Selasa, 14 Februari 2017

Reportase DAURAH Islam Rahmatan Lil ‘Aalamiin #DPD 1 Muslimah_HTI_Provinsi_Bengkulu “Indahnya Hidup Dalam Islam Rahmatan Lil’alamiin”




Umat Islam saat ini tengah sakit dan tak kunjung membaik. Kerusakan demi kerusakan terjadi di mana-mana. Hal ini dikarenakan kaum muslimin jauh dari kehidupan Islam sehingga Islam Rahmatan Lil ’Aalamin tak terwujud saat ini. Oleh karena itu Muslimah HTI DPD I Bengkulu menyelenggarakan Daurah IRA (Islam Rahmatan Lil ’Aalamiin) dengan tema “Indahnya Hidup Dalam Islam Rahmatan Lil’Alamiin”  pada Minggu, 12 Februari 2017 bertempat di Masjid Al Muhtadin Bengkulu. Acara daurah IRA ini dihadiri lebih kurang 20 peserta dari kalangan mahasiswi, guru, ibu rumah tangga dan jama’ah majelis taklim.
Ustadzah Indah Kartika Sari, SP. (Ketua Muslimah HTI DPD I Provinsi Bengkulu) sebagai narasumber dalam Daurah IRA kali ini.  Dalam uraiannya Beliau menjelaskan bahwa Allah SWT telah berfirman

 وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِين َ  

“Dan tiadalah Kami utus Engkau (Wahai Muhammad) melainkan agar menjadi rahmat bagi seluruh alam” (TQS. AL Anbiya 107)


Beliau mengatakan bahwa Islam diturunkan oleh Allah SWT agar menjadi Rahmat tak hanya bagi kaum muslimin melainkan juga  untuk non muslim bahkan seluruh alam.  Islam Rahmatan Lil ‘Aalamiin adalah agama yang diturunkan kepada Rosulullah SAW.  Rahmatnya Islam terwujud manakala seluruh syariatNya diterapkan  dalam seluruh aspek kehidupan.
Problematika umat Islam saat ini adalah belum tegaknya syariat Islam yang menjadi solusi seluruh permasalahan mereka.  Sehingga umat wajib melaksanakan seluruh syariat Allah untuk mewujudkan kembali Islam Rahmatan Lil Aalamiin.  Jalan yang ditempuh adalah menegakkan Khilafah sebagai satu-satunya metode untuk  menerapkan syariat Islam kaafah sehingga alam semesta merasakan indahnya hidup dalam Islam rahmatan Lil ‘Aaalamiin.
Di akhir materi, Ustadzah Indah  tak lupa mengajak peserta untuk bergabung bersamaMuslimah  Hizbut Tahrir Indonesia untuk memperjuangkan tegaknya Khilafah. Para peserta sangat antusias menyimak materi yang disampaikan. Itu terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan.
Wallahu’alam Bishawab.



Minggu, 22 Januari 2017

Reportase Kajian Cermin Wanita Shalihah (KCWS) "Mencari Pemimpin Dambaan Umat" #DPD 1Muslimah_HTI_Provinsi_Bengkulu “Mencari Pemimpin Dambaan Umat”










Melihat kondisi umat saat ini yang semakin hari semakin memprihatinkan karena  kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, maka Muslimah HTI DPD 1 Provinsi Bengkulu pada hari ahad (22/01/17) bertempatan di Masjid Al-Muhtadin Kota Bengkulu mengadakan acara Kajian Cermin Wanita Sholihah dengan tema “Mencari Pemimpin Dambaan Umat”. Acara ini  dihadiri oleh kurang lebih 30 peserta dari berbagai kalangan. Hadir sebagai pembicara Ustadzah Ummu Athiyah.

Beliau menggambarkan  fakta kerusakan hidup rakyat di bawah kepemimpinan sistem Demokrasi di mana pada awal  tahun 2107 rakyat mendapat “kado pahit” dari pemerintah berupa  kenaikan biaya pengurusan STNK, BPKB, TNKB dan lain sebagainya, kenaikan harga BBM jenis umum yang naik 300 perliter juga kenaikan harga  tarif dasar listrik (TDL) untuk pelanggan golongan 900 VA. Semua itu fakta yang menunjukkan ketidakadilan pemerintah terhadap rakyat, pungkasnya.

Beliau juga memaparkan bagaimana kriteria pemimpin dalam Islam (Khalifah) yaitu muslim, laki-laki, baligh, berakal dan adil juga dilihat mampu tidaknya mengemban amanah. Kriteria ini ditetapkan karena beratnya tugas dan tanggung jawab seorang Khalifah dalam memimpin umat.

Beliau juga mengatakan bahwa umat Islam harus memilih pemimpin yang mau menerapkan sistem Islam yaitu menerapkan hukum yang bersumber dari Allah SWT.  Sebab Sistem Islam yang diterapkan oleh institusi Khilafah adalah satu-satunya solusi dari semua kerusakan-kerusakan yang terjadi saat ini. Tak lupa beliau mengajak umat khusus nya peserta Kajian Cermin Wanita Shalihah untuk bersama-sama memperjuangkan tegaknya sistem Islam dalam naungan Daulah Khilafah.

Dalam menyimak pemaparan dari pemateri, peserta Kajian Cermin Wanita Shalihah sangat antusias. Hal itu dilihat dari banyaknya pertanyaan peserta ketika dibuka sesi tanya jawab oleh moderator. Namun karena dibatasi oleh waktu maka acara pun harus segera diakhiri.

Wallahu a'lam.


Rabu, 28 Desember 2016

Reportase Daurah Intelektual Peduli Umat DPD 1 Muslimah_HTI_Provinsi_Bengkulu “Cinta Rasul, Tegakkan Khilafah! Raih Islam Rahmatan lil älamiin



Generasi bangsa yang disebut sebagai Intelektual Muda adalah adalah generasi yang memiliki potensi yang sangat besar dalam membawa perubahan,  karena di tangan merekalah peradaban akan terukir. Namun kondisi generasi itu saat ini sungguh memprihatinkan. Didasari keinginan untuk membawa perubahan bagi kalangan inteletual muda,  Divisi kampus Muslimah HTI DPD 1 Bengkulu mengadakan acara Daurah Intelektual Peduli Umat. Acara ini diadakan pada Hari Minggu (25/12/2016)  bertempat di Masjid Muhtadin Kota Bengkulu dengan tema “Cina Rasul, Tegakkan Khilafah! Raih Islam Rahmataan lil alamin”.  Acara ini dihadiri oleh lebih kurang 25 peserta dari kalangan mahasiswa hingga pelajar.

Ustazah Indah Kartika Sari, SP sebagai narasumber di acara daurah tersebut. Dalam materinya Beliau menggambarkan betapa indahnya perilaku Rasulullah SAW sampai-sampai Ali RA mengatakan “Bagaimana aku bisa menceritakan akhlak Nabi sementara keindahan dunia saja susah digambarkan ?”.  Maka sudah selayaknyalah kita merasa rindu dengan ajaran Beliau dengan menjadikan Beliau SAW sebagai satu-satunya teladan dalam kehidupan.
Beliau juga menjelaskan bahwa cara mengikuti jejak langkah Beliau adalah dengan melanjutkan risalah yang dibawanya  agar menjadi Rahmatan lil Aalaamiin.  Rahmat bagi seluruh alam akan terwujud jika diterapkan syariat Islam yang kaafah. Oleh karena itu, bukti Cinta kita kepada Beliau adalah dengan menerapkan syariat Islam yang dibawa Beliau  secara kaafah. Sebagaimana pula keimanannya kepada Allah SWT harus disertai ketundukan pada segenap aturan-aturanNya. Ada satu langkah yang harus dilakukan yaitu tegakkan Khilafah, karena hanya dengan menegakkan Khilafah, syariat Islam kaafah bisa teralisasikan, pungkasnya.
Para peserta semakin antusias mendengarkan pemaparan dari pembicara yang dibuat menarik dengan menayangkan berbagai tayangan  video yang mampu menggugah hati para intelektual yang hadir pada saat itu .
Diakhir acara beliau mengajak para intelektual yang hadir untuk bersama-sama berjuang dalam menegakkan Khilafah, karena inilah bentuk cinta kita kepada Rasul dan bentuk kepedulian kita kepada umat.  Sebab hanya syariah saja yang mampu secara tuntas  menyelesaikan persoalan-persoalan umat yang semakin hari semakin pelik.
Wallahu a’lam Bishshawab









Minggu, 18 Desember 2016

Reportase Seminar Ibu Nusantara (SIN) #DPD 1 Muslimah_HTI_Provinsi_Bengkulu “Negara Soko Guru Ketahanan Keluarga”










Muslimah HTI Bengkulu menyelenggarakan "Seminar Ibu Nusantara “Negara Soko Guru Ketahanan Keluarga” Acara ini dihadiri sekitar 100 peserta dari kalangan guru, mahasiswi, pelajar, ibu-ibu majelis taklim dan insan media. Kali ini menghadirkan 4 pembicara yaitu Ustadzah Feliyanah, S.Pd, Ustadzah Drg. Wardah Samanhudi dan Ustadzah Noza Ekawati, S.Si. dan  UstadzahFitri Andusti, S.Pd. Dalam acara ini dipaparkan  materi tentang " Negara Soko Guru Ketahanan Keluarga”.  Para pembicara menjelaskan   bahwa saat ini kerusakan ketahanan keluarga merupakan dampak dari abainya negara dalam melindungi benteng keluarga. Ketahanan keluarga menjadi persoalan yang amat penting karena merupakan salah satu pilar ketahanan masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu segala hal yang mengarah kepada kerapuhan keluarga harus dihilangkan dan diselesaikan. Salah satu kondisi yang menunjukkan kerapuhan keluarga di Indonesia adalah tingginya angka perceraian. Bahkan angka perceraian di Indonesia selalu mengalami peningkatan. Setidaknya 40% penceraian terjadi setiap jam, 70,5%  adalah gugat cerai dari pihak istri . Indonesia menempati rangking teratas.
Acara ini dilaksanakan pada Hari Ahad, 18 Desember 2016 bertempat di Aula Anggrek Hotel Samudera Dwinka,  Kota Bengkulu,. Acara ini dilaksanakan selain untuk syiar Islam, juga untuk merespon permasalahan yang menimpa umat khususnya masalah perempuan, keluarga dan generasi sesuai dengan pandangan Islam serta menjleaskan bahwa saat ini negara abai terhadap tanggungjawab sebagai soko guru ketahanan keluarga Dan semua permasalahan yang menimpa perempuan, keluarga dan generasi hanya bisa selesai dengan diterapkannya Islam dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah. Untuk itu, mari kita berjuang bersama-sama untuk tegaknya Khilafah ar-Rasyidah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.

Acara ini juga diliput oleh sejumlah media baik cetak maupun online.

Koran Radar memuat berita tentang SIN pada halamannya tanggal 19 Desember 2016.

Pemberitaan Seminar Ibu Nusantara ada di beberapa media online. Berikut  linknya :

http://bengkulutoday.com/prihatin-angka-perceraian-meningkat-mhti-gelar-seminar-ibu-nusantara

http://redaksibengkulu.co.id/2016/12/20/rapuhnya-ketahanan-keluarga-berkontribusi-pada-rusaknya-generasi-muda/

Wallahu a’lam bish shawab.


Selasa, 29 November 2016

Reportase FORMASI (Forum Mahasiswi Ideologis) edisi Perdana Divisi Kampus DPD 1 Muslimah_HTI Provinsi Bengkulu “Mewujudkan Intelektual Qur’ani Dambaan Umat”







Sebagai bentuk perhatian  kepada intelektual muslim, Divisi Kampus Muslimah HTI DPD I Provinsi Bengkulu menyelenggarakan FORMASI (Forum Mahasiswi Ideologis) dengan tema “Mewujudkan Intelektual Qurani Dambaan Umat. Acara ini dihadiri tidak kurang 25 peserta mahasiswi dari berbagai kampus. Siti Soleha Mansur yang merupakan aktivis mahasiswi Univeritas Bengkulu adalah  narasumber pertama  yang membawakan materi dengan tema “Back To Qur’an, Back To Muslim Identity”.  Di kala intelektual muda hanya disibukkan dengan urusan mereka masing-masing dan  hanya menghabiskan waktu mereka untuk menikmati kesenangan semata. Ternyata masih ada intelektul muda yang sedang berusaha memperbaiki diri untuk menjadi intelektual Qurani, paparnya.  Siti Soleha menyampaikan bahwa Intelektual Muda sudah seharusnya menjadi garda terdepan dalam perubahan. Untuk bisa mewujudkan perubahan yang hakiki maka perubahan itu harus didasari pemikiran Islam. Untuk itu  intelektual muda muslim harus kembali kepada Al-Qur’an dan kembali kepada Identitas Islam. Siti Soleha mengajak intelektual muslim mencintai Al-Qur’an dengan bukti 5 M yaitu mengimaninya, membacanya, memahaminya, mengamalkannya,  mengajarkannya serta mendakwahkannya. Intelektual muslimah sejati, merekalah yang menjadikan Al Quran sebagai pedoman hidup dan menjadikan  Al Quran sebagai rujukan dalam membawa umat Islam menuju perubahan yang hakiki.

Selanjutnya Nining  Tri Satria, S.Si sebagai narasumber kedua menyampaikan materi dengan tema  “Intelektul Muslim : Dengan Qur’an, Bawa Perubahan, Wujudkan Islam Kaafah”. Intelektual Muda Muslim haruslah memiliki sikap bawa perubahan. Tentunya bawa perubahan dengan Al-Qur’an untuk  mewujudan Islam Kaaffah, tukasnya.   Nining menegaskan kembali bahwa Islam tidak hanya mengatur masalah Ibadah saja, tetapi Islam mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam itu adalah agama yang paripurna  sebab Islam  mengatur hubugan manusia dengan Allah SWT, mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, juga mengatur bagaimana hubungan manusia dengan manusia lain. Di akhir materi, Nining  mengajak Intelektual Muda Muslim untuk kembai kepada Al-Qur’an Wujudkan Islam Kaafah melalui tegaknya Khilafah.  Caranya adalah mengajak intelektual muslim untuk  mengaruskan aktivitasnya dengan ilmu, mengaji dan berdakwah.

Acara ini dilaksanakan pada Hari Minggu, 27 November  2016 di Hotel Samudra Dwinka Kota Bengkulu.  

Acara ini dilaksanakan sebagai  bentuk syiar Islam di kalangan mahasiswi muslim  untuk terus menerus menyerukan Islam Kaafah.  Peserta begitu semangat dan antusias dalam mengikui acara hingga selesai.

Acara ini juga diliput oleh media online BengkuluTodays.


http://bengkulutoday.com/hti-bengkulu-dukung-aksi-damai-bela-islam-iii-2-desember 

Wallahu a’lam.

Senin, 31 Oktober 2016

Reportase Diskusi Terbatas Tokoh Forum Mutiara Peradaban DPD I Muslimah HTI Bengkulu Hari Minggu Tanggal 30 Oktober 2016


















Dilatarbelakangi keprihatinan terhadap tingginya angka perceraian dan incest di Bengkulu, DPD I Muslimah HTI Bengkulu menyelenggarakan Diskusi Terbatas Tokoh Forum Mutiara Peradaban (FORMUDA) dengan tema “Peran Strategis Mubalighah (Majelis Taklim dan Organisasi Masyarakat Islam) Dalam Menyelamatkan Keluarga dan Generasi”.   Acara ini diadakan pada Hari Minggu tanggal 30 Oktober 2016 bertempat di Aula Anggrek Hotel Samudera Dwinka Kota Bengkulu.

Dalam penyampaian materi pertama dengan tema Strategi Penghancuran Keluarga Muslim, Ustadzah Fitri Andusti  menyampaikan bahwa keluarga-keluarga muslim yang bahagia terancam  mengalami degradasi.  Berdasarkan data, sepanjang tahun 2015,  perceraian di Bengkulu mengalami peningkatan yang signifikan.  Imbasnya perceraian ini berdampak pula  terhadap kenakalan remaja di Bengkulu seperti tawuran, narkoba dan pergaulan bebas.  Dan yang lebih memprihatinkan, kasus pelecehan seksual dari kerabat  dekat (incest)  di Bengkulu menem pati posisi tertinggi di Indonesia.
Kapitalisme dan sekularisme  yang dibawa oleh  negara-negara kafir barat merupakan penyebab terjadinya  penghancuran  keluarga  muslim.  Negara-negara kafir barat benar-benar ingin memastikan bahwa tatanan masyarakat (muslim) di masa depan adalah masyarakat liberal.  Yakni masyarakat yang tidak lagi menjadikan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan termasuk berkeluarga.  Dalam menjalankan rencana kejinya, negara-negara kafir barat memakai  jargon-jargon gender/kesetaraan perempuan, pengentasan kemiskinan perempuan, penghapusan diskriminasi perempuan, menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan sebagainya.  Sesungguhnya ada tujuan besar yang sudah dirancang Barat.  Tujuan semua ide-ide gender yang disusun dari kesepakatan-kesepakatan  gender itu  tiada lain adalah untuk tadmir al usroh al muslimin.  Ya, untuk menghancurkan keluarga muslim,  bukan untuk memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi perempuan dan keluarganya.

Problem sistemik yang menimpa umat tidak boleh dibiarkan.  Kerusakan yang terjadi sudah sedemikian mengerikan, mengancam peran dan fungsi keibuan, merusak identitas generasi muda dan menghancurkan keluarga.  Solusi paripurna yang mampu menuntaskan problem ini hanyalah solusi yang bersifat sistemik pula.  Solusi yang berasal dari sebaik-baik Pencipta manusia.
Karena itu  Ustadzah Fitri menghimbau perlu membangun kembali Khilafah Islam yang akan mampu mewujudkan kembali masyarakat Islam, sebagaimana yang pernah dibangun Rasulullah SAW  pasca Hijrah. Khilafah akan mengantarkan umat ini meraih kembali kemuliaan dan kejayaannya, sebagaimana pada masa lalu.

Pada materi kedua yang berjudul Peran Politik Mubalighah Dalam Menyelamatkan Keluarga dan Generasi, Ustadzah Indah Kartika Sari, SP selaku Ketua DPD I Muslimah HTI Bengkulu mengajak para hadirin yang merupakan mubalighah, pengurus dan penggerak majelis  taklim dan ormas Islam untuk   bersama-sama berdakwah dan berjuang menegakkan  Khilafah. Khilafah sebagai benteng umat  akan menjaga individu tetap terpelihara ketakwaan, keluarga tetap kokoh karena terfungsikan dengan benar, masyarakat tetap terjaga sebagai mesin kontrol penguat ketaqwaan dan negara pun menjadi penjaga umat dari celah kerusakan.

Untuk memperjuangkan tegaknya Khilafah tentu saja harus kembali kepada metode yang dicontohkan Rasulullah.  Disinilah peran MT dan ormas Islam mengembalikan khiththahnya kepada pembinaan-pembinaan yang mengarahkan umat agar kembali kepada ajaran Islam yang kaafah. 
Di akhir penjelasannya Ustadzah Indah mengingatkan peran sentral ulama dan mubalighah diantaranya  sebagai pewaris para nabi yaitu sebagai penjaga agama Allah SWT dari kebengkokan dan penyimpangan.  Para ulama, muballigh dan muballighah juga sebagai pembimbing, pembina dan penjaga umat serta memberi petunjuk dan menerangi umat sehingga umat tertunjuki pada jalan yang benar. Selain itu ulama adalah orang yang fakih dalam masalah halal-haram. Ia adalah rujukan dan tempat menimba ilmu sekaligus guru yang bertugas membina umat agar selalu berjalan di atas tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Yang lebih penting, kata beliau, ulama/mubaligh/mubalighah berperan sebagai pengontrol penguasa. Dengan keempat peran strategis inilah maka umat Islam akan meraih izzahnya kembali.

Acara ini  dihadiri lebih kurang 57 mubalighah dari kalangan pengurus dan penggerak MT dan ormas Islam di Kota Bengkulu.  Pada sesi  diskusi, terihat antusiasme peserta yang menanyakan berbagai pertanyaan seputar  keluarga, khilafah, politik serta kiprah MHTI. Ini menunjukkan animo perjuangan syariah dan khilafah sudah mulai dirasakan oleh para mubalighah di Provinsi Bengkulu.


Selasa, 25 Oktober 2016

Reportase Seminar Mahasiswi Islam Untuk Peradaban (SMIP) DPD 1 Muslimah_HTI_Provinsi_Bengkulu “Reaktualisasi Peran Intelektual Muda Dalam Mewujudkan Kembali Peradaban Islam”















Muslimah HTI Dewan Pimpinan Daerah I Provinsi Bengkulu menyelenggarakan Seminar Mahasiswi Islam Untuk Peradaban  dengan tema  “Reaktualisasi Peran Intelektual Muda Dalam Mewujudkan Kembali Peradaban Islam”  Acara ini dihadiri kurang lebih 300 peserta dari kalangan mahasiswi, para intelektual muda.

Drg. Wardah Samanhudi sebagai narasumber pertama dengan tema “Potensi dan Tantangan Khilafah Abad 21”. Beliau  menyampaikan bahwa Islam telah menorehkan sejarah luar biasa sepanjang kehidupan manusia. Dengan penerapan Islam kaffah dalam naungan khilafah, Islam telah menguasai hampir 2/3 dunia, kaum muslim menjadi kaum terbaik dan menghasilkan pemuda luar biasa pencetus keilmuan modern yang ilmunya menjadi rahmat untuk semesta alam. Akan tetapi saat ini umat muslim terpecah belah menjadi berbagai negara atas tangan penjajah sehingga kaum muslimin tidak lagi menjadi kaum terbaik. Oleh karena itu, kita harus kembali menyatukan kaum muslim d bawah naungan khilafah. Hanya dengan khilafah kaum muslim mampu menerapkan Islam kaffah dan menjadi umat terbaik, paparnya.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah I Muslimah HTI Provinsi Bengkulu, Indah Kartika Sari, SP sebagai narasumber kedua, beliau menyampaikan bahwa Khilafah merupakan kewajiban dan kebutuhan bagi umat muslim, juga wajib memperjuangkannya. Banyak cara yang telah kaum muslimin lakukan untuk memperjuangkannya tetapi mengalami kegagalan. Sehingga ketika kita ingin mewujudkan kehidupan Islam dibawah naungan Khilafah, kita harus menggunakan metode shahih yang telah dicontohkan Rasulullah. Yaitu tasqif (pembinaan), tafa’ul ma’al umah (interaksi dengan umat), dan tathbiq akhkamul islam (penerapan hukum Islam).

Pemuda memiliki peran besar dalam melakukan perubahan dunia. Beliau menyeru pemuda untuk bangkit, mewujudkan peran intelektual muda untuk mewujudkan kembali peradaban Islam di bawah naungan Khilafah. Terakhir, Beliau menyeru mahasiswi untuk mengubah perilaku hidup mahasiswi menjadi Buku, Ngaji dan Dakwah.

Acara ini dilaksanakan pada hari Minggu, 23 Oktober 2016 bertepat di Hotel Samudera Dwinka Kota Bengkulu. Acara ini dilaksanakan sebagai  bentuk  syiar Islam di kalangan mahasiswi muslim. Peserta begitu semangat dan antusias dalam menyimak pemaparan materi.  Pertanyan demi pertanyaan diutarakan para intelektual muda adalah sebagai bentuk ke-antusiasan mereka dalam mengikut acara Seminar Mahasiswi Islam Untuk Peradaban. Dan fokus dalam mengikuti tahapan acara demi acara.

Tak hanya itu, 10 media lokal  baik cetak maupun online turut meliput dan menurunkan  berita Seminar Mahasiswi Islam Untuk Peradaban.




Wallahualam.

Pemuda Islam : Think About Palestine Not Valentine

Oleh Najmah Jauhariyyah (Pegiat Sosial Media Bengkulu) Manusia adalah makhluk yang mampu berfikir.  Dengan berfikir manusia menjadi makhlu...