tambah-banyak/).  Banyaknya warga Bengkulu yang stress membuat RSJKO kewalahan untuk menyediakan anggaran untuk perawatan (biaya makan minum dan ruang perawatan).  Rata-rata  penyebab stress warga Bengkulu adalah tekanan ekonomi, putus cinta, gagal masuk  PTN hingga kehilangan orang yang dicintai.  Rata-rata penderita stress adalah warga usia produktif kisaran 16 tahun sampai 70 tahun.

Stress tak hanya melanda rakyat kebanyakan namun juga melanda para pejabat negara hingga politikus.  Banyak politikus  stress yang masuk RSJ karena kalah pilkada atau gagal jadi anggota dewan.  Pejabat negara rupanya juga ikut-ikutan stress akibat hutang negara membengkak. Akibatnya mereka membuat kebijakan yang merugikan rakyat.   Impor garam dan pemakaian dana haji untuk biaya infrastuktur merupakan indikasi  pejabat negara stress sehingga kebijakan yang dibuat banyak yang tidak masuk akal. Tekanan asing yang tidak menghendaki Islam  Ideologis berkembang di Indonesia, menyebabkan  pemerintah mengalami “stress berat” sehingga secara membabi buta mengkriminalisasi ormas Islam dan para ulama.



Kehidupan yang kian hari bertambah sulit disinyalir menjadi penyebab utama stress melanda. Persaingan untuk mengejar uang, jabatan dan prestise membuat manusia bertingkah   rakus seperti hewan.  Gaya hidup yang berorientasi fun, food dan fashion menjadikan orang tidak lagi berfikir aspek kemanusiaan, akhlak apalagi ruhiyah.  Kehidupan manusia nyaris seperti robot.   Kaya tapi tak menikmati hidup.  Sehat secara fisik tapi hati dan jiwanya lemah.  Pintar tapi  punya sifat dengki dan dendam.



Tentu saja obat medis takkan cukup mengobati kepala pusing akibat stress.  Pusing akan hilang sesaat tapi hati tetap was-was tak tenang.  Ketika iman dalam kondisi tidak stabil, orang  yang dilanda stress cenderung mengambil  jalan pintas seperti bunuh diri atau  menenggak miras/narkoba.
 


Benarlah kata Opick bahwa obat mujarab dari stress adalah mengingat Allah (zikrullah).



Allah berfirman :


الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ



Artinya  (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS Ar-Rad : 28)
Mengingat Allah atau zikrullah  tak cukup lisan  melafazhkan kalimat thoyyibah di majelis – majelis zikir.  Membuat hati tenang dan bahagia  tak cukup dengan mengikuti  kajian-kajian  tazkiyyatun nufus dan training – training ESQ.
  


Menurut  Al Qarafi   dalam Kitab Ad Dakhirah (lihat Kitab Min Muqawwimat hal 131),  zikir yang utama itu adalah  mengingat  Allah  ketika melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya.   Makna  zikrullah yang sebenarnya adalah ketika  kitabullah  dipahami makna-maknanya dan diterapkan hukum-hukum yang terkandung  di dalamnya.  Makna zikrullah  juga berarti  idrak shillah billah yaitu kesadaran penuh terhadap  hubungannya dengan Allah manakala  berbuat.   Jadi zikrullah sebenarnya adalah  taqwa  ilaLlah  dengan menjadikan  hukum-hukum Allah sebagai satu-satunya solusi persoalan manusia baik dalam kehidupan  individu sampai kehidupan negara.



Tatkala masalah mendera,bagi orang yang beriman tidak ada solusi yang lebih ampuh  selain ingat kepada Allah serta janji-janjiNya, takut kepada  azabNya yang pedih  dan selalu ridho dengan ketetapanNya.   Pemahaman  terhadap masalah qodho yang benar tidak akan membuat  seorang pemuda berlarut- larut dalam masalah karena dia yakin jodoh di tangan Allah.   Seorang ibu tidak akan membunuh anaknya karena  dia  yakin  rezki itu dari Allah sementara membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya adalah dosa besar.  

Namun kesholihan individu  tak cukup untuk meredam penyakit stress.  Pemberantasan penyakit stress juga memerlukan  kesholihan negara dengan penerapan hukum-hukum Allah secara keseluruhan.  Di masa kekhilafahan, stress adalah penyakit langka.  Manusia yang hidup dalam naungan  sistem Khilafah merasakan ketenangan,  kebahagiaan dan kesejahteraan yang nyata.  Pasalnya, penguasa  memberikan   jaminan kehidupan yang  memanusiakan  manusia.



Nasib Omar Bakri yang stress nyambi sana sini tak pernah ada di era Kholifah Umar bin Khattab. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, terdapat kebijakan pemberian gaji kepada para pengajar Al-Qur’an masing-masing sebesar 15 dinar, di mana satu dinar pada saat itu sama dengan 4,25 gram emas. Jika satu gram emas Rp. 500.000,00 dalam satu dinar berarti setara dengan Rp 2.125.000,00.  Dengan kata lain, gaji seorang guru mengaji adalah 15 dinar dikali Rp 2.125.000, yaitu sebesar Rp 31.875.000,00.   Di masa Umar  pula seorang janda yang sempat  stress karena melihat anak- anaknya kelaparan akhirnya bahagia karena diberikan secara cuma-cuma bahan makanan yang dipikulkan sendiri oleh Kholifah Umar di atas pundaknya.

Kalau pun terkena stress, Kholifah al Manshur pernah  membangun rumah sakit di Kairo yang melayani pasien penderita gangguan kejiwaan. Rumah sakit ini dilengkapi dengan musik lembut dan aroma terapi. Layanan diberikan tanpa membedakan ras, warna kulit dan agama pasien;  tanpa batas waktu sampai pasien benar-benar sembuh. Selain memperoleh perawatan, obat dan makanan gratis tetapi berkualitas, para pasien juga diberi pakaian dan uang saku yang cukup selama perawatan. 

Penyakit stress melanda karena sistem kapitalisme  yang  menjadikan manusia  memiliki kekeringan ruhiyah.  Sistem inilah yang meniadakan  zikrullah dalam semua aspek kehidupan.  Jika rakyat  Indonesia ingin hidup tenang dan bahagia  maka  obatnya adalah mengembalikan zikrullah kepada makna sebenarnya yaitu  penerapan sistem Islam secara kaafah dalam naungan Khilafah.   Niscaya   Indonesia berzikir  tak sekedar  jargon belaka.



#KhilafahAjaranIslam
#KhilafahSejarahKita
#BanggaBicaraKhilafah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pemuda Islam : Think About Palestine Not Valentine

Oleh Najmah Jauhariyyah (Pegiat Sosial Media Bengkulu) Manusia adalah makhluk yang mampu berfikir.  Dengan berfikir manusia menjadi makhlu...