Senin, 16 Juli 2012

Opini hari kependudukan dunia


LEDAKAN PENDUDUK, POTENSI  ATAU ANCAMAN ?

            Tanggal 11 Juli yang lalu diperingati sebagai hari kependudukan dunia. Sudah selayaknya pada momen ini, dunia termasuk Indonesia  melakukan evaluasi  terhadap penduduknya baik secara kualitas maupun kuantitas.  Secara kualitas, kondisi penduduk (khususnya di Indonesia) sampai hari ini sangatlah terpuruk.  Lebih dari 30 juta penduduknya terkatagori miskin, jutaan orang putus sekolah serta  banyak penduduk yang sulit mendapat fasilitas kesehatan yang layak.  Belum lagi maraknya kriminalitas, tingginya angka pengangguran, penyakit stress dll.  Dari sisi kuantitatif, dari sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia mencapai 238 juta, meningkat tajam dibanding satu dekade lalu yang  hanya 205 juta.  Banyak pihak yang mengkhawatirkan tingginya jumlah penduduk akan berdampak serius  secara sosial, ekonomi dan politik.  Dalam sebuah situs, ketakutan itu  digambarkan sebagai berikut : “Ancaman bom mengintai Indonesia tidak hanya datang dari kelompok teroris. Indonesia akan menghadapi ancaman bom yang tak kalah gawatnya yaitu bom kependudukan dalam 5 tahun ke depan. Persoalan pentingnya adalah bagaimana kita menjinakkannya dan seberapa siap kita menangani korban-korban yang akan berjatuhan ?”. Selain itu ketakutan ini juga dipicu oleh teori  ledakan penduduk yang dikeluarkan oleh  Malthus (1798).  Dalam tulisannya yang berjudul Essay On The Principle Of Population, ia mengatakan bahwa  kelangkaan barang akan menyebabkan masalah  karena penduduk bertambah  sesuai deret ukur (2,4,8,16,32) sedangkan sumber pangan bertambah sesuai deret hitung (2,4,6,8,10).  Hal ini terjadi karena penyempitan lahan pertanian disebabkan jumlah penduduk yang semakin bertambah.  Seorang peneliti dari Inggris, Amich Alhumami menyatakan bahwa teori Malthus ini mengandung kelemahan karena tidak memasukkan variabel penggunaan modal fisik dan inovasi teknologi pertanian untuk meningkatkan kapasitas produksi pangan.  Menurutnya variabel inilah yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian sekalipun penduduk meningkat, sehingga ini berlawanan arah dengan ramalan Malthus.
            Memang betul, kemiskinan dan kelaparan yang dialami oleh 1,02 milyar penduduk dunia bukan karena kurangnya ketersediaan pangan.  Menurut FAO, meningkatnya jumlah penduduk dunia  yang menderita kelaparan kronis dan kemiskinan  bukan karena rendahnya hasil panen tetapi akibat krisis ekonomi dunia yang menurunkan pendapatan dan meningkatkan jumlah pengangguran.  Kombinasi perlambatan ekonomi dunia dan tingginya harga pangan mengurangi akses penduduk miskin terhadap pangan.  Masalah buruknya distribusi pangan dan tingginya gaya hidup konsumtif masyarakat barat juga dinilai sebagai penyebab ketidakseimbangan selama ini.  Sebuah jurnal ekonomi menyebutkan pangan dan sumber daya alam masih lebih dari cukup untuk seluruh  penduduk dunia.  Namun sebagian besar SDA tersebut habis dikonsumsi barat.  Jumlah penduduk barat sekitar 20 % dari populasi penduduk dunia, tapi menghabiskan 80 % pangan dunia serta mengkonsumsi 50 % SDA terpenting dunia.
            Pertambahan penduduk seharusnya menjadi potensi bukanlah ancaman.  Jumlah penduduk yang besar  akan menjadi asset berharga bagi sebuah bangsa jika penduduk tersebut  memiliki pemikiran yang khas,  produktif,  kreatif,  inovatif,  berperilaku baik, memiliki fisik yang sehat juga hidup dalam kesejahteraan. Sekalipun banyaknya penduduk tidak berkaitan sama sekali dengan derita yang dialami dunia, namun issue ledakan penduduk merupakan propaganda barat yang  ditujukan untuk menekan negara-negara berkembang  (baca : negeri-negeri muslim) yang  notabene jumlah penduduknya banyak.  Hal ini dilatarbelakangi kekhawatiran hilangnya hegemoni barat di masa yang akan datang, khususnya hak suara di percaturan politik internasional. Kekhawatiran mereka bukan tanpa alasan.  Di negara-negara maju khususnya Amerika dan Eropa, jumlah penduduk mengalami penurunan karena rendahnya kelahiran.  Sementara itu The Pew Forum On Religion And Public Life menyodorkan data tentang jumlah penduduk muslim dunia yang melonjak hampir 100 % dalam beberapa tahun.  Jumlah penduduk muslim  di dunia mencapai 1,57 milyar jiwa.  Indonesia disebut-sebut sebagai negara dengan populasi jumlah penduduk muslim terbesar atau 13 % dari seluruh penduduk muslim dunia.   Eropa merupakan benua yang pertumbuhan  penduduk muslimnya sangat cepat.  Kini Eropa menjadi rumah bagi 38 juta muslim atau 5 % dari seluruh populasi.  Pada tahun 2050 jumlah penduduk muslim di Eropa kemungkinan menjadi 30 %. Di Benua Amerika, sebanyak 4,6 juta muslim tinggal di sana dan separuh dari jumlah itu hidup di Amerika Serikat.  The Pew Forum  juga menyodorkan data yang mencengangkan.  Misalnya saja muslim Jerman lebih banyak daripada muslim Lebanon. Muslim China lebih banyak daripada muslim Suriah. Muslim Rusia lebih banyak daripada gabungan muslim Yordan dan Libya.  Muslim di Eropa lebih dari separuhnya adalah penduduk asli bukan imigran. Sementara itu di benua Afrika ada 240 juta orang muslim artinya 15 % dari keseluruhan muslim dunia.   
            Dokumen National Security Study Memorandum tahun 1974 menyebutkan beberapa alasan pertumbuhan penduduk di negara-negara berkembang (negeri-negeri muslim) bisa menjadi ancaman keamanan nasional AS. Diantaranya negara-negara berkembang memiliki potensi ideologi, politik dan pengaruh ekonomi yang besar.  Diyakini hal tersebut bisa mengancam struktur kekuasaan global yang saat ini dipimpin  oleh AS sementara  AS dan  Eropa sedang menderita penyakit kependudukan dan kapitalisme sebagai alat hegemoni barat tak lagi mampu mendistribusikan pangan yang melimpah.
            Konferensi dunia tentang kependudukan tahun 1994 di Kairo merupakan sarana opini barat untuk menekan laju pertumbuhan penduduk dunia khususnya di negeri-negeri muslim.  Diantaranya promosi penggunaan alat kontrasepsi, pengembangan ekonomi liberal dan peningkatan status perempuan. Bahkan juga diblow up opini yang kontroversi seperti aborsi, homoseks, hubungan seks di luar nikah untuk mencegah ledakan penduduk.
            Kini jelas sudah, ketidakseimbangan global yang terjadi sebenarnya berasal dari kebijakan negara-negara barat yang dibungkus issu ledakan penduduk di dunia Islam. Semata-mata untuk menutupi sekaligus mengeksiskan sistem kapitalisme yang rusak serta mencegah munculnya kembali kekuatan global baru yaitu Khilafah Islamiyah. By Intishorul Ummah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pemuda Islam : Think About Palestine Not Valentine

Oleh Najmah Jauhariyyah (Pegiat Sosial Media Bengkulu) Manusia adalah makhluk yang mampu berfikir.  Dengan berfikir manusia menjadi makhlu...