OPINI
Oleh
Indah Kartika Sari, SP
Ketua Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia
DPD I
Bengkulu
Dalam minggu-minggu terakhir ini,
ranah publik diramaikan oleh peredaran buku yang berjudul “Saatnya Aku Belajar Pacaran”. Penulisnya adalah Toge Aprilianto. Ironisnya
penulis adalah konsultan pendidikan. Buku ini menuai kecaman dari masyarakat.
Pasalnya buku ini menyerukan remaja untuk berhubungan seks dengan pacarnya.
Seruan dalam buku ini menambah daftar panjang seruan-seruan di negri ini ke
arah membolehkan pergaulan bebas/free seks.
Ada yang terang-terangan seperti buku ini. Ada juga yang samar seperti program pekan
kondom. Beberapa tahun sebelumnya juga
diterbitkan buku yang mengandung pesan kampanye dan pembenaran gaya hidup
lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).
Setiap bulan Februari, di kota-kota besar ramai penjualan coklat yang berhadiah sekotak kondom
di mall-mall dan supermarket. Seruan
-seruan ke arah pacaran bahkan pernah menyusup ke buku pelajaran sekolah meski dengan tema pacaran sehat. Seruan-seruan yang sama juga bertebaran di
berbagai sinetron remaja juga bertebaran
di berbagai media melalui internet dsb.
Seruan- seruan
ke raha pergaulan bebas (free seks) ini memicu kenakalan remaja yang pada akhirnya menambah tingginya angka penderita HIV/AIDS. Di Propinsi Bengkulu angka penderita HIV/AIDS
sudah melebihi angka 500 orang. Ditengarai, 60 % penyebab tingginya penderita
HIV/AIDS di Bengkulu karena pergaulan bebas dan penggunaan narkoba di kalangan
generasi muda.
Kenakalan remaja yang semakin
merebak ini menunjukkan adanya ketidakberesan
pada mental generasi muda bangsa ini juga kesalahan
pada sistem pendidikan kita. Akibat
ketidakberesan mental dan bobroknya sistem pendidikan, bisa
jadi para pelajar menganggap sekolah bukan lagi sebagai tempat belajar dan
menuntut ilmu untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Dalam benak mereka, sekolah hanya sekedar tempat berkumpul dengan
teman-temannya atau hanya sebatas tempat menghilangkan kepenatan di rumah.
Tidak ada lagi sopan santun dan hormat kepada guru apalagi takut dengan
peraturan sekolah. Buktinya beberapa
kasus kenakalan remaja justru terjadi di saat mereka masih mengenakan seragam
sekolah. Melihat fenomena di atas, seberapa efektifkah peran pendidikan di sekolah dalam membentuk kepribadian anak didik
?
Sekolah sebagai institusi
pendidikan seharusnya mampu menghasilkan anak didik yang berkepribadian baik
sesuai Islam. Namun kenyataannya sistem pendidikan sekuler kapitalistik telah
menyita sebagian besar waktu pelajar untuk lebih fokus pada target mengejar
kurikulum dan penguasaan saintek. Pada
saat yang sama para pelajar secara sistematik telah mengabaikan pembentukan
kepribadiannya. Apalagi pendidikan agama
di sekolah umum sangat minim hanya 2 jam pelajaran perminggu. Hasilnya,
walaupun mereka bersekolah dan berprestasi akademik, tapi jiwa mereka kosong
dari nilai-nilai spiritual. Mental mereka
lemah, gampang emosi, mudah depresi, cuek dengan lingkungan dan kehilangan rasa
malu. Peristiwa kesurupan massal yang
banyak terjadi di sekolah-sekolah membuktikan kosongnya jiwa mereka dari
nilai-nilai Ilahiyah.
Fakta deretan kasus kenakalan
remaja mulai dari tawuran, narkoba, miras, geng motor hingga pergaulan bebas
merupakan alasan kuat bahwa sekolah merupakan pihak yang paling bertanggung
jawab terhadap kerusakan moral pelajar.
Dan kuat alasan pula bahwa sistem pendidikan saat ini telah gagal
mewujudkan kesholihan pada anak didik.
Lalu tidakkah ada upaya pihak
sekolah untuk memperbaiki semua ini ?
Sebab dengan semua kondisi ini sudah terbayang bagaimana nasib bangsa
ini di kemudian hari. Kehilangan
generasi yang diharapkan sebagai pemimpin umat dan bangsa di masa depan.
Pihak sekolah yang menyadari minimnya
pendidikan agama, mencari solusi melalui diselenggarakannya ekstrakulikuler
kerohanian Islam (ROHIS). Lembaga ROHIS
ini diharapkan sekolah sebagai alternatif
terbaik bagi pelajar untuk mengenal ajaran Islam secara lengkap. Pengenalan aqidah, ibadah, akhlak, pakaian
dan muamalah termasuk pergaulan ditanamkan lewat program mentoring/pengajian. Hasilnya cukup menggembirakan. Para pelajar yang menjadi aktivis ROHIS
umumnya adalah pelajar yang menyejukkan mata karena kesholihannya. Namun ROHIS terlanjur dianggap tidak mewakili
dunia remaja karena hanya membicarakan agama saja dan banyak peraturan yang
dianggap mengekang. Akhirnya tidak banyak pelajar yang memilih ROHIS sebagai
ekstrakurikuler pilihan. Mereka lebih tertarik kepada ekskul yang
dianggap mewakili dunia remaja seperti seni dan olahraga. Ditambah lagi saat ini, media massa kerap
kali memberitakan pencitraan negatif terhadap ROHIS karena dianggap sebagai
basis kaderisasi calon teroris. Sebuah upaya yang mengada-ada untuk menjatuhkan
citra ROHIS. Alhasil banyak orang tua yang lebih khawatir anaknya aktif di
ROHIS daripada aktif di ekskul selain ROHIS.
Walaupun mereka sebenarnya tahu bahwa ROHIS tidak mungkin mengajarkan
kekerasan dan melakukan
kegiatan-kegiatan negatif. Namun itulah
opini media yang mampu membalik kenyataan sesungguhnya.
Di tengah-tengah ketidakmampuan sistem
pendidikan dan sekolah dalam melahirkan generasi berkualitas, slogan GENRE
(Generasi Berencana) yang gencar dikampanyekan ibarat secercah harapan. GENRE tentunya adalah sosok generasi dengan identitas yang khas,
generasi bervisi masa depan, generasi calon pemimpin yang peduli dengan
permasalahan umat dan bangsa ini. GENRE
bukanlah generasi yang mementingkan diri sendiri dengan menenggelamkan dirinya
pada kehidupan hedonis kapitalistik.
GENRE mutlak diperlukan di tengah carut marut situasi negeri ini.
Membentuk generasi calon pemimpin
dan bervisi masa depan bukan pekerjaan mudah. Namun bukan pula hal yang tidak
bisa direalisasikan. Untuk mewujudkan generasi berkualitas pada dasarnya
ditempuh lewat pendidikan dan pembinaan sepanjang hayat mulai dalam kandungan hingga liang kubur. Dasar-dasar pembinaan aqidah, akhlaq dan
keteladanan diperoleh seorang anak pertama kali dari lingkungan keluarga
khususnya ibu sebagai pendidik pertama dan utama. Ketika anak menjelang dewasa, anak bersekolah
dan berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu penting sekali
memperhatikan sistem tempat dimana anak bersekolah dan berinteraksi dengan lingkungan.
Jika sistem yang melingkupi sekolah dan lingkungan anak buruk, sudah
tentu akan berpengaruh pada proses
pembinaan anak. Negara memiliki peran
penting dalam menciptakan sistem yang kondusif bagi pembinaan dan pendidikan
anak. Negaralah yang mengatur kurikulum
yang menjamin kualitas anak didik yang mumpuni dari sisi kepribadian dan
penguasaan saintek. Negara pulalah yang
akan mereserve sekaligus menindak secara tegas
hal-hal yang bisa merusak generasi terutama pengaruh buruk media. Semua itu hanya bisa diraih jika semua sistem
kehidupan khususnya pendidikan dijalankan sepenuhnya oleh Sistem Khilafah.
Hanya sistem inilah yang mampu melahirkan generasi bervisi/berencana yang smart sekaligus bertaqwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar