LEDAKAN
PENDUDUK, POTENSI ATAU ANCAMAN ?
Tanggal 11 Juli yang lalu diperingati sebagai hari kependudukan
dunia. Sudah selayaknya pada momen ini, dunia termasuk Indonesia melakukan evaluasi terhadap penduduknya baik secara kualitas
maupun kuantitas. Secara kualitas,
kondisi penduduk (khususnya di Indonesia) sampai hari ini sangatlah
terpuruk. Lebih dari 30 juta penduduknya
terkatagori miskin, jutaan orang putus sekolah serta banyak penduduk yang sulit mendapat fasilitas
kesehatan yang layak. Belum lagi
maraknya kriminalitas, tingginya angka pengangguran, penyakit stress dll. Dari sisi kuantitatif, dari sensus penduduk
tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia mencapai 238 juta, meningkat tajam
dibanding satu dekade lalu yang hanya
205 juta. Banyak pihak yang
mengkhawatirkan tingginya jumlah penduduk akan berdampak serius secara sosial, ekonomi dan politik. Dalam sebuah situs, ketakutan itu digambarkan sebagai berikut : “Ancaman bom
mengintai Indonesia tidak hanya datang dari kelompok teroris. Indonesia akan
menghadapi ancaman bom yang tak kalah gawatnya yaitu bom kependudukan dalam 5
tahun ke depan. Persoalan pentingnya adalah bagaimana kita menjinakkannya dan
seberapa siap kita menangani korban-korban yang akan berjatuhan ?”. Selain itu
ketakutan ini juga dipicu oleh teori
ledakan penduduk yang dikeluarkan oleh Malthus (1798). Dalam tulisannya yang berjudul Essay On The
Principle Of Population, ia mengatakan bahwa kelangkaan barang akan menyebabkan
masalah karena penduduk bertambah sesuai deret ukur (2,4,8,16,32) sedangkan
sumber pangan bertambah sesuai deret hitung (2,4,6,8,10). Hal ini terjadi karena penyempitan lahan
pertanian disebabkan jumlah penduduk yang semakin bertambah. Seorang peneliti dari Inggris, Amich Alhumami
menyatakan bahwa teori Malthus ini mengandung kelemahan karena tidak memasukkan
variabel penggunaan modal fisik dan inovasi teknologi pertanian untuk
meningkatkan kapasitas produksi pangan.
Menurutnya variabel inilah yang dapat meningkatkan produktivitas
pertanian sekalipun penduduk meningkat, sehingga ini berlawanan arah dengan
ramalan Malthus.
Memang betul, kemiskinan dan kelaparan yang dialami oleh
1,02 milyar penduduk dunia bukan karena kurangnya ketersediaan pangan. Menurut FAO, meningkatnya jumlah penduduk
dunia yang menderita kelaparan kronis
dan kemiskinan bukan karena rendahnya
hasil panen tetapi akibat krisis ekonomi dunia yang menurunkan pendapatan dan
meningkatkan jumlah pengangguran.
Kombinasi perlambatan ekonomi dunia dan tingginya harga pangan
mengurangi akses penduduk miskin terhadap pangan. Masalah buruknya distribusi pangan dan
tingginya gaya hidup konsumtif masyarakat barat juga dinilai sebagai penyebab
ketidakseimbangan selama ini. Sebuah
jurnal ekonomi menyebutkan pangan dan sumber daya alam masih lebih dari cukup
untuk seluruh penduduk dunia. Namun sebagian besar SDA tersebut habis
dikonsumsi barat. Jumlah penduduk barat
sekitar 20 % dari populasi penduduk dunia, tapi menghabiskan 80 % pangan dunia
serta mengkonsumsi 50 % SDA terpenting dunia.
Pertambahan penduduk seharusnya menjadi potensi bukanlah
ancaman. Jumlah penduduk yang besar akan menjadi asset berharga bagi sebuah bangsa
jika penduduk tersebut memiliki
pemikiran yang khas, produktif, kreatif,
inovatif, berperilaku baik,
memiliki fisik yang sehat juga hidup dalam kesejahteraan. Sekalipun banyaknya
penduduk tidak berkaitan sama sekali dengan derita yang dialami dunia, namun issue
ledakan penduduk merupakan propaganda barat yang ditujukan untuk menekan negara-negara
berkembang (baca : negeri-negeri muslim)
yang notabene jumlah penduduknya
banyak. Hal ini dilatarbelakangi
kekhawatiran hilangnya hegemoni barat di masa yang akan datang, khususnya hak
suara di percaturan politik internasional. Kekhawatiran mereka bukan tanpa
alasan. Di negara-negara maju khususnya Amerika
dan Eropa, jumlah penduduk mengalami penurunan karena rendahnya kelahiran. Sementara itu The Pew Forum On Religion And
Public Life menyodorkan data tentang jumlah penduduk muslim dunia yang melonjak
hampir 100 % dalam beberapa tahun. Jumlah
penduduk muslim di dunia mencapai 1,57
milyar jiwa. Indonesia disebut-sebut
sebagai negara dengan populasi jumlah penduduk muslim terbesar atau 13 % dari
seluruh penduduk muslim dunia. Eropa merupakan
benua yang pertumbuhan penduduk
muslimnya sangat cepat. Kini Eropa
menjadi rumah bagi 38 juta muslim atau 5 % dari seluruh populasi. Pada tahun 2050 jumlah penduduk muslim di
Eropa kemungkinan menjadi 30 %. Di Benua Amerika, sebanyak 4,6 juta muslim
tinggal di sana dan separuh dari jumlah itu hidup di Amerika Serikat. The Pew Forum
juga menyodorkan data yang mencengangkan. Misalnya saja muslim Jerman lebih banyak
daripada muslim Lebanon. Muslim China lebih banyak daripada muslim Suriah.
Muslim Rusia lebih banyak daripada gabungan muslim Yordan dan Libya. Muslim di Eropa lebih dari separuhnya adalah
penduduk asli bukan imigran. Sementara itu di benua Afrika ada 240 juta orang
muslim artinya 15 % dari keseluruhan muslim dunia.
Dokumen National Security Study Memorandum tahun 1974
menyebutkan beberapa alasan pertumbuhan penduduk di negara-negara berkembang
(negeri-negeri muslim) bisa menjadi ancaman keamanan nasional AS. Diantaranya
negara-negara berkembang memiliki potensi ideologi, politik dan pengaruh
ekonomi yang besar. Diyakini hal
tersebut bisa mengancam struktur kekuasaan global yang saat ini dipimpin oleh AS sementara AS dan
Eropa sedang menderita penyakit kependudukan dan kapitalisme sebagai
alat hegemoni barat tak lagi mampu mendistribusikan pangan yang melimpah.
Konferensi dunia tentang kependudukan tahun 1994 di Kairo
merupakan sarana opini barat untuk menekan laju pertumbuhan penduduk dunia
khususnya di negeri-negeri muslim.
Diantaranya promosi penggunaan alat kontrasepsi, pengembangan ekonomi
liberal dan peningkatan status perempuan. Bahkan juga diblow up opini yang kontroversi seperti aborsi, homoseks, hubungan
seks di luar nikah untuk mencegah ledakan penduduk.
Kini jelas sudah, ketidakseimbangan global yang terjadi sebenarnya
berasal dari kebijakan negara-negara barat yang dibungkus issu ledakan penduduk
di dunia Islam. Semata-mata untuk menutupi sekaligus mengeksiskan sistem
kapitalisme yang rusak serta mencegah munculnya kembali kekuatan global baru
yaitu Khilafah Islamiyah. By Intishorul Ummah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar