Jumat, 20 Maret 2015

Mewujudkan Perempuan Unggul, Pembangun Peradaban Yang Kuat dan Terdepan



Perbincangan seputar perempuan memang menarik. Apalagi dikaitkan dengan sosoknya sebagai tiang negara. Ditambah dengan populasinya yang terbesar di dunia.  Namun sayang, potensi jumlah yang besar tidak selalu menunjukkan  kekuatannya. Lebih dari satu abad yang lalu, setelah hari perempuan internasional 1911, perempuan dunia menjalani kehidupan yang menyedihkan. Secara global, 1 dari 3 wanita akan dipukuli atau diperkosa selama hidup mereka.  Diantara 70 % dari 1,2 milyar orang yang hidup dalam kemiskinan adalah perempuan dan anak-anak.  Sebanyak 700 juta perempuan hidup tanpa kecukupan makanan, air, sanitasi, kesehatan atau pendidikan. Sebanyak 85 juta anak perempuan di seluruh dunia tidak dapat bersekolah dan diperkirakan 1,2 juta anak diperdagangkan sebagai budak setiap tahun, 80 % nya adalah perempuan. Khusus di Indonesia, perempuan masih banyak menghadapi problematika yang kompleks. Krisis ekonomi dan kemiskinan yang berkepanjangan membuat perempuan terpaksa menggantikan  peran  laki-laki sebagai pencari nafkah keluarga.  Banyak perempuan menjadi tenaga kerja/buruh migran dengan kemampuan dan skill yang minim.  Ini memicu masalah lain yaitu kekerasan dari majikan bahkan tak jarang harus meregang nyawa di negeri orang.  Belum lagi problem sosial, banyaknya perempuan menjadi pekerja seks komersil (PSK) yang lagi-lagi dipicu alasan ekonomi. Itulah mengapa penderita HIV AIDS dan kasus aborsi di Indonesia semakin membengkak.  Yang memprihatinkan, di Indonesia angka kematian ibu dan anak tergolong tinggi. Ini menunjukkan perempuan dan anak-anak kurang mendapatkan akses kesehatan.   Belum lagi kekerasan perempuan dalam rumah tangga menjadi berita acara harian LSM perempuan. Fenomena menarik yang patut dicermati adalah keterlibatan perempuan dalam kasus-kasus korupsi, narkoba  dan tindak kriminal lainnya.  Nyatalah bahwa kehidupan perempuan begitu memprihatinkan di bawah peradaban kapitalisme sekuler.

Permasalahan rumit yang dihadapi perempuan mendorong para aktivis perempuan untuk mengangkat issu kesetaraan perempuan. Namun di tengah gencarnya semangat perempuan Indonesia untuk  memberdayakan dirinya agar sejajar dengan peran laki-laki, tanpa sadar sedikit demi sedikit mereka hampir kehilangan jati dirinya. Mainstream kesetaraan gender menyebabkan peran perempuan di sektor publik terlihat semakin dominan. Perempuan  menghadapi dilema antara peran domestik dan peran publiknya, mana yang harus dipilih.

Muncul kekhawatiran akan bergesernya peran keibuan  juga tanggung jawab perempuan terhadap pendidikan generasi dan keluarga.  Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.  Kenyataan berbicara ketika perempuan memilih untuk eksis di sektor publik, ada hal-hal yang sering memicu konflik suami istri. Tak jarang konflik ini berujung pada perceraian.  Kecenderungan meningkatnya tingkat kenakalan remaja (narkoba, miras, pergaulan bebas, tawuran) disinyalir akibat efek broken home. Lalu bagaimana mungkin perempuan bisa dikatakan sebagai tiang negara kalau kiprahnya justru menyebabkan robohnya ketahanan keluarga dan hancurnya generasi ???

Ironisnya, semangat memperjuangkan kesetaraan perempuan telah membuat para aktivis perempuan  berani merekonstruksi fiqih perempuan. Mereka menilai banyak hukum-hukum Islam yang memarjinalisasi dan menghambat kemajuan perempuan. Dalam anggapan mereka, hukum-hukum seputar kepemimpinan laki-laki, waris, pernikahan dan lain-lain yang dinilai misoginia atau bias gender wajib ditafsirkan ulang.  Apalagi ada dukungan global UNWomen (lembaga gender PBB) terhadap aktivis perempuan untuk menggiring kaum perempuan meningkatkan keterwakilannya di pemerintahan bahkan mendorong perempuan menjadi pemimpin pemerintahan tertinggi.  Namun apakah hal tersebut dapat meningkatkan kualitas dan posisi perempuan  sekaligus dapat menyelesaikan problem-problemnya ???

Bercermin dari kasus Pakistan, kehadiran Benazir Bhutto sebagai perdana menteri ataupun Hina Rabbani Khar  sebagai Menlu Pakistan  tak lantas menyelesaikan problem perempuan.  Kebodohan, kemiskinan, pembunuhan dan kekerasan tetap melanda perempuan di Pakistan.  Menurut sebuah lembaga HAM Ansar Burney Trust, 70 persen perempuan Pakistan mengalami kekerasan dalam rumah tangga mulai dari pemukulan, penyiraman air keras sampai pembakaran hidup-hidup.  Sementara itu Bangladesh yang berturut-turut dipimpin presiden perempuan telah dinyatakan Tranparency International sebagai negara paling korup. 

Realitas membuktikan bahwa mewujudkan perempuan unggulan tak cukup hanya sekedar mendudukkan mereka di tampuk tinggi pemerintahan atau memperbesar kuota mereka di parlemen. Selama sistem yang diadopsi adalah demokrasi, mimpi-mimpi perempuan untuk menjadi manusia unggul belum akan terwujud.  Sebab demokrasi merupakan anak kandung kapitalisme yang hanya akan mengunggulkan para pemilik modal (kapital).  Sementara rakyat baik laki-laki dan perempuan akan terpinggirkan. 

Penulis merasa terinspirasi dengan kampanye global  yang diselenggarakan oleh Central Media Office Womens of Hizb et Tahrir sepanjang bulan Maret ini. Tema yang diusung kampanye ini adalah “Women and Shariah : Separating Fact and Fiction”. Puncak acara dari kampanye global ini adalah akan diselenggarakannya Konferensi Perempuan Internasional  di 5 negara  secara pararel pada tanggal 26 Maret 2015. Pesertanya adalah para perempuan yang berasal dari berbagai latar belakang, etnis, ras dan profesi untuk membincangkan masalah yang sama yaitu problem perempuan dan solusi komprehensif yang sama yakni Khilafah. 

Setelah mengikuti kampanye ini, penulis berkesimpulan bahwa cita-cita perempuan menjadi manusia unggul dan bermartabat hanya bisa diraih dengan sistem dan tatanan dunia baru yaitu sistem Khilafah.  Format pemerintahan sejati yang berasal dari Sang Robbul Izzati telah membuktikan selama berabad-abad mampu mewujudkan perempuan sejati, perempuan pembangun peradaban dunia yang kuat dan terdepan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pemuda Islam : Think About Palestine Not Valentine

Oleh Najmah Jauhariyyah (Pegiat Sosial Media Bengkulu) Manusia adalah makhluk yang mampu berfikir.  Dengan berfikir manusia menjadi makhlu...