Selasa, 27 September 2016

Reportase Kajian Cermin Wanita Shalihah (KCWS) #DPD 1 Muslimah_HTI_Provinsi_Bengkulu “Prostitusi LGBT Menimpa Anak, Khilafah Kebutuhan Darurat”






Muslimah HTI Bengkulu kembali menyelenggarakan "Kajian Cermin Wanita Shalihah “Prostitusi LGBT Menimpa Anak, Khilafah Kebutuhan Darurat” itulah tema KCWS kali ini.

Acara ini dihadiri sekitar 25 peserta dari kalangan mahasiswa, guru dan ibu-ibu majelis taklim. Ustadzah Indah Kartika Sari, S.P (Ketua DPD I Provinsi Bengkulu) sebagai narasumber dalam kajian tersebut.  Beliau memaparkan bahwa negeri ini dalam kondisi darurat masalah. Asset penerus bangsa tengah terancam. Bagaimana tidak, belum juga selesai kasus narkoba, tawuran, dan pelecehan seksual. Kini, masyarakat dibuat terperangah dengan kasus prostitusi. Bukan hanya perempuan saja yang bisa terjerumus. Remaja laki-lakipun tak luput dari ancaman ini. Yah, prostitusi anak untuk kaum gay. AR dalam kasus ini sebagai satu tersangka mengajak korbannya dengan kedok bisnis. Membuat para remaja terperangkap. Mereka menjerumuskan diri dalam bisnis dengan uang yang sedikit dan iming-iming gaya hidup hedonis. Ketika ada tawaran berbisnis di mana anggotanya juga dari kalangan pemuda pasti sangat menggiurkan. Menyenangkan. Tertarik untuk terlibat di dalamnya. Saat iman mulai kering. Akidah tak lagi jadi pijakan. Maka jadilah berbisnis tanpa peduli halal-haram. Pijakan itu sudah beralih. Mereka hanya berpikir yang penting menyenangkan dan menghasilkan. Seperti halnya terlibat dalam bisnis prostitusi.
Pembicara juga menyampaikan bahwa anak-anak yang menjadi korban dari predator gay, biasanya anak-anak yang berasal dari kalangan yang ekonomi kurang baik. Sekalipun orang tua dalam kondisi ekonomi baik. Tapi mereka tidak mengetahui anaknya terlibat prostitusi. Dengan adanya prostitusi LGBT ini, maka sesungguhnya aset bangsa yaitu anak-anak yang merupakan generasi penerus tengah terancam.
Negara telah gagal melindungi warganya. Semakin hari kejahatan semakin beragam. Sementara solusi-solusi yang ditawarkan tak mampu menyelamatkan. Tugas pemimpin seharusnya sebagai perisai. Penyelesaian prostitusi membutuhkan diterapkannya kebijakan yang didasari syariat Islam. Harus dibuat undang-undang yang tegas mengatur keharaman bisnis apapun yang terkait pelacuran. Tidak boleh dibiarkan bisnis berjalan berdasar hukum permintaan dan penawaran belaka tanpa pijakan benar dan salah sesuai syariat. Negara tidak hanya harus menutup semua lokalisasi, menghapus situs prostitusi online tapi juga melarang semua produksi yang memicu seks bebas seperti pornografi lewat berbagai media. Jadi solusi yang mampu menyelesaikan permasalahan ini adalah dengan diterapkannya syariah islam dalam naungan khilafah, paparnya.
Acara ini dilaksanakan pada hari Ahad, 25 September 2016 bertempat di Masjid Muhtadin Bengkulu. Peserta begitu semangat dan antusias dalam menyimak pemaparan materi, begitu banyak pertanyaan yang diajukan kepada pembicara dan fokus dalam mengikuti tahapan acara demi acara. 

Wallahualam.


Selasa, 30 Agustus 2016

Reportase Kajian Cermin Wanita Shalihah (KCWS) #DPD 1 Muslimah_HTI_Provinsi_Bengkulu “Kekerasan Terhadap Guru, Negara Gagal Lindungi, Saatnya Kembali kepada Sistem Pendidikan Islam”

















Muslimah HTI Bengkulu menyelenggarakan "Kajian Cermin Wanita Shalihah dengan tema “Kekerasan terhadap guru, Negara Gagal Lindungi,Saatnya Kembali Pada Sistem Pendidikan Islam” Acara ini dihadiri sekitar 25 peserta dari kalangan mahasiswa, guru dan ibu-ibu majelis taklim. Ustadzah  Feliyanah,S.Pd menjadi narasumber dalam kajian tersebut.  Beliau memaparkan bahwa negeri ini dalam kondisi darurat masalah. Mulai dari korupsi, kedisiplinan rendah, tawuran antar pelajar, kriminalitas, narkoba dan masalah lainnya. Di antara orang-orang yang terkena tanggung jawab secara langsung adalah para guru yang setiap harinya bersinggungan langsung dengan generasi penerus bangsa ini. Generasi yang akan menggantikan kedudukan para pemimpin di kemudian hari. Itu artinya kualitas output dari siswa-siswi menjadi sebuah perkara yang sangat penting, bahkan menjadi penentu arah perjalanan sebuah negara.

Namun bagaimana jadinya jika sekolah yang dibangun sebagai tempat belajar justru beralih fungsi sebagai tempat untuk saling mempidana satu sama lain. Guru yang diberi gelar pahlawan tanpa jasa berusaha semaksimal mungkin untuk mengajar, mendidik dan membina siswa-siswinya agar menjadi insan yang cendikia serta memiliki kedisiplinan yang tinggi-justru malah mendapatkan perlakuan yang tidak sewajarnya bahkan guru dibayar denga gaji yang sangat kecil, ini semua adalah buah dari diterapkannya sistem liberalisme, ujarnya.

Beliau juga menjelaskan bahwa solusi dari semua ini adalah diterapkanya sistem pendidikan Islam. Bagaimana Islam sangat menghargai jasa para guru karena Islam memandang begitu sangat pentingnya akan pendidikan. Kesejahteraan guru dijamin, hak-hak guru diberikan, dilindungi dan guru dibayar dengan gaji yang sangat besar. Tak lupa beliau mengajak ummat khususnya peserta Kajian Cermin Wanita Shalihah untuk bersama-sama memperjuangkan agar diterapkannya sistem pendidikan Islam yaitu diterapkannya sistem Islam dalam naungan Daulah Khilafah. 

Acara ini dilaksanakan pada hari Ahad, 28 Agustus 2016 bertempat di Masjid Muhtaddin Bengkulu. Peserta begitu semangat dan antusias dalam menyimak pemaparan materi dan fokus dalam mengikuti tahapan acara demi acara.

Wallahualam.


Kamis, 18 Agustus 2016

‪#‎Reportase‬ ‪#‎DDI‬ ‪#‎MuslimahHTIDPD1Bengkulu‬ “Merindukan Kemerdekaan Hakiki di Bawah Naungan Syariah”







Indonesia tak lama lagi merayakan hari kemerdekaannya pada 17 Agustus, walau secara fisik kita telah merdeka namun tidak demikian dengan pemikiran. Perbincangan mengenai makna kemerdekaan terus dilakukan tak terkecuali oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPD I Bengkulu yang mengadakan daurah Muslimah dengan tema “Merindukan Kemerdekaan Hakiki di Bawah Naungan Syariah” Minggu, 14 Agustus 2016.
Daurah berlangsung di sekretariat HTI DPD I Bengkulu, lebih kurang 15 muslimah pilihan hadir dalam daurah. Ustadzah Emnawati (Aktivis MHTI Bengkulu) hadir sebagai pembicara, ia mengatakan bahwa saat ini kita sedang dijajah dengan gaya baru (penjajahan secara pemikiran, red) namun hal tersebut tak disadari oleh kaum muslimin. Buktinya bahwa negeri ini belum merdeka yaitu masih tunduknya mereka kepada Asing, ujarnya. Ia menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan Kemerdekaan Hakiki adalah saat manusia bebas dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi dan penghambaan kepada sesama manusia.
Ia menambahkan bahwa mewujudkan kemerdekaan adalah misi dari Islam, dimana Islam diturun oleh Allah SWT untuk menghilangkan segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman dan penghabaan terhadap manusia. Inti dari kemerdekaan hakiki adalah terkontrolnya tindakan dan pola sikap oleh rasionalitas pemikiran,karena pemikiran yang mendalam akan menuntun manusia tidak terperosok dalam jurang penghambaan pada mahluk, materi dan hawa nafsunya sendiri. Inilah kemerdekaan Islam, cahaya kebebasan yang terpancar dari tauhid bahwa semua yang dilakukan hanya mengharap ridha Allah SWT, tutupnya.
Wallahu’alam Bisshawab.

Rabu, 03 Agustus 2016

Reportase Kajian Cermin Wanita Shalihah (KCWS) #DPD 1 Muslimah_HTI_Provinsi_Bengkulu “Kembali ke Fitroh, Kembali ke Syariah”



Muslimah HTI Bengkulu menyelenggarakan "Kajian Cermin Wanita Shalihah “Kembali ke Fitroh, Kembali ke Syariah. Acara ini dihadiri sekitar 25 peserta dari kalangan mahasiswa, guru dan ibu-ibu majelis taklim.  Ustadzah  Ummu Athiyah  sebagai narasumber dalam kajian tersebut. Iya menyampaikan bahwa sejatinya bulan Ramadhan menjadikan setiap hamba semakin bertaqwa. Sebagaimana firman Allah “ wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa (QS. Al baqarah [2]: 183). Namun pada fakta nya, setelah bulan Ramadhan selesai, semua kembali seperti sebelum bulan ramadhan, berbagai jenis kemaksiat dilakukan kembali. Dampak/akibat penyimpangan terhadap fitroh yaitu tampak  kerusakan diamana-mana, hancurnya kehidupan, Sebagaimana firman Allah “Siapa saja yang berpaling dari peringatanku , maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (QS Thoha [20] :124”. Semua itu menunjukkan bahwa bulan Ramadhan tidaklah meningkatkan ketaqwaan mereka kepada Allah swt.   
Cara memelihara Fitroh satu-satunya yaitu dengan kembali kepada Syariah dalam naunganDaulah Khilafah. Karena dengan kembali kepada Syariah, fitroh manusia akan terjaga. Hal itu bisa terwujud jika umat Islam dan tokoh umat secara bersama-sama berjuang untuk menegakkan kembali Khilafah ar-Rasyidah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah Tukasnya.
Acara ini dilaksanakan pada hari ahad, 30 Juli 2016 bertempatan di Masjid Muhtadin Bengkulu. Acara ini juga bertepatan di bulan syawal, sehingga tema yang diangkat yaitu Kembali ke Fitroh, Kembali ke Syariah. Peserta begitu semangat dan antusias dalam menyimak pemaparan materi dan fokus dalam mengikuti tahapan acara demi acara. Ketika masuk sesi diskusi, terlihat semangat yang menggebu dari peserta ditandai dengan banyak nya pertanyaan yang dilontarkan.
Wassalam.


Jumat, 17 Juni 2016

Reportase Kajian Islam Ramadhan # Kampus_DPD 1 Muslimah_HTI_Provinsi_Bengkulu

Pada moment Ramadhan ini Muslimah HTI Bengkulu menyelenggarakan “Kajian Islam Ramadhan”  Acara ini dihadiri sekitar 21 peserta dari kalangan mahasiswa. Kajian ini dilakukan melihat faktanya bahwa di kalangan mahasisa yang begitu kurang dalam pemahaman agamanya. Ustadzah Indah Kartika Sari, S.P dan Ustazah Emnawati adalah narasumber dalam kajian tersebut. Ustazah Indah Kartika Sari,S.P menyampaikan materi tentang  "Proud To Be Gaul Fresh”. Beliau memaparkan bahwa Islam mengatur hubungan perempuan dan laki-laki. Islam menetapkan beberapa kriteria syar’i pergaulan antara laki-laki dan perempuan untuk menjaga kehormatan, melindungi harga diri dan kesuciannya. Kriteria syar’i itu juga berfungsi untuk mencegah perzinahan dan sebagai tindakan prefentif terjadinya kerusakan masal. Di antaranya, Islam mengharamkan ikhtilath (bercampur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat) dan khalwat (berduaan antara laki-laki dan perempuan), Islam juga memerintahkan adanya sutrah (pembatas) yang syar’i dan menundukkan pandangan, serta meminimalisir pembicaraan dengan lawan jenis sesuai dengan kebutuhan. Setiap manusia Allah karuniakan yang namanya naluri seksual (gharizah an-nau’). Namun Islam punya aturan dalam hal. Dalam mejaga keturunan, Islam mempunya aturan yaitu melalui jalur pernikahan yang jelas diriidhai Allah SWT.
Narasumber yang kedua yaitu Ustadzah Emnawati yng mengupas masalah fiqih. Beliau memaparkan masalah rukshah dalam Islam. Beliau memaparkan bahwa rukhsah adalah keringanan yang diberikan Allah sebagai pengecualian dari hukum asli karena adanya halangan/uzur pada seorang hamba/mukallaf. Golongan yang mendapatkan rukhsah untuk meninggalkan puasa adalah orang sakit, musafir, wanita yang haidh atau nifas, wanita hamil atau menyusui dan orang tua renta yang tak mampu lagi melaksanakan ibadah puasa.

Acara ini dilaksanakan pada hari kamis 9 Juni 2016 dan selasa 14 Juni 2016 bertempat di rumah binaan. acara ini dilaksanakan untuk menyampaikan dan mengajak terutama mereka para intelektual muda untuk mau mempelajari Islam. Jadilah mahasiswa yang cerdas dan kritis terhadap masalah yang ada. Peserta begitu semangat dan antusias dalam menyimak pemaparan materi dan fokus dalam mengikuti tahapan acara demi acara.

Rabu, 15 Juni 2016

Reportase #LightUpYourRamadhan #LDS HTI BENGKULU



Kegiatan Pesantren Kilat dalam rangka Bulan Ramadhan yaitu bulan dimana di turunkannya Al-Quran ,Agenda ini Di selenggarakan oleh Lembaga Dakwah Sekolah (LDS) MHTI Bengkulu bekerjasama dengan beberapa Sekolah di Kota Bengkulu yaitu SMK.S 4 PGRI yang terselenggara tanggal 10 juni 2016, SMP.N 5 Kota Bengkulu pada tanggal 13-14 juni 2016 serta Remaja Islam Masjid Al-Hamid Kandang Limun pada tanggal 11,12 juni 2016
Dengan tema yang di usung pada Ramadhan 1437 H kali ini yaitu "Light Up Your Ramadhan" 



Dalam rangkaian kegiatan SANLAT ini sangat meriah dan mendapat antusias yang luar biasa dari para  peserta. Semoga Kegiatan ini dapat memberikan kontribusi dan penyadaran kepada para generasi muda agar bisa lebih menganal Islam,karena kekuatan umat ada d











i para pemuda dan pemudinya para penerus generasi.

Kamis, 02 Juni 2016

Reportase Kajian Cermin Wanita Shalihah #DPD 1 Muslimah_HTI_Bengkulu Muslimah HTI Bengkulu menyelenggarakan " Kajian Cermin Wanita Shalihah” dengan tema “Menggagas Solusi Tuntas Kekerasan Seksual”


Muslimah HTI Bengkulu kembali menyelenggarakan acara diskusi publik bertajuk Kajian Cermin Wanita Shalihah. Acara ini dihadiri sekitar 25 peserta dari kalangan mahasiswi, Ibu-ibu Majelis Taklim, Guru dan Ibu Rumah Tangga. Adapun narasumber “Kajian Cermin Wanita Shalihah” kali ini adalah Ustadzah Fitri Andusti (Aktivis DPD 1 MHTI Bengkulu) yang memaparkan materi tentang “Menggagas Solusi Tuntas Kekerasan Seksual”
Beliau  menyampaikan bahwa kekerasan seksual di Indonesia setiap tahun meningkat sebesar 50%. Hal itu membuat Indonesia menempati peringkat tertinggi di Asia Pasifik dalam hal kekerasan seksual. Berbagai solusi yang ditawarkan pemerintah selama ini ternyata belum mampu mengurangi ataupun menghanguskan kekerasan seksual yang semakin hari semakin mengakar. Ini diakibatkan pemicu dari kejahatan itu sendiri tidak dihentikan operasinya. Misalnya peredaran miras yang merupakan induk dari segala kejahatan. Jangankan untuk memberhentikan peredaran miras, perda (peraturan daerah) miras pun malah dicabut. Seperti diketahui, kejadian tragis yang menimpa saudara kita Yuyun merupakan salah satu contoh dampak dari kemiskinan, liarnya peredaran miras serta minimnya keamanan bagi warga negara.  Padahal sistem Islam menjaga suasana taqwa terus hidup di tengah masyarakat. Negara berkewajiban membina warganegaranya sehingga ketaqwaan individu menjadi pilar bagi pelaksanaan hukum-hukum islam. Individu bertaqwa tidak akan melakukan kekerasan seksual. Masyarakat yang bertaqwa juga akan selalu mengontrol agar individu tidak melakukan pelanggaran. Di sisi lain hukum hanya berpihak pada  para kapital tidak akan memihak perempuan. Sementara itu dalam Islam, perempuan merupakan kehormatan yang wajib dijaga serta ditempatkan dalam kedudukan yang tinggi dan terhormat. Ustadzah Fitri Andusti  juga menjelaskan saat Islam memimpin dunia,  Rasulullah memerangi Yahudi Bani Qainuqa dan mengusir mereka dari Madinah hanya karena membela  kehormatan seorang muslimah.  Sementara itu, Khalifah Al Mu’tashim mengirim puluhan ribu tentaranya  hanya karena teriakan seorang muslimah. Maka suatu keniscayaan jika Syariah dan Khilafah diterapkan akan mampu mendatangkan rahmat  bagi seluruh perempuan.
Acara ini dilaksanakan pada hari Ahad, 29 Mei 2016 bertempat di Mesjid Al-Muhtadin (Samping RRI Bengkulu) Kota Bengkulu.  Acara ini dilaksanakan untuk menyampaikan opini kepada peserta tentang  urgennya penerapan syariah Islam agar  terjaga dan terpelihara kemuliaan  perempuan dan Islamlah satu-satunya solusi yang mampu meminimalisir kekerasan seksual maupun kejahatan lainnya..  Peserta begitu semangat dan antusias dalam menyimak pemaparan materi serta semangat bertanya pada saat sesi tanya jawab dan fokus dalam mengikuti tahapan acara demi acara. Wallahualam.




Pemuda Islam : Think About Palestine Not Valentine

Oleh Najmah Jauhariyyah (Pegiat Sosial Media Bengkulu) Manusia adalah makhluk yang mampu berfikir.  Dengan berfikir manusia menjadi makhlu...