Rabu, 18 Februari 2015

WUJUDKAN GENERASI BERENCANA (GENRE) YANG SMART DAN BERTAQWA


OPINI
 Oleh
Indah Kartika Sari, SP
Ketua Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia
DPD I  Bengkulu
Dalam minggu-minggu terakhir ini, ranah publik diramaikan oleh peredaran buku yang berjudul “Saatnya Aku Belajar Pacaran”.  Penulisnya adalah Toge Aprilianto. Ironisnya penulis adalah konsultan pendidikan. Buku ini menuai kecaman dari masyarakat. Pasalnya buku ini menyerukan remaja untuk berhubungan seks dengan pacarnya. Seruan dalam buku ini menambah daftar panjang seruan-seruan di negri ini ke arah membolehkan pergaulan bebas/free seks.  Ada yang terang-terangan seperti buku ini. Ada  juga yang samar seperti program pekan kondom.  Beberapa tahun sebelumnya juga diterbitkan buku yang mengandung pesan kampanye dan pembenaran gaya hidup lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).  Setiap bulan Februari, di kota-kota besar ramai  penjualan coklat yang berhadiah sekotak kondom di mall-mall dan supermarket.  Seruan -seruan ke arah pacaran bahkan pernah menyusup ke buku pelajaran sekolah  meski dengan tema pacaran sehat.  Seruan-seruan yang sama juga bertebaran di berbagai  sinetron remaja juga bertebaran di berbagai media  melalui internet dsb.

Seruan- seruan ke raha pergaulan bebas (free seks) ini memicu kenakalan remaja  yang pada akhirnya menambah  tingginya angka penderita HIV/AIDS.  Di Propinsi Bengkulu angka penderita HIV/AIDS sudah melebihi angka 500 orang.  Ditengarai, 60 % penyebab tingginya penderita HIV/AIDS di Bengkulu karena pergaulan bebas dan penggunaan narkoba di kalangan generasi muda.

Kenakalan remaja yang semakin merebak ini menunjukkan adanya ketidakberesan  pada mental generasi muda bangsa ini juga kesalahan pada sistem pendidikan kita. Akibat ketidakberesan mental dan bobroknya sistem pendidikan, bisa jadi para pelajar menganggap sekolah bukan lagi sebagai tempat belajar dan menuntut ilmu untuk meraih masa depan yang lebih  baik.  Dalam benak mereka, sekolah hanya sekedar tempat berkumpul dengan teman-temannya atau hanya sebatas tempat menghilangkan kepenatan di rumah. Tidak ada lagi sopan santun dan hormat kepada guru apalagi takut dengan peraturan sekolah.  Buktinya beberapa kasus kenakalan remaja justru terjadi di saat mereka masih mengenakan seragam sekolah. Melihat fenomena di atas, seberapa efektifkah  peran pendidikan  di sekolah dalam membentuk kepribadian anak didik ?

Sekolah sebagai institusi pendidikan seharusnya mampu menghasilkan anak didik yang berkepribadian baik sesuai Islam. Namun kenyataannya sistem pendidikan sekuler kapitalistik telah menyita sebagian besar waktu pelajar untuk lebih fokus pada target mengejar kurikulum dan penguasaan saintek.  Pada saat yang sama para pelajar secara sistematik telah mengabaikan pembentukan kepribadiannya. Apalagi pendidikan agama  di sekolah umum sangat minim hanya 2 jam pelajaran perminggu. Hasilnya, walaupun mereka bersekolah dan berprestasi akademik, tapi jiwa mereka kosong dari nilai-nilai spiritual.  Mental mereka lemah, gampang emosi, mudah depresi, cuek dengan lingkungan dan kehilangan rasa malu.  Peristiwa kesurupan massal yang banyak terjadi di sekolah-sekolah membuktikan kosongnya jiwa mereka dari nilai-nilai Ilahiyah.

Fakta deretan kasus kenakalan remaja mulai dari tawuran, narkoba, miras, geng motor hingga pergaulan bebas merupakan alasan kuat bahwa sekolah merupakan pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kerusakan moral pelajar.  Dan kuat alasan pula bahwa sistem pendidikan saat ini telah gagal mewujudkan kesholihan pada anak didik.

Lalu tidakkah ada upaya pihak sekolah untuk memperbaiki semua ini ?  Sebab dengan semua kondisi ini sudah terbayang bagaimana nasib bangsa ini di kemudian hari.  Kehilangan generasi yang diharapkan sebagai pemimpin umat dan bangsa di masa depan.

Pihak sekolah yang menyadari minimnya pendidikan agama, mencari solusi melalui diselenggarakannya ekstrakulikuler kerohanian Islam (ROHIS).  Lembaga ROHIS ini diharapkan sekolah sebagai alternatif  terbaik bagi pelajar untuk mengenal ajaran Islam secara lengkap.  Pengenalan aqidah, ibadah, akhlak, pakaian dan muamalah termasuk pergaulan ditanamkan lewat program mentoring/pengajian.  Hasilnya cukup menggembirakan.  Para pelajar yang menjadi aktivis ROHIS umumnya adalah pelajar yang menyejukkan mata karena kesholihannya.  Namun ROHIS terlanjur dianggap tidak mewakili dunia remaja karena hanya membicarakan agama saja dan banyak peraturan yang dianggap mengekang. Akhirnya tidak banyak pelajar yang memilih ROHIS sebagai ekstrakurikuler pilihan.  Mereka lebih tertarik kepada ekskul yang dianggap mewakili dunia remaja seperti seni dan olahraga.  Ditambah lagi saat ini, media massa kerap kali memberitakan pencitraan negatif terhadap ROHIS karena dianggap sebagai basis kaderisasi calon teroris. Sebuah upaya yang mengada-ada untuk menjatuhkan citra ROHIS. Alhasil banyak orang tua yang lebih khawatir anaknya aktif di ROHIS daripada aktif di ekskul selain ROHIS.  Walaupun mereka sebenarnya tahu bahwa ROHIS tidak mungkin mengajarkan kekerasan  dan melakukan kegiatan-kegiatan negatif.  Namun itulah opini media yang mampu membalik kenyataan sesungguhnya.

Di tengah-tengah ketidakmampuan sistem pendidikan dan sekolah dalam melahirkan generasi berkualitas, slogan GENRE (Generasi Berencana) yang gencar dikampanyekan ibarat secercah harapan.  GENRE tentunya adalah  sosok generasi dengan identitas yang khas, generasi bervisi masa depan, generasi calon pemimpin yang peduli dengan permasalahan umat dan bangsa ini.  GENRE bukanlah generasi yang mementingkan diri sendiri dengan menenggelamkan dirinya pada kehidupan hedonis kapitalistik.  GENRE mutlak diperlukan di tengah carut marut situasi negeri ini.

Membentuk generasi calon pemimpin dan bervisi masa depan bukan pekerjaan mudah. Namun bukan pula hal yang tidak bisa direalisasikan. Untuk mewujudkan generasi berkualitas pada dasarnya ditempuh lewat pendidikan dan pembinaan sepanjang hayat mulai dalam  kandungan hingga liang kubur.  Dasar-dasar pembinaan aqidah, akhlaq dan keteladanan diperoleh seorang anak pertama kali dari lingkungan keluarga khususnya ibu sebagai pendidik pertama dan utama.  Ketika anak menjelang dewasa, anak bersekolah dan berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu penting sekali memperhatikan sistem tempat dimana anak bersekolah dan  berinteraksi dengan  lingkungan.  Jika sistem yang melingkupi sekolah dan lingkungan anak buruk, sudah tentu akan berpengaruh pada  proses pembinaan anak.  Negara memiliki peran penting dalam menciptakan sistem yang kondusif bagi pembinaan dan pendidikan anak.   Negaralah yang mengatur kurikulum yang menjamin kualitas anak didik yang mumpuni dari sisi kepribadian dan penguasaan saintek.  Negara pulalah yang akan mereserve sekaligus menindak secara tegas  hal-hal yang bisa merusak generasi terutama pengaruh buruk media.  Semua itu hanya bisa diraih jika semua sistem kehidupan khususnya pendidikan dijalankan sepenuhnya oleh Sistem Khilafah. Hanya sistem inilah yang mampu melahirkan generasi bervisi/berencana yang smart sekaligus bertaqwa.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pemuda Islam : Think About Palestine Not Valentine

Oleh Najmah Jauhariyyah (Pegiat Sosial Media Bengkulu) Manusia adalah makhluk yang mampu berfikir.  Dengan berfikir manusia menjadi makhlu...