SAATNYA WUJUDKAN
GENERASI BERENCANA (GENRE)
YANG SMART
DAN BERTAQWA
Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh
ulah nakal sekelompok remaja yang mempertontonkan adegan kekerasan secara nyata
di depan khalayak ramai. Tak
tanggung-tanggung, peristiwa tawuran antar pelajar ini memakan korban jiwa.
Menurut catatan Polda Metro Jaya, sejak Januari hingga September 2012 tercatat
ada 11 kejadian tawuran antar pelajar dengan 5 korban tewas. Ironisnya salah
satu pelajar yang terlibat aksi tawuran merupakan pelajar yang memiliki
prestasi akademik. Budaya tawuran
ternyata tidak hanya tumbuh subur di kota-kota besar. Namun ibarat penyakit, ternyata menular pula hingga pelosok
daerah. Di Kabupaten Rejang Lebong
Propinsi Bengkulu, tawuran antar pelajar dipicu hanya karena masalah sepele.
Padahal beberapa hari sebelumnya, para
pelajar kota tersebut sudah mengadakan
Deklarasi Anti Tawuran dan Anti Narkoba. Tawuran, itulah jawaban tuntas
dalam menyelesaikan sengketa antar pelajar.
Emosi yang meluap-luap, kemarahan yang memuncak, senjata yang bermain
akhirnya nyawa pun melayang. Inilah potret generasi preman, pribadi pencinta
kekerasan.
Kenakalan remaja juga memicu tingginya
angka penderita HIV/AIDS. Di Propinsi
Bengkulu angka penderita HIV/AIDS hampir mendekati angka 500 orang. Ditengarai, 60 % penyebab tingginya penderita
HIV/AIDS di Bengkulu karena pergaulan bebas dan penggunaan narkoba di kalangan
generasi muda.
Kenakalan remaja yang semakin merebak
ini menunjukkan adanya ketidakberesan
pada mental generasi muda bangsa ini. Adakah yang salah dengan dunia
pendidikan saat ini ? Bisa jadi para pelajar menganggap sekolah bukan lagi
sebagai tempat belajar dan menuntut ilmu untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Dalam benak mereka, sekolah hanya sekedar tempat berkumpul dengan
teman-temannya atau hanya sebatas tempat menghilangkan kepenatan di rumah.
Tidak ada lagi sopan santun dan hormat kepada guru apalagi takut dengan
peraturan sekolah. Buktinya beberapa
kasus kenakalan remaja justru terjadi di saat mereka masih mengenakan seragam
sekolah. Melihat fenomena di atas, seberapa efektifkah peran pendidikan di sekolah dalam membentuk kepribadian anak didik
?
Sekolah sebagai institusi pendidikan
seharusnya mampu menghasilkan anak didik yang berkepribadian baik sesuai Islam.
Namun kenyataannya sistem pendidikan sekuler kapitalistik telah menyita
sebagian besar waktu pelajar untuk lebih fokus pada target mengejar kurikulum
dan penguasaan saintek. Pada saat yang
sama para pelajar secara sistematik telah mengabaikan pembentukan
kepribadiannya. Apalagi pendidikan agama
di sekolah umum sangat minim hanya 2 jam pelajaran perminggu. Hasilnya,
walaupun mereka bersekolah dan berprestasi akademik, tapi jiwa mereka kosong
dari nilai-nilai spiritual. Mental mereka
lemah, gampang emosi, mudah depresi, cuek dengan lingkungan dan kehilangan rasa
malu. Peristiwa kesurupan massal yang
banyak terjadi di sekolah-sekolah membuktikan kosongnya jiwa mereka dari
nilai-nilai Ilahiyah.
Fakta deretan kasus kenakalan remaja
mulai dari tawuran, narkoba, miras, geng motor hingga pergaulan bebas merupakan
alasan kuat bahwa sekolah merupakan pihak yang paling bertanggung jawab
terhadap kerusakan moral pelajar. Dan
kuat alasan pula bahwa sistem pendidikan saat ini telah gagal mewujudkan
kesholihan pada anak didik.
Lalu tidakkah ada upaya pihak sekolah
untuk memperbaiki semua ini ? Sebab
dengan semua kondisi ini sudah terbayang bagaimana nasib bangsa ini di kemudian
hari. Kehilangan generasi yang diharapkan
sebagai pemimpin umat dan bangsa di masa depan.
Pihak sekolah yang menyadari minimnya
pendidikan agama, mencari solusi melalui diselenggarakannya ekstrakulikuler
kerohanian Islam (ROHIS). Lembaga ROHIS
ini diharapkan sekolah sebagai alternatif
terbaik bagi pelajar untuk mengenal ajaran Islam secara lengkap. Pengenalan aqidah, ibadah, akhlak, pakaian
dan muamalah termasuk pergaulan ditanamkan lewat program mentoring/pengajian. Hasilnya cukup menggembirakan. Para pelajar yang menjadi aktivis ROHIS
umumnya adalah pelajar yang menyejukkan mata karena kesholihannya. Namun ROHIS terlanjur dianggap tidak mewakili
dunia remaja karena hanya membicarakan agama saja dan banyak peraturan yang
dianggap mengekang. Akhirnya tidak banyak pelajar yang memilih ROHIS sebagai
ekstrakulikuler pilihan. Mereka lebih
tertarik kepada ekskul yang dianggap mewakili dunia remaja seperti seni dan
olahraga. Ditambah lagi saat ini, media
massa kerap kali memberitakan pencitraan negatif terhadap ROHIS karena dianggap
sebagai basis kaderisasi calon teroris. Sebuah upaya yang mengada-ada untuk
menjatuhkan citra ROHIS. Alhasil banyak orang tua yang lebih khawatir anaknya
aktif di ROHIS daripada aktif di ekskul selain ROHIS. Walaupun mereka sebenarnya tahu bahwa ROHIS
tidak mungkin mengajarkan kekerasan dan
melakukan kegiatan-kegiatan negatif.
Namun itulah opini media yang mampu membalik kenyataan sesungguhnya.
Di tengah-tengah ketidakmampuan sistem
pendidikan dan sekolah dalam melahirkan generasi berkualitas, slogan GENRE
(Generasi Berencana) yang gencar dikampanyekan ibarat secercah harapan. GENRE tentunya adalah sosok generasi dengan identitas yang khas,
generasi bervisi masa depan, generasi calon pemimpin yang peduli dengan
permasalahan umat dan bangsa ini. GENRE
bukanlah generasi yang mementingkan diri sendiri dengan menenggelamkan dirinya
pada kehidupan hedonis kapitalistik.
GENRE mutlak diperlukan di tengah carut marut situasi negeri ini.
Membentuk generasi calon pemimpin dan
bervisi masa depan bukan pekerjaan mudah. Namun bukan pula hal yang tidak bisa
direalisasikan. Untuk mewujudkan generasi berkualitas pada dasarnya ditempuh
lewat pendidikan dan pembinaan sepanjang hayat mulai dalam kandungan hingga liang kubur. Dasar-dasar pembinaan aqidah, akhlaq dan
keteladanan diperoleh seorang anak pertama kali dari lingkungan keluarga
khususnya ibu sebagai pendidik pertama dan utama. Ketika anak menjelang dewasa, anak bersekolah
dan berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu penting sekali
memperhatikan sistem tempat dimana anak bersekolah dan berinteraksi dengan lingkungan.
Jika sistem yang melingkupi sekolah dan lingkungan anak buruk, sudah
tentu akan berpengaruh pada proses
pembinaan anak. Negara memiliki peran
penting dalam menciptakan sistem yang kondusif bagi pembinaan dan pendidikan
anak. Negaralah yang mengatur kurikulum
yang menjamin kualitas anak didik yang mumpuni dari sisi kepribadian dan
penguasaan saintek. Negara pulalah yang
akan mereserve sekaligus menindak secara tegas
hal-hal yang bisa merusak generasi terutama pengaruh buruk media. Semua itu hanya bisa diraih jika semua sistem
kehidupan khususnya pendidikan dijalankan sepenuhnya oleh Sistem Khilafah.
Hanya sistem inilah yang mampu melahirkan generasi bervisi/berencana yang smart sekaligus bertaqwa.
Penulis
:
Indah
Kartika Sari, SP
Ketua
Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia
DPD
I Bengkulu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar