Jumat, 09 November 2012

REFLEKSI


 Catatan Saat  Musim Hujan Tiba
 Oleh Intishorul Ummah


Kholifah Umar bin ‘Abdul  ‘Aziz suatu ketika berjalan bersama Sulaiman bin ‘Abdul ‘aziz.  Di tengah perjalanan mereka melewati malam yang gelap gulita, diiringi hujan lebat, angin kencang, petir dan kilat di langit sehingga mereka  tercekam ketakutan dengan suasana itu.  Tiba-tiba Kholifah Umar tertawa kecil.  Sulaiman bertanya, “Apa yang membuatmu tertawa ya Umar ?” Kholifah Umar menjawab,”Tidakkah Kau lihat apa yang kita alami sekarang?”  “Gelapnya malam, hujan diringi angin kencang dan petir bersahut-sahutan, semuanya adalah tanda kasih sayang Allah.” “Bagaimana dengan tanda-tanda kemurkaannya ?” (Tarikhu al Khulafa’)

Subhanallah, logika para salafussholih memang luar biasa.  Mereka selalu mengkaitkan semua peristiwa alam  dengan sudut pandang iman.  Pandangan dan perenungan mereka tentang dunia selalu berorientasi ke akhirat.  

            Berbeda dengan manusia biasa yang tabiatnya  suka berkeluh kesah. Menghadapi kemarau panjang saja, keluhannya juga luaar biasa panjang. Susah air lah, panas  lah, gerah lah dan sejuta keluhan lainnya. Begitu musim hujan tiba, lain lagi keluhannya. Becek lah, pakaian ga kering-kering lah,  musim penyakit lah. Bahkan bagi para galauers, musim hujan justru makin menambah kesedihan mereka.  Lho apa hubungannya ? Mungkin semakin deras hujan, makin deras pula airmatanya. Padahal hujan adalah karunia Allah SWT.  Dia datang bukan karena permintaan manusia. Dia datang karena kuasa Allah. Buktinya tanpa sholat istisqo pun, musim hujan datang dengan sendirinya dengan ijin Allah. Oleh karena itu supaya hujan ini mendatangkan berkah, banyaklah membaca doa :

اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
Ya Allah, Turunkanlah hujan lebat  dan  bermanfaat (HR Imam Bukhori)

   Kalau sebagian orang suka berkeluh kesah dengan datangnya hujan, bagi anak-anak bermain-main dengan air hujan adalah hal yang menyenangkan.   Geli juga melihat anak-anak paud membasahi rambut mereka di tengah pelototan orang-orang dewasa yang melarang main hujan-hujanan. Maklum orang tua tentu  khawatir anak-anaknya akan jatuh sakit. Menariknya mandi hujan juga pernah dilakukan Rasulullah. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

عن أنس رضي الله عنه قا ل: أصابنا مع رسول
الله صلى الله عليه وسلم مطر فحسر – أي كشف – رسول الله صلى الله عليه وسلم ثوبه حتى
أصابه المطر فقلنا يا رسول الله : لم صنعت هذا ؟ قال : لأنه حديث عهد بربه . رواه مسلم
Dari Anas, kami pernah bersama Rasulullah pada saat hujan turun membasahi kami. Maka Rasulullah membuka bajunya sampai hujan membasahi tubuhnya. Kami berkata “Wahai Rasulullah kenapa engkau melakukan ini ?” Beliau berkata “sesungguhnya ini adalah rahmat yang dijanjikan Allah.”
  
           Bagi yang sedang galau, manfaatkan musim hujan ini dengan banyak-banyak berdoa supaya terhindar dari kegalauan sebab ada dua waktu mustajab dikabulkannya doa : waktu azan berkumandang dan saat hujan turun.

      Dan yang lebih penting bagi kita, jangan pernah menjadikan hujan sebagai penghalang untuk menyongsong datangnya nashrullah.  Jangan hanya gara-gara hujan turun, semangat kita untuk menuntut ilmu agama dan berdakwah jadi kendor.  Berharaplah ketika sedang beramal sholih di luar rumah, Allah beri kita cuaca yang cerah.  Jikalau mendung tak berarti hujan. Kalaulah hujan, berdoalah supaya Allah pindahkan hujan itu ke daerah lain.

 اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا،
اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ
وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
“Ya Allah, turunkan hujan di sekeliling kami, jangan kepada kami. Ya, Allah, berilah hujan ke daratan tinggi,  bukit dan lembah dan  tanah yang menumbuhkan pepohonan.” (HR Bukhory).   Semoga musim hujan ini semakin menjadikan kita  hamba-hamba Allah yang selalu bersyukur dan bersabar. Amiin...





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pemuda Islam : Think About Palestine Not Valentine

Oleh Najmah Jauhariyyah (Pegiat Sosial Media Bengkulu) Manusia adalah makhluk yang mampu berfikir.  Dengan berfikir manusia menjadi makhlu...