Catatan Saat Musim Hujan Tiba
Oleh Intishorul Ummah
Kholifah Umar bin ‘Abdul ‘Aziz suatu ketika berjalan bersama Sulaiman
bin ‘Abdul ‘aziz. Di tengah perjalanan
mereka melewati malam yang gelap gulita, diiringi hujan lebat, angin kencang,
petir dan kilat di langit sehingga mereka
tercekam ketakutan dengan suasana itu.
Tiba-tiba Kholifah Umar tertawa kecil.
Sulaiman bertanya, “Apa yang membuatmu tertawa ya Umar ?” Kholifah Umar
menjawab,”Tidakkah Kau lihat apa yang kita alami sekarang?” “Gelapnya malam, hujan diringi angin kencang
dan petir bersahut-sahutan, semuanya adalah tanda kasih sayang Allah.” “Bagaimana
dengan tanda-tanda kemurkaannya ?” (Tarikhu al Khulafa’)
Subhanallah, logika para
salafussholih memang luar biasa. Mereka
selalu mengkaitkan semua peristiwa alam
dengan sudut pandang iman.
Pandangan dan perenungan mereka tentang dunia selalu berorientasi ke akhirat.
Berbeda dengan manusia biasa yang tabiatnya suka berkeluh kesah. Menghadapi kemarau
panjang saja, keluhannya juga luaar biasa panjang. Susah air lah, panas lah, gerah lah dan sejuta keluhan lainnya.
Begitu musim hujan tiba, lain lagi keluhannya. Becek lah, pakaian ga kering-kering
lah, musim penyakit lah. Bahkan bagi
para galauers, musim hujan justru makin menambah kesedihan mereka. Lho apa hubungannya ? Mungkin semakin deras
hujan, makin deras pula airmatanya. Padahal hujan adalah karunia Allah
SWT. Dia datang bukan karena permintaan
manusia. Dia datang karena kuasa Allah. Buktinya tanpa sholat istisqo pun,
musim hujan datang dengan sendirinya dengan ijin Allah. Oleh karena itu supaya
hujan ini mendatangkan berkah, banyaklah membaca doa :
Ya Allah, Turunkanlah hujan lebat dan bermanfaat (HR Imam Bukhori)
Kalau sebagian orang suka berkeluh kesah dengan
datangnya hujan, bagi anak-anak bermain-main dengan air hujan adalah hal yang
menyenangkan. Geli juga melihat
anak-anak paud membasahi rambut mereka di tengah pelototan orang-orang dewasa
yang melarang main hujan-hujanan. Maklum orang tua tentu khawatir anak-anaknya akan jatuh sakit.
Menariknya mandi hujan juga pernah dilakukan Rasulullah. Seperti yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim:
الله صلى الله عليه وسلم مطر فحسر – أي كشف – رسول الله صلى الله عليه وسلم ثوبه حتى
أصابه المطر فقلنا يا رسول الله : لم صنعت هذا ؟ قال : لأنه حديث عهد بربه . رواه مسلم
Dari Anas, kami pernah bersama Rasulullah pada saat hujan turun membasahi kami. Maka Rasulullah membuka bajunya sampai hujan membasahi tubuhnya. Kami berkata “Wahai Rasulullah kenapa engkau melakukan ini ?” Beliau berkata “sesungguhnya ini adalah rahmat yang dijanjikan Allah.”
Bagi yang sedang galau, manfaatkan musim hujan ini
dengan banyak-banyak berdoa supaya terhindar dari kegalauan sebab ada dua waktu
mustajab dikabulkannya doa : waktu azan berkumandang dan saat hujan turun.
Dan yang lebih penting bagi kita, jangan pernah
menjadikan hujan sebagai penghalang untuk menyongsong datangnya
nashrullah. Jangan hanya gara-gara hujan
turun, semangat kita untuk menuntut ilmu agama dan berdakwah jadi kendor. Berharaplah ketika sedang beramal sholih di
luar rumah, Allah beri kita cuaca yang cerah.
Jikalau mendung tak berarti hujan. Kalaulah hujan, berdoalah supaya
Allah pindahkan hujan itu ke daerah lain.
اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ
وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
“Ya Allah, turunkan hujan di sekeliling kami, jangan kepada kami. Ya, Allah, berilah hujan ke daratan tinggi, bukit dan lembah dan tanah yang menumbuhkan pepohonan.” (HR Bukhory). Semoga musim hujan ini semakin menjadikan kita hamba-hamba Allah yang selalu bersyukur dan bersabar. Amiin...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar