Selasa, 31 Maret 2015

Reportase Pawai Simpatik #WomenAndShariah








#WomenAnd Syariah

Ahad, 22 Maret 2015 MHTI Bengkulu menyelenggarakan Aksi simpatik dan kampanye Women And Syariah “ Menghapus Tuduhan Palsu Terhadap Syariah”
Rute: Hotel Samudera Dwinka-Simpang 5 (Lima) Kota Bengkulu. Minggu, 22 Maret 2015.
Ratusan Perempuan dengan kerudung orange dan jilbab hitan dengan mengibarkan panji islam, Ar royah Al Liwah turun ke jalan dalam aksi simpatik dan kampanye women and syariah.
Para perempuan yang menginginkan dan merindukan syariah islam sebagai aturan islam serta menepis feminisme yang diusung oleh barat.
Ibu Luslenika sebagai MC membuka aksi dengan menyerukan yel yel serta lagu kepada peserta aksi dan kampanye:
·         Perempuan Sholeha “Taat SYARIAH”
·         Perempuan Mulia “ Dalam KHILAFAH”
Orator 1 ( Ibu Fitri) “Kiprah Perempuan di Publik”
Mengungkapkan tentang fakta menyedihkan yang menimpa perempuan di dunia. Semuanya itu karena kapitalisme dan sekulerisme.

Orator 2 (Ibu drg. Wardah Samanhudi) “ Strategi feminis hancurkan perempuan”
Menjelaskan feminisme tidak menyelesaikan masalah perempuan. Malah menimbulkan masalah baru yaitu melawan fitrah ibu sebagai pencetak generasi juga adanya tuduhan negatif terhadap syariah islam.
Orator 3 ( Ibu Feliyanah, S.Pd) “Posis Perempuan dalam Islam”
Mengungkapkan posisi wanita dalam islam begitu sangat dimuliakan. Peran strategis domestik ibu adalah sebagai pendidik pertama dan utama bagi generasi, dan saat kapitalisme diterapkan sangat sulit mengoptimalkan fngsi keibuan.

Orator 4 ( Ibu Mesi Ramdayani) “ Keunggulan Nidzam Ijtimai’ Islam”
Menjelaskan  islam sangat menjaga kemuliaan dan kehormatan perempuan dengan sejumlah hukum seperti pakaian dan tata pergaulan. Berbeda dengan kapitalisme yang merendahkan perempuan serta menjadikannya sebagai objek eksploitasi untuk mencari materi sebanyak-banyaknya.

Orator 5 ( Ibu drg. Eka Dewi) “Khilafah Mewujudkan Perempuan Mulia Bahagia dan Sejahtera”
Memaparkan Khilafah adalah penjaga kemuliaan dan kehormatan kaum perempuan. Banyak kisah para wanita tangguh di bidang keilmuan, kedokteran dll yang lahir pada masa khilafah. Perempuan menjadi pembangun peradaban yang kuat dan terdepan.

Orator 6 ( Ibu Indah Kartika Sari, SP)” Kiprah MHTI yang konsisten dalam Mengemban Ide-Ide yang Memelihara Kemuliaan Perempuan”
Menjelaskan menggugah kesadaran para perempuan untuk berjuang menegakkan khilafah bersama Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia karena keyakinan bahwa khilafah adalah janji Allah.

Pembacaan Press Releass “Surat Terbuka bagi Perempuan Indonesia” oleh Ibu Indah Kartikasari, SP (Ketua DPD I Muslimah HTI Bengkulu


Pada malam harinya MHTI Bengkulu diundang secara khusus oleh Rakyat Bengkulu TV untuk mengisi siaran live HALO BENGKULU dengan tema seputar Kampanye Global Women And Shariah.

Jumat, 20 Maret 2015

Mewujudkan Perempuan Unggul, Pembangun Peradaban Yang Kuat dan Terdepan



Perbincangan seputar perempuan memang menarik. Apalagi dikaitkan dengan sosoknya sebagai tiang negara. Ditambah dengan populasinya yang terbesar di dunia.  Namun sayang, potensi jumlah yang besar tidak selalu menunjukkan  kekuatannya. Lebih dari satu abad yang lalu, setelah hari perempuan internasional 1911, perempuan dunia menjalani kehidupan yang menyedihkan. Secara global, 1 dari 3 wanita akan dipukuli atau diperkosa selama hidup mereka.  Diantara 70 % dari 1,2 milyar orang yang hidup dalam kemiskinan adalah perempuan dan anak-anak.  Sebanyak 700 juta perempuan hidup tanpa kecukupan makanan, air, sanitasi, kesehatan atau pendidikan. Sebanyak 85 juta anak perempuan di seluruh dunia tidak dapat bersekolah dan diperkirakan 1,2 juta anak diperdagangkan sebagai budak setiap tahun, 80 % nya adalah perempuan. Khusus di Indonesia, perempuan masih banyak menghadapi problematika yang kompleks. Krisis ekonomi dan kemiskinan yang berkepanjangan membuat perempuan terpaksa menggantikan  peran  laki-laki sebagai pencari nafkah keluarga.  Banyak perempuan menjadi tenaga kerja/buruh migran dengan kemampuan dan skill yang minim.  Ini memicu masalah lain yaitu kekerasan dari majikan bahkan tak jarang harus meregang nyawa di negeri orang.  Belum lagi problem sosial, banyaknya perempuan menjadi pekerja seks komersil (PSK) yang lagi-lagi dipicu alasan ekonomi. Itulah mengapa penderita HIV AIDS dan kasus aborsi di Indonesia semakin membengkak.  Yang memprihatinkan, di Indonesia angka kematian ibu dan anak tergolong tinggi. Ini menunjukkan perempuan dan anak-anak kurang mendapatkan akses kesehatan.   Belum lagi kekerasan perempuan dalam rumah tangga menjadi berita acara harian LSM perempuan. Fenomena menarik yang patut dicermati adalah keterlibatan perempuan dalam kasus-kasus korupsi, narkoba  dan tindak kriminal lainnya.  Nyatalah bahwa kehidupan perempuan begitu memprihatinkan di bawah peradaban kapitalisme sekuler.

Permasalahan rumit yang dihadapi perempuan mendorong para aktivis perempuan untuk mengangkat issu kesetaraan perempuan. Namun di tengah gencarnya semangat perempuan Indonesia untuk  memberdayakan dirinya agar sejajar dengan peran laki-laki, tanpa sadar sedikit demi sedikit mereka hampir kehilangan jati dirinya. Mainstream kesetaraan gender menyebabkan peran perempuan di sektor publik terlihat semakin dominan. Perempuan  menghadapi dilema antara peran domestik dan peran publiknya, mana yang harus dipilih.

Muncul kekhawatiran akan bergesernya peran keibuan  juga tanggung jawab perempuan terhadap pendidikan generasi dan keluarga.  Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.  Kenyataan berbicara ketika perempuan memilih untuk eksis di sektor publik, ada hal-hal yang sering memicu konflik suami istri. Tak jarang konflik ini berujung pada perceraian.  Kecenderungan meningkatnya tingkat kenakalan remaja (narkoba, miras, pergaulan bebas, tawuran) disinyalir akibat efek broken home. Lalu bagaimana mungkin perempuan bisa dikatakan sebagai tiang negara kalau kiprahnya justru menyebabkan robohnya ketahanan keluarga dan hancurnya generasi ???

Ironisnya, semangat memperjuangkan kesetaraan perempuan telah membuat para aktivis perempuan  berani merekonstruksi fiqih perempuan. Mereka menilai banyak hukum-hukum Islam yang memarjinalisasi dan menghambat kemajuan perempuan. Dalam anggapan mereka, hukum-hukum seputar kepemimpinan laki-laki, waris, pernikahan dan lain-lain yang dinilai misoginia atau bias gender wajib ditafsirkan ulang.  Apalagi ada dukungan global UNWomen (lembaga gender PBB) terhadap aktivis perempuan untuk menggiring kaum perempuan meningkatkan keterwakilannya di pemerintahan bahkan mendorong perempuan menjadi pemimpin pemerintahan tertinggi.  Namun apakah hal tersebut dapat meningkatkan kualitas dan posisi perempuan  sekaligus dapat menyelesaikan problem-problemnya ???

Bercermin dari kasus Pakistan, kehadiran Benazir Bhutto sebagai perdana menteri ataupun Hina Rabbani Khar  sebagai Menlu Pakistan  tak lantas menyelesaikan problem perempuan.  Kebodohan, kemiskinan, pembunuhan dan kekerasan tetap melanda perempuan di Pakistan.  Menurut sebuah lembaga HAM Ansar Burney Trust, 70 persen perempuan Pakistan mengalami kekerasan dalam rumah tangga mulai dari pemukulan, penyiraman air keras sampai pembakaran hidup-hidup.  Sementara itu Bangladesh yang berturut-turut dipimpin presiden perempuan telah dinyatakan Tranparency International sebagai negara paling korup. 

Realitas membuktikan bahwa mewujudkan perempuan unggulan tak cukup hanya sekedar mendudukkan mereka di tampuk tinggi pemerintahan atau memperbesar kuota mereka di parlemen. Selama sistem yang diadopsi adalah demokrasi, mimpi-mimpi perempuan untuk menjadi manusia unggul belum akan terwujud.  Sebab demokrasi merupakan anak kandung kapitalisme yang hanya akan mengunggulkan para pemilik modal (kapital).  Sementara rakyat baik laki-laki dan perempuan akan terpinggirkan. 

Penulis merasa terinspirasi dengan kampanye global  yang diselenggarakan oleh Central Media Office Womens of Hizb et Tahrir sepanjang bulan Maret ini. Tema yang diusung kampanye ini adalah “Women and Shariah : Separating Fact and Fiction”. Puncak acara dari kampanye global ini adalah akan diselenggarakannya Konferensi Perempuan Internasional  di 5 negara  secara pararel pada tanggal 26 Maret 2015. Pesertanya adalah para perempuan yang berasal dari berbagai latar belakang, etnis, ras dan profesi untuk membincangkan masalah yang sama yaitu problem perempuan dan solusi komprehensif yang sama yakni Khilafah. 

Setelah mengikuti kampanye ini, penulis berkesimpulan bahwa cita-cita perempuan menjadi manusia unggul dan bermartabat hanya bisa diraih dengan sistem dan tatanan dunia baru yaitu sistem Khilafah.  Format pemerintahan sejati yang berasal dari Sang Robbul Izzati telah membuktikan selama berabad-abad mampu mewujudkan perempuan sejati, perempuan pembangun peradaban dunia yang kuat dan terdepan.

Rabu, 18 Februari 2015

MENGANGKAT EKSISTENSI PEREMPUAN LEWAT KONTES KECANTIKAN, PERLUKAH ?


OPINI



Oleh : Indah Kartika Sari

 (Ketua Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD I Bengkulu)


            Perbincangan tentang perempuan kembali menjadi topik hangat.  Apa lagi kalau bukan rencana akan digelarnya perhelatan kecantikan  perempuan yaitu ajang  Putri Indonesia 2015 pada hari Jumat (20 Februari 2015).  Sebelumnya sudah diselenggarakan event serupa yaitu Miss Indonesia 2015. Walau sudah  jelas, event ini mempertontonkan  kecantikan perempuan,  pihak penyelenggara mengklaim bahwa event  ini akan mengangkat potensi perempuan  secara utuh. Dalam arti perempuan yang ikut terlibat adalah mereka-mereka yang terpilih tidak hanya secara fisik cantik namun juga menonjol dari sisi  intelektual. Mereka diuji kepekaan sosialnya, diasah pemikiran  intelektualnya dan digali potensi keterampilannya.  Kontes ini memberikan kesan bahwa peserta tidak dilihat hanya sebagai objek tetapi merupakan bagian dari perempuan-perempuan cerdas dan kreatif yang mengedepankan personality yang utuh.  

            Tak dapat dipungkiri bahwa  eksistensi perempuan di ruang publik kembali dipertanyakan. Di satu sisi, perempuan merupakan asset berharga negara sebab di tangannya tiang negara ditegakkan.  Namun di sisi lain, kontes kecantikan yang kontroversial ini dijadikan alasan bagi sebagian orang untuk mengangkat eksistensi perempuan, benarkah demikian ??..

            Keinginan tampil cantik adalah hak fitrah seorang perempuan.  Sebab dengan cantik, perempuan akan dihargai (baca:dilirik) dan mendapat pujian dari khalayak ramai. Ada kecenderungan yang berkembang di masyarakat, tidak apa-apa IQ rendah yang penting cantik dan menarik. Singkatnya, kecantikan adalah jaminan mutu perempuan untuk bisa eksis di ruang publik demi ketenaran sekaligus bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah sebanyak mungkin. Untuk tampil cantik, banyak jurus jitu yang dilakukan perempuan. Permak wajah mulai dari yang tradisional hingga modern, dari yang alami sampai kimiawi.  Penampilan wajah yang cantik juga harus diimbangi dengan tubuh ideal. Demi mencapai tubuh  bak peragawati, sampai-sampai perempuan rela mengorbankan  kesehatannya dengan alasan diet ketat.

            Seakan  tak cukup sampai di sini, perempuan dan segala keindahan tubuhnya menjadi objek penilaian dari sekian banyak kontes kecantikan.  Jargon “Brain, Beauty, Behaviour” menjadi sekedar slogan sebab yang paling penting dari setiap kontes kecantikan hanyalah “Beauty, Beauty, Beauty”. Untuk perhelatan yang dilakukan dalam waktu singkat, tidak mungkin para juri menilai secara utuh kecerdasan dan kepribadian peserta. Tentu yang paling cepat untuk dinilai  adalah faktor fisik dan kecantikan. Diakui atau  tidak, berbagai ajang kecantikan sekalipun dengan bungkus Islami, pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu mencari perempuan tercantik dan stylist untuk kepentingan  bisnis besar perusahaan fashion, kosmetik dan entertainment.  Jadi tidak salah jika dikatakan bahwa berbagai macam kontes kecantikan itu sesungguhnya hanyalah ajang eksploitasi fisik/tubuh  perempuan bukan ajang eksistensi perempuan.  Sebab perempuan yang dieksploitasi tidak diperlakukan sebagai subjek tapi sebagai objek penilaian. Inilah yang menjadi dasar penolakan berbagai ajang kontes kecantikan  dari jamak ormas Islam di Indonesia.  Lebih dari  itu, berbagai kontes kecantikan merupakan pintu  masuk ekspansi budaya liberalisme.  Betapa tidak, perilaku hedonis dan gaya hidup serba bebas peserta kontes kecantikan  akan menjadi  minded  sekaligus  ancaman bagi kehancuran generasi.

            Hakekatnya eksistensi perempuan tidak dilihat dari kadar kecantikannya, tidak juga dilihat dari seberapa besar perempuan berkontribusi dalam menyumbang pundi-pundi rupiah dari eksplotasi keperempuanannya. Jaminan Allah dan RosulNya jelas yaitu perempuan akan eksis  dalam kancah kehidupan dalam kapasitasnya sebagai hamba yang bertaqwa dihadapan  Allah SWT.  Kecantikan hanyalah  sarana pemberian Allah yang seharusnya disyukuri.  Syukur bukan berarti bebas berhias dan mempertontonkan kecantikan itu kepada sembarang orang apalagi laki-laki non mahrom.  Syukur bukan  pula berarti menjadikan kecantikan sebagai sarana eksis di ruang publik tanpa batas demi keuntungan material dan popularitas.  Syukur adalah  jika perempuan  sadar diri bahwa kecantikan hakiki adalah  kecantikan dari dalam (inner beauty) yang  muncul dari hasil kepribadian taqwa kepada Allah Ta’ala.  Inner beauty tak perlu diraih lewat berbagai kontes kecantikan ataupun sekolah-sekolah  kepribadian.  Kepribadian taqwa yang melahirkan inner beauty hanya dapat diraih dengan mengasah  kecerdasan akal melalui transfer berbagai pemikiran yang dibangun dari aqidah Islam serta membina kepekaan qolbu dengan mengikatkan seluruh aktivitas dengan  syariat Allah.  Dengan akal yang cerdas, perempuan dapat eksis sebagai manusia unggulan yang mampu mensikapi persoalan kehidupan dengan sudut  pandang Islam.  Dengan hati yang tertata suci dalam kesholihan, perempuan dapat eksis sebagai hamba Allah dalam kapasitasnya sebagai anak bagi orangtuanya, istri bagi suaminya juga ibu bagi anak-anaknya.  Tak lupa dengan pengakuan syariat terhadap peran publiknya, perempuan dapat eksis sebagai mitra laki-laki bersama-sama berjuang mengembalikan kemuliaan Islam.

            Kemana lagi perempuan hendak bercermin kecuali dengan empat  tokoh  perempuan sejagat yang eksistensi dan perannyanya diakui Allah dan RosulNya. Dialah Khodijah istri Rosulullah, perempuan  cantik  dan kaya raya yang  rela  berkorban  harta. Dialah Asiah istri Fir’aun, perempuan  bangsawan dan rupawan yang rela berkorban nyawa.  Dialah Maryam, perempuan anggun  dan  tangguh  yang  ikhlas dengan  takdir  Tuhannya.  Dialah Fathimah,  perempuan cerdas yang menjadi   pendidik  generasi dan  manajer di  rumah tangganya.  Sosok-sosok perempuan langka itu hanya akan mungkin ada pada perempuan-perempuan  akhir  zaman yang hidup dalam  naungan system Islam dalam  bingkai daulah khilafah.






















WUJUDKAN GENERASI BERENCANA (GENRE) YANG SMART DAN BERTAQWA


OPINI
 Oleh
Indah Kartika Sari, SP
Ketua Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia
DPD I  Bengkulu
Dalam minggu-minggu terakhir ini, ranah publik diramaikan oleh peredaran buku yang berjudul “Saatnya Aku Belajar Pacaran”.  Penulisnya adalah Toge Aprilianto. Ironisnya penulis adalah konsultan pendidikan. Buku ini menuai kecaman dari masyarakat. Pasalnya buku ini menyerukan remaja untuk berhubungan seks dengan pacarnya. Seruan dalam buku ini menambah daftar panjang seruan-seruan di negri ini ke arah membolehkan pergaulan bebas/free seks.  Ada yang terang-terangan seperti buku ini. Ada  juga yang samar seperti program pekan kondom.  Beberapa tahun sebelumnya juga diterbitkan buku yang mengandung pesan kampanye dan pembenaran gaya hidup lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).  Setiap bulan Februari, di kota-kota besar ramai  penjualan coklat yang berhadiah sekotak kondom di mall-mall dan supermarket.  Seruan -seruan ke arah pacaran bahkan pernah menyusup ke buku pelajaran sekolah  meski dengan tema pacaran sehat.  Seruan-seruan yang sama juga bertebaran di berbagai  sinetron remaja juga bertebaran di berbagai media  melalui internet dsb.

Seruan- seruan ke raha pergaulan bebas (free seks) ini memicu kenakalan remaja  yang pada akhirnya menambah  tingginya angka penderita HIV/AIDS.  Di Propinsi Bengkulu angka penderita HIV/AIDS sudah melebihi angka 500 orang.  Ditengarai, 60 % penyebab tingginya penderita HIV/AIDS di Bengkulu karena pergaulan bebas dan penggunaan narkoba di kalangan generasi muda.

Kenakalan remaja yang semakin merebak ini menunjukkan adanya ketidakberesan  pada mental generasi muda bangsa ini juga kesalahan pada sistem pendidikan kita. Akibat ketidakberesan mental dan bobroknya sistem pendidikan, bisa jadi para pelajar menganggap sekolah bukan lagi sebagai tempat belajar dan menuntut ilmu untuk meraih masa depan yang lebih  baik.  Dalam benak mereka, sekolah hanya sekedar tempat berkumpul dengan teman-temannya atau hanya sebatas tempat menghilangkan kepenatan di rumah. Tidak ada lagi sopan santun dan hormat kepada guru apalagi takut dengan peraturan sekolah.  Buktinya beberapa kasus kenakalan remaja justru terjadi di saat mereka masih mengenakan seragam sekolah. Melihat fenomena di atas, seberapa efektifkah  peran pendidikan  di sekolah dalam membentuk kepribadian anak didik ?

Sekolah sebagai institusi pendidikan seharusnya mampu menghasilkan anak didik yang berkepribadian baik sesuai Islam. Namun kenyataannya sistem pendidikan sekuler kapitalistik telah menyita sebagian besar waktu pelajar untuk lebih fokus pada target mengejar kurikulum dan penguasaan saintek.  Pada saat yang sama para pelajar secara sistematik telah mengabaikan pembentukan kepribadiannya. Apalagi pendidikan agama  di sekolah umum sangat minim hanya 2 jam pelajaran perminggu. Hasilnya, walaupun mereka bersekolah dan berprestasi akademik, tapi jiwa mereka kosong dari nilai-nilai spiritual.  Mental mereka lemah, gampang emosi, mudah depresi, cuek dengan lingkungan dan kehilangan rasa malu.  Peristiwa kesurupan massal yang banyak terjadi di sekolah-sekolah membuktikan kosongnya jiwa mereka dari nilai-nilai Ilahiyah.

Fakta deretan kasus kenakalan remaja mulai dari tawuran, narkoba, miras, geng motor hingga pergaulan bebas merupakan alasan kuat bahwa sekolah merupakan pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kerusakan moral pelajar.  Dan kuat alasan pula bahwa sistem pendidikan saat ini telah gagal mewujudkan kesholihan pada anak didik.

Lalu tidakkah ada upaya pihak sekolah untuk memperbaiki semua ini ?  Sebab dengan semua kondisi ini sudah terbayang bagaimana nasib bangsa ini di kemudian hari.  Kehilangan generasi yang diharapkan sebagai pemimpin umat dan bangsa di masa depan.

Pihak sekolah yang menyadari minimnya pendidikan agama, mencari solusi melalui diselenggarakannya ekstrakulikuler kerohanian Islam (ROHIS).  Lembaga ROHIS ini diharapkan sekolah sebagai alternatif  terbaik bagi pelajar untuk mengenal ajaran Islam secara lengkap.  Pengenalan aqidah, ibadah, akhlak, pakaian dan muamalah termasuk pergaulan ditanamkan lewat program mentoring/pengajian.  Hasilnya cukup menggembirakan.  Para pelajar yang menjadi aktivis ROHIS umumnya adalah pelajar yang menyejukkan mata karena kesholihannya.  Namun ROHIS terlanjur dianggap tidak mewakili dunia remaja karena hanya membicarakan agama saja dan banyak peraturan yang dianggap mengekang. Akhirnya tidak banyak pelajar yang memilih ROHIS sebagai ekstrakurikuler pilihan.  Mereka lebih tertarik kepada ekskul yang dianggap mewakili dunia remaja seperti seni dan olahraga.  Ditambah lagi saat ini, media massa kerap kali memberitakan pencitraan negatif terhadap ROHIS karena dianggap sebagai basis kaderisasi calon teroris. Sebuah upaya yang mengada-ada untuk menjatuhkan citra ROHIS. Alhasil banyak orang tua yang lebih khawatir anaknya aktif di ROHIS daripada aktif di ekskul selain ROHIS.  Walaupun mereka sebenarnya tahu bahwa ROHIS tidak mungkin mengajarkan kekerasan  dan melakukan kegiatan-kegiatan negatif.  Namun itulah opini media yang mampu membalik kenyataan sesungguhnya.

Di tengah-tengah ketidakmampuan sistem pendidikan dan sekolah dalam melahirkan generasi berkualitas, slogan GENRE (Generasi Berencana) yang gencar dikampanyekan ibarat secercah harapan.  GENRE tentunya adalah  sosok generasi dengan identitas yang khas, generasi bervisi masa depan, generasi calon pemimpin yang peduli dengan permasalahan umat dan bangsa ini.  GENRE bukanlah generasi yang mementingkan diri sendiri dengan menenggelamkan dirinya pada kehidupan hedonis kapitalistik.  GENRE mutlak diperlukan di tengah carut marut situasi negeri ini.

Membentuk generasi calon pemimpin dan bervisi masa depan bukan pekerjaan mudah. Namun bukan pula hal yang tidak bisa direalisasikan. Untuk mewujudkan generasi berkualitas pada dasarnya ditempuh lewat pendidikan dan pembinaan sepanjang hayat mulai dalam  kandungan hingga liang kubur.  Dasar-dasar pembinaan aqidah, akhlaq dan keteladanan diperoleh seorang anak pertama kali dari lingkungan keluarga khususnya ibu sebagai pendidik pertama dan utama.  Ketika anak menjelang dewasa, anak bersekolah dan berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu penting sekali memperhatikan sistem tempat dimana anak bersekolah dan  berinteraksi dengan  lingkungan.  Jika sistem yang melingkupi sekolah dan lingkungan anak buruk, sudah tentu akan berpengaruh pada  proses pembinaan anak.  Negara memiliki peran penting dalam menciptakan sistem yang kondusif bagi pembinaan dan pendidikan anak.   Negaralah yang mengatur kurikulum yang menjamin kualitas anak didik yang mumpuni dari sisi kepribadian dan penguasaan saintek.  Negara pulalah yang akan mereserve sekaligus menindak secara tegas  hal-hal yang bisa merusak generasi terutama pengaruh buruk media.  Semua itu hanya bisa diraih jika semua sistem kehidupan khususnya pendidikan dijalankan sepenuhnya oleh Sistem Khilafah. Hanya sistem inilah yang mampu melahirkan generasi bervisi/berencana yang smart sekaligus bertaqwa.



Pemuda Islam : Think About Palestine Not Valentine

Oleh Najmah Jauhariyyah (Pegiat Sosial Media Bengkulu) Manusia adalah makhluk yang mampu berfikir.  Dengan berfikir manusia menjadi makhlu...